Percayakah?

Jadi ceritanya ada seorang lelaki pemain sirkus yang sedang membuat pertunjukkan. Dia gembar-gembor akan melintas di atas air terjun Niagara, dari satu sisi ke sisi lainnya, hanya dengan menggunakan seutas tali.

Penonton tampak kurang yakin. Mana mungkin ada orang bisa berjalan di atas tali, melintasi air terjun Niagara?

Dengan semangat si pemain sirkus menyiapkan perhelatannya. Berbekal semua keyakinan yang ia punya, ia pun memulai perjalanan melintas air terjun Niagara. Semua penonton menatap dengan khawatir.

Langkah demi langkah, dengan penuh ketenangan, si pemain sirkus berjalan di atas tali. Penonton menahan nafas, seakan menantikan saat-saat si pemain sirkus akan jatuh ke aliran air yang deras.

Tapi toh si pemain sirkus tidak gentar. Maju dengan keyakinan yang tinggi, ia tinggal beberapa langkah lagi sebelum sampai di sebrang. Dan dia berhasil. Kakinya menapak dengan mantap di sisi sebrang air terjun.

Penonton bertepuk tangan dengan gegap gempita. Seakan tidak percaya, ternyata ada seorang pemberani yang berhasil menyebrangi air terjun tersebut. Seruan selamat dan bravo terus berkumandang.

Si pemain sirkus kemudian menantang penonton, yang sekaligus pula menantang dirinya sendiri.

“Saya akan melintasi tali ini sekali lagi, tapi kali ini dengan mata tertutup!” katanya pada penonton. Penonton yang awalnya ragu, kini merasa yakin bahwa si pemain sirkus dapat melakukannya.

“Apakah menurut kalian saya bisa melakukannya?” tanya si pemain sirkus pada para penonton. Segenap penonton menjawab dengan semangat “PASTI BISA!”. Maka majulah si pemain sirkus ke tepian tali tersebut.

Dengan menggunakan kain gelap, ia menutup matanya. Kakinya mulai meraba tali, memastikan pijakannya mantap. Sedikit demi sedikit, ia maju. Menjaga keseimbangan, namun kali ini jauh lebih sulit karena ia tidak dapat melihat. Penonton menatap dengan was-was, meski masih yakin si pemain sirkus akan bisa sampai di sebrang dengan selamat.

Waktu terasa begitu lambat, namun si pemain sirkus terus perlahan maju. Tak terasa, ia sudah akan sampai di ujung tali. Penonton mulai bersorak, bertepuk tangan memberikan semangat. Yang awalnya ragu, kini menjadi berbalik yakin bahwa si pemain sirkus akan sampai.

Hup!

Sampailah ia dengan selamat di sebrang. Tepukan tangan dan ucapan selamat terus bergema. Para penonton berdecak kagum, takjub dengan kelihaian dan keberanian si pemain sirkus.

Sambil menenangkan penontonnya, ia menantang para penonton sekali lagi.

“Nah, kali ini apakah kalian percaya bahwa saya akan mampu menyebrangi tali ini sekali lagi dengan menggendong orang di punggung saya?”

“PERCAYA!” teriak para penonton bersemangat. Dengan apa yang telah mereka saksikan, tak ada keraguan lagi bahwa si pemain sirkus pasti bisa dengan mudah menyebrang lagi.

“APAKAH KALIAN YAKIN SAYA PASTI BISA SAMPAI DI SEBRANG DENGAN SELAMAT?!” tanya si pemain sirkus sekali lagi, meminta keyakinan penontonnya.

“YAKIN!!” seru para penonton sambil terus bertepuk tangan.

“Maka saya minta salah satu relawan dari para penonton untuk menemani saya untuk menyebrang!” teriak si pemain sirkus.

Penonton terkejut. Perlahan mereka berhenti bertepuk tangan, dan saling berpandang-pandangan. Tidak ada seorang penonton pun yang bersedia. Penonton hanya diam menunggu ada seseorang penonton nekat yang bersedia menyebrang dengan si pemain sirkus.

Anyone?” tanya si pemain sirkus ke kumpulan penonton. Tapi tak ada jawaban. Hening.

Dari sela-sela penonton, muncul seorang anak perempuan kecil mengacungkan tangan. “Saya!” katanya mantap. Seluruh mata memandang gadis kecil tersebut. Anak umur 9 tahun yang antara nekat atau bodoh, begitu mungkin yang dipikirkan oleh para penonton tersebut.

“Ah, gadis kecil. Mari naik ke punggung saya.” kata si pemain sirkus. Gadis kecil tadi dengan lincah melewati jejeran penonton, dan kini telah siap untuk menaiki punggung si pemain sirkus. Dengan mengatur posisi sebentar, kini si gadis kecil telah berada di punggung pemain sirkus.

Penonton ketakutan. Sesungguhnya mereka khawatir akan nasib gadis kecil dan pemain sirkus tersebut. Apakah mungkin mereka bisa sampai ke sebrang? Dengan bobot yang lebih berat? Dengan kemungkinan si gadis panik dan membuat mereka menjadi tak seimbang? Mungkinkah?

Tapi si pemain sirkus dengan mantap melangkah maju. Gadis kecil tersebut mendekap mantap ke tubuh si pemain sirkus.

Langkah demi langkah mulai dibuat. Maju perlahan, dengan sesekali berhenti karena si pemain sirkus harus mengatur keseimbangannya.

Sebagian penonton menutup mata. Wajah mereka diliputi kekalutan. Mereka tidak ingin menjadi saksi tewasnya si pemain sirkus dengan seorang penonton, di tengah aliran deras air terjun.

Semua mata tertuju pada mereka. Namun langkah si pemain sirkus tidak menyiratkan kekhawatiran. Dengan pasti, ia maju melanjutkan perjalanannya, hingga hanya berjarak beberapa meter dari tepian.

Penonton bersorak-sorak memberi semangat. Yang tadinya menutup muka mulai berloncatan kegirangan. Yang awalnya menangis, mulai bertepuk tangan melihat perjuangan si pemain sirkus sudah hampir mencapai puncaknya.

Dan dengan beberapa langkah, sampailah si pemain sirkus dan gadis kecil di punggungnya di tepi lain air terjun. Tepuk tangan dan teriakan gembira membahana. Orang-orang tak berhenti mengucapkan decak kagum pada si pemain sirkus, dan tentunya gadis kecil pemberani tersebut.

Mereka baru saja menjadi saksi kehebatan seorang pemain sirkus, yang dengan tangkas dan berani telah memberikan suguhan yang memacu adrenalin mereka. Ucapan selamat terus mengalir.

Seorang dari stasiun televisi yang sedari tadi merekam momen tersebut, menghampiri si gadis kecil dan memberikan selamat. Kekagumannya tidak berhenti, dan rasa penasaran membuat si reporter bertanya apa alasan si gadis kecil untuk berani ikut pada si pemain sirkus.

“Buat apa saya takut,” kata gadis kecil tersebut. “Ia  ayahku, dan aku yakin ia tidak akan membiarkan kami berdua jatuh ke air terjun.” katanya sembari menunjuk si pemain sirkus.

Cerita klasik ini kembali saya dengar dari Pak Pendeta, ketika ibadah Minggu yang lalu. Dalam duduk saya di bangku gereja, saya tertunduk karena cerita sederhana ini terasa menegur saya. Dengan keras. Ouch.

Tuhan yang dianalogikan sebagai pemain sirkus dalam cerita di atas, seringkali hanya saya anggap sebagai seorang “performer”, tidak lebih. Iya, Dia hebat. Iya, Dia pencipta segalanya. Iya, Dia bisa melakukan mujizat dan sebagainya. Iya, saya kagum padaNya.

Tapi ya udah, sebatas itu saja. Sekedar bertepuk tangan dan mengelu-elukan. Sekedar terhibur dan menganggap semuanya hanyalah pertunjukkan.

Maka ketika Ia mengajak saya untuk ikut terlibat dalam “pertunjukkan”Nya, saya ragu. Ada rasa khawatir. Ada rasa enggan terlibat. Ada pemikiran “lebih enak jadi penonton”. Ada perasaan tidak percaya pada kemampuanNya.

Iman saya, hanyalah iman seorang penonton.

Keyakinan saya tidak seperti si gadis kecil, anak si pemain sirkus. Keyakinan saya tidak sepasrah si anak kecil terhadap kemampuan ayahnya. Keyakinan saya tidak sekuat keyakinan si anak bahwa si ayah tidak akan membuat mereka jatuh.

Padahal saya panggil Dia “Bapa”. Tapi saya memperlakukanNya seperti “Pemain Sirkus”. Duh.

One thought on “Percayakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s