if God was One of Us

If God had a name, what would it be?
And would you call it to his face?
If you were faced with him in all his glory,
What would you ask if you had just one question?

And yeah yeah, God is great
Yeah yeah, God is good
Yeah yeah yeah yeah yeah..

What if God was one of us?
Just a slob like one of us?
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home?

If God had a face what would it look like?
And would you want to see
If seeing meant that you would have to believe
In things like heaven and in Jesus and the saints and all the prophets?

And yeah yeah, God is great
Yeah yeah, God is good
Yeah yeah yeah yeah yeah..

What if God was one of us?
Just a slob like one of us?
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home?
He’s trying to make his way home
Back up to heaven all alone
Nobody calling on the phone
Except for the pope maybe in Rome..

Joan Osborne, “One of Us” (1995)

Membaca sebagian lirik lagu ini di timeline @imgracey dan @hotradero, membuat saya sedikit berpikir mengenai makna lagu ini. Dinyanyikan oleh seorang penyanyi country wanita di tahun 1995 lalu, lagu lama ini sebenarnya pernah saya dengarkan ketika zaman kakak-abang saya masih remaja dulu. Namun setelah membaca dengan baik liriknya, maka muncul pula pertanyaan yang sama di benak saya: what if God was one of us?

Pernahkah anda membayangkan, seperti apa sebenarnya Tuhan itu? Adakah wujudnya? Apakah seperti di lukisan The Last Supper? Atau pria berjanggut yang digambarkan berdarah-darah di ukiran-ukiran salib? Apakah Ia berkulit hitam? Atau mata-Nya sipit? Atau yakinkah anda bahwa Ia adalah laki-laki seperti yang banyak orang percayai selama ini? Apakah Tuhan memiliki jenis kelamin?

Dan bagaimana jika Tuhan ternyata tak berwujud, dan manusia dapat membentuk gambarannya masing-masing mengenai Tuhan, seperti yang mereka inginkan? Bukankah itu artinya bahwa kita lah yang menciptakan “tuhan”, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia?

Dan berpikirlah lebih sederhana lagi : bagaimana jika Tuhan adalah salah satu dari kita? Bisa saja ayah Anda, atau ibu saya, atau seorang nenek miskin di pinggir jalan, atau seorang saudagar kaya dari India, atau gembala sidang sebuah gereja besar di ibukota, atau seorang supir metromini, atau seorang pria di samping anda saat ini.

Sebenarnya, statement ini adalah sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Sebuah pertanyaan yang hanya akan menabrakkan iman dengan logika anda, yang mana tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab ketika anda bertemu dengan-Nya. Dan ketika anda sudah tahu jawabannya, apakah ada yang bisa dilakukan lagi?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s