jobless

Jembatan busway Kuningan Barat, 21.35 WIB.

Sembari berjalan santai menuju shelter busway yang akan membawa saya ke arah UKI, tak sengaja saya melihat seorang mbak dengan pakaian rapih melangkah lesu di depan saya. Di tangannya tertumpuk beberapa amplop coklat ukuran F4. Di tumpukan paling atas, ada sebuah brosur yang membuat saya mengingat masa-masa dulu : brosur jobsdb.com. Ah, dia baru dari career day sepertinya.

Kaki yang mati rasa, mungkin itu yang dia rasakan. Atau mungkin perasaan kecewa karena tingginya syarat perusahaan yang diincar. Atau perasaan deg-degan menunggu telpon untuk janji tes tertulis atau wawancara dari perusahaan yang tadi dititipkan CV olehnya. Atau lelah karena ini adalah career day kesekian kalinya untuk dia. Dan ia sudah mulai putus asa? Mungkin saja.

Anda pernah mengalami? Selamat untuk anda-anda sekalian yang sudah dapat pekerjaan tanpa harus berjibaku di career day. Atau yang tanpa harus berkutat dengan rasa malu dan minder karena belum dapat pekerjaan juga setelah 6 bulan lulus kuliah. Atau yang tanpa harus mencari pekerjaan, malah ditawari oleh perusahaan bonafid? Ah, beruntung sekali! :)

Masih lekat di kepala saya bagaimana saya, gre dan yesshe tur keliling career day selang beberapa bulan kami lulus. Di kampus, di UI, hingga di Balai Kartini. Membawa 10 set CV, transkrip dan Surat Keterangan Lulus plus softcopynya di dalam flashdisk. Berbaris sejak pagi supaya tidak terlalu padat. Pulang dengan harapan-harapan yang timbul tenggelam. Cemas. Ragu.

Toh akhirnya saya dan teman-teman tidak mendapatkan pekerjaan dari career day yang kami ikuti. Saya di E&Y hasil titip CV ke senior. Gre jadi guru Bahasa Inggris di ILP dari lowongan di internet. Yesshe di Kompas Gramedia Bandung juga bukan dari jobfair dan sejenisnya. Tapi setidaknya saya pernah merasakan apa yang mbak tadi rasakan. Perasaan ingin “dihargai”. Keinginan membuktikan diri. Atau tuntutan keluarga yang terlampau tinggi. Atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi, yang akhirnya membuat saya stres sendiri.

Perasaan jobless dan “tidak berguna” itu sebenarnya yang paling mengganggu. Sebagai seorang fresh graduate (saat itu), tentunya idealisme sedang tinggi-tingginya, apalagi melihat teman-teman lain sudah memiliki pekerjaan yang baik. Pilih-pilih tempat kerja dan institusi, jabatan, development program, dan lain2, yang toh akhirnya akan ditinggalkan pula ketika bulan demi bulan berlalu tanpa ada pekerjaan yang “nyangkut”. Pemikiran “ya udahlah kerja apaan aja yang penting kerja” terkadang muncul setelah 6 bulan lebih menganggur. Perasaan tidak enak pada orang tua karena berada di rumah sepanjang hari, malah menambah tingkat stres karena belum juga mendapatkan pekerjaan.

Dan saya bersyukur saya pernah mengalaminya. Sama seperti ide bahwa orang baik itu ada karena ada orang jahat. Oposisi biner. Maka saya pun beryukur karena pernah mengalami jobless, hingga akhirnya saya sungguh bersyukur dengan pekerjaan yang saya miliki saat ini. Betapa keluhan karena pekerjaan tidaklah pantas saya ungkapkan, karena saya tahu bagaimana rasanya belum punya pekerjaan dan luntang-lantung di rumah seharian. Stres. :)

Semoga mbak tadi dihubungi oleh perusahaan yang dia lamar yah. Saya juga lagi mau lamar-lamar nih. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s