feminiskah?

Kemaren gw lagi googling di Lab (gw lupa lagi googling dalam rangka apa), tau2 gw nemu blog seorang mahasiswa ITB. Di postingan paling baru, berjudul “Dipimpin tulang rusuk”. Tertarik dengan judul tersebut, akhirnya gw menyempatkan diri ngebaca isi postingan itu.

Ternyata postingan itu berisi ttg berita terpilihnya Ketua KM ITB (Keluarga Mahasiswa ITB) yang baru, yang ternyata seorang perempuan. Sang blogger menyebutkan bahwa dirinya memang setuju dengan anggapan bahwa wanita memang tidak pantas untuk menjadi pemimpin. Bahkan ia juga menampilkan sebuah foto hasil jepretannya yang katanya ada di wilayah kampus ITB. Fotonya klik di sini ajah.

Ternyata menurutnya, di kampus ITB sendiri terjadi banyak pro dan kontra atas terpilihnya Ketua KM ITB yang baru tersebut. Banyak pihak yang merasa bahwa perempuan tidak pantas untuk menjadi pemimpin, terutama memimpin laki-laki.

Gw jadi miris ngebacanya. Aneh. Tanpa bermaksud menggeneralisasikan ya, tapi koq gw jadi beranggapan bahwa ternyata tingkat intelektualitas tidak berhubungan dengan tingkat pemahaman sosial, terutama dengan isu persamaan gender. Buktinya, di kampus sebesar dan sehebat ITB, yang gw yakin mahasiswanya pasti bukan mahasiswa sembarangan, ternyata pemikirannya masih kolot.

Gw berpikir, emang ada yang salah kalo cewe jadi pemimpin? Kalo cewe itu punya integritas, punya kemampuan, dan emang bisa jadi pemimpin, kenapa ngga? Apakah kalo cowo yang jadi pemimpin, maka udah bisa dipastikan segala sesuatu bakalan beres? Gimana kalo ternyata tuh cowo goblok, dan ngga bisa membawa organisasi yang dia pimpin ke arah yang bener. Siapa yang disalahin?

Menurut gw, masalah pemimpin-pemimpinan, ngga ada yang namanya cowo lebih pantes daripada cewe. Ngga ada sama sekali. Cewe punya kelebihan tersendiri dibanding cowo, dan cowo juga punya kelebihan dan kelemahannya sendiri. Coba itung, di negeri ini aja, ada ngga pemimpin cewe, atau mentri perempuan, yang terbukti melakukan korupsi? Coba bandingin angkanya sama pemimpin cowo yang korupsi, kolusi, kawin lagi, selingkuh, dan lain-lain. Lebih gede mana? Itu disebabkan tuntutan dan sifat dari kedua jenis kelamin tersebut memang berbeda, meski memang tetap harus kembali ke sifat asli orang tersebut.

Terlepas dari itu, yang namanya pemimpin seharusnya tidak mengenal gender. Perempuan ataupun laki-laki, itu semua harus kembali ke kemampuan dan kapabilitas personal orang tersebut, bukan jenis kelaminnya. Seharusnya kita sebagai manusia modern, sebagai mahasiswa (khususnya kalian wahai mahasiswa ITB), berpikirlah dengan bijak. Apakah pantas menjudge bahwa hanya laki-laki saja yang pantas memimpin? Kalau begitu mengapa Tuhan menciptakan 2 jenis kelamin? Kenapa tidak satu saja?

Seharusnya kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, bukan menghujat ataupun menghakimi, seperti yang dilakukan oleh penempel poster tersebut. Kalau memang kali ini giliran perempuan yang memimpin, ya mari didukung. Seperti gw bilang tadi di atas, masing-masing jenis kelamin punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, pahamilah, bahwa semua manusia adalah sama hak dan kedudukannya.

Btw, kalo mau tau yang mana Presiden KM-ITB-nya, ini blognya!