cin(T)a

“Kenapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, jika Ia hanya mau disembah dengan satu cara?” (Annisa: 2009)

Sebuah penggalan dialog dari film cin(T)a (2009), yang membawa kami ke dalam sebuah diskusi. Diskusi yang memiliki topik yang sangat dalam, namun harus dibahas dengan kepala dingin, untuk meminimalisir konflik yang (sangat) mungkin terjadi.

cin(t)aLakum diinukum waliya diin” (Your way is yours, and my way is mine. al-Kafirun). Agamaku untukku, agamamu untukmu. Teman saya yang beragama Islam, mengingatkan saya mengenai konsep ini. Konsep yang seharusnya menjadi landasan perdamaian antar umat beragama. Konsep yang mungkin terkadang dilupakan, bukan hanya oleh umat Muslim, namun juga umat Kristen, Katolik, dan agama lainnya di dunia.

Tapi kami tidak membahas mengenai dakwah, kristenisasi, ataupun gerakan-gerakan lainnya. Kami membahas mengenai cinta. Cinta yang di film cin(T)a dibahas dengan blak-blakan, untuk memaparkan realita hubungan beda agama, yang kini sudah sangat umum terjadi.


Karena itulah Tuhan menciptakan cinta. Supaya kita yang berbeda-beda ini menjadi satu.” (Cina: 2009)

Jadi, Tuhanlah yang menciptakan cinta. Lantas, siapa yang menciptakan agama? Tuhankah? Sayangnya, manusialah yang menciptakan agama (Karl Marx:1844). Agama dibentuk sebagai sarana manusia mengenal Penciptanya. Agama banyak disesuaikan dengan letak geografis, dengan adat istiadat, sesuai dengan daerah asal perkembangan agama tersebut. Agama tidak ubahnya sebuah “alat” manusia untuk membenarkan dirinya, dan untuk menghakimi orang lain.

Agama seharusnya menjadi jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Tapi yang terjadi, terkadang agama justru menjadi perusak hubungan manusia dengan sesamanya. Hubungan vertikal oke, tapi jika hubungan horizontalnya bermasalah, maka apa arti hubungan vertikalnya? Dalam konsep kristen, salib menggambarkan hal tersebut. Satu garis vertikal, menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Garis horizontal, menggambarkan hubungan manusia dengan sesamanya. Keduanya harus saling mengisi, supaya tercipta bentuk salib yang sempurna.

Begitu pula 10 perintah Tuhan. 4 perintah awal, adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. 6 perintah berikutnya, adalah mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia. Itu juga isi dari hukum kasih. Kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati. Tapi juga mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Maka, apakah solusi untuk hubungan beda agama adalah dengan pindah agama? Bukankah agama hanyalah ciptaan manusia, sedangkan cinta adalah ciptaan Tuhan? Apakah dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa cinta lebih tinggi derajatnya ketimbang agama? Apakah dengan demikian, maka agama tidak lebih penting ketimbang cinta? Dan apakah dengan cinta, maka kita bisa mengenal Sang Pencipta? :)

Teman saya tadi berpendapat, bahwa langkah pertama untuk hubungan beda agama tersebut adalah dengan mengenali lebih jauh mengenai perasaan yang dirasa. Apakah memang itu cinta? Atau hanya kagum, suka, atau motif-motif lainnya? Dan jika memang benar itu cinta, maka biar cinta itu yang menjadi solusinya, nanti. Jika memang benar perasaan yang dirasa itu adalah cinta, maka pasti akan ada jawaban terbaik nantinya.

Saya yakin, Tuhan tidak buta. Dan Tuhan juga tidak bingung dengan ciptaannya. Toh manusia yang menciptakan agama, adalah juga ciptaan-Nya. Dia lah yang memberikan akal dan pengetahuan akan hal baik dan hal buruk kepada manusia. Dia juga yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkembang. Dan dia pula yang memberikan manusia perasaan, untuk dapat merasakan cinta.

“Yakin lo masih mau sama gw? Tuhan gw aja berani gw khianatin, apalagi elo ntar..” (Annisa: 2009)

Dan statement inilah yang rasanya memberikan jawaban paling tepat. Paling rasional. Ketika pindah agama adalah sebuah tindakan “pengkhianatan” terhadap Tuhan, maka agama telah dianggap sebagai “Tuhan” itu sendiri. Padahal, siapakah manusia, sehingga membatasi Tuhan yang tidak terbatas? Padahal, siapakah manusia, sehingga merasa berhak menyimpulkan pemikiran Tuhan yang sebetulnya tidak mampu kita pikirkan?

Namun di satu sisi, jika komitmen kita terhadap agama yang kita pilih (ya, yang kita pilih ya, bukan yang dipilihkan oleh orang tua kita – mungkin pembahasannya di kesempatan lain :) ) dapat kita langgar, apalagi komitmen kita dengan orang lain. Padahal agama begitu statis, saklek, tidak banyak perubahan dan tuntutan yang aneh-aneh terhadap pemeluknya, sedangkan manusia begitu dinamis, penuh tuntutan yang sangat sering berubah, butuh usaha yang keras untuk dapat memahaminya. Jika pada agama yang statis saja kita tak mampu berkomitmen, apalagi pada manusia yang sangat dinamis?