Mimpi ToBa Dreams

“Duh, aku pengen banget deh nonton film Toba Dreams itu….” ucap Ibu saya entah ditujukan kepada siapa. Padahal, di rumah hanya ada saya dan Bapak yang sedang menonton TV – dan tentunya tidak menyimak pernyataan Ibu saya.

Saya, yang telah melihat trailer film tersebut beberapa waktu lalu, benar-benar tidak tertarik untuk menontonnya. Film Indonesia yang terakhir saya tonton adalah sebuah film “indie” karya Richard Oh, yang amburadulnya setengah mati. Jadi, saya masih trauma dengan film lokal.

“Itu, di Cipinang Indah kayaknya ada deh itu filmnya….” kata Ibu saya (lagi) sekitar satu jam kemudian. Saya, (masih) pura-pura tidur.

Menjelang sore, saya pun bersiap ibadah. Si Ibu dengan sigapnya mandi dan bebersih, dan minta ikut ibadah sore. Waduh, runyam ini urusannya. Di perjalananpun beliau masih semangat melihat jadwal film tersebut.

“Adanya jam 21.15 nih Men…”

“Wah malem banget Ma. Nanti kasian ah mama ngantuk..”

“Ah ngga koq.. Gapapa jam segitu koq aku, masih kuat….”

Yaaaa mau gimana lagi. Huft. Mobil pun saya belokkan ke Cipinang Indah Mall dan memesan tiket film tersebut jam 21.15. Kejebak saya.

Sambil makan (lagi-lagi ditodong emak), saya mencoba browsing tentang film tersebut. ToBa Dreams. Film yang diangkat dari novel karya TB Silalahi. TB Silalahi ini pernah jadi mentri di jaman SBY, beberapa saat setelah pensiun dari TNI.

tobadreamsMenurut mama saya, TB Silalahi ini memang seorang penggiat seni. Drama Natal, cerita pendek, novel agamis, novel adat, dan karya lainnya merupakan kegemaran TB Silalahi. Ngga heran, di film ini TB juga menjadi asisten sutradara.

Okelah, pikir saya. Film tentang adat Batak, mudah2an menyenangkan. Apalagi ada Marsha Timothy-nya.

Film dibuka dengan adegan ketika TB Silalahi (Mathias Muchus) pensiun dari angkatan, dengan pangkat Sersan Mayor. Ketika kembali ke rumah dinas, mereka berunding untuk meninggalkan rumah dinas dan kembali ke kampung. Si sulung, Ronggur (Vino Bastian) menolak dengan keras. Pertengkaran di meja makan pun terjadi, dan ternyata itu hanyalah awal dari konflik bapak-anak yang terus menerus terjadi sepanjang film ini.

Stres. Itulah yang ada di benak saya sepanjang film. Konflik terus menerus terjadi, karena TB dan Ronggur tidak pernah akur sedikitpun. Ronggur pun memilih kabur meninggalkan keluarganya untuk membuktikan diri pada ayahnya. Didikan keras TB ternyata dibalas dengan tidak kalah keras oleh Ronggur.

TB memperlakukan keluarganya seperti prajurit. Suruh ini, suruh itu. Tanpa ada kompromi. Semua yang keluar dari mulutnya, adalah perintah yang harus dituruti. TB bahkan “mengatur” Ronggur agar masuk sekolah pendeta, Sumurung (anak keduanya) agar masuk ke sekolah militer, dan Uli (anak bungsunya) agar bersekolah di SMA elit di Soposurung.

Sesekali, saya melirik pada Ibu saya, yang duduk tenang di kursi sebelah. Kisah ini, sejatinya tidak jauh berbeda dengan kisah Ibu saya. Ayahnya adalah tentara, berpangkat Kolonel. Didikan keluarga ala tentara sebagaimana ditunjukkan dalam film, tidak lebih keras daripada yang pernah ia alami. Saya tahu persis, adegan demi adegan di film ini, mengingatkannya pada mendiang Ompung.

Bedanya, meski yang tentara adalah Ompung Baoa (Kakek), namun didikan sangat keras justru datang dari Ompung Boru (Nenek). Sebagai istri Kolonel, Ompung Boru adalah Jendral di rumah. Menurut cerita, idealisme Ompung Boru sangat tersohor pada jamannya. Itulah kenapa meskipun berpangkat Kolonel, keluarga Ibu saya hidup pas-pasan, persis seperti keluarga TB.

Ibu saya, seorang lulusan SMA terbaik di Medan, SMA 1, sangat berminat pada jurusan Teknik Industri. Bahkan ia mampu membuktikan diri dengan lulus ujian Sipenmaru di jurusan Teknik Industri USU. Tapi 1 semester berjalan, Ompung Boru “memerintahkan” Ompung Kolonel agar memindahkan Ibu ke Fakultas Kedokteran. “Tidak ada anak boru (perempuan) yang kuliah teknik!” begitu alasan Ompung saat itu.

Kembali ke film, Ronggur ternyata memilih jalan yang salah. Bergabung dengan mafia narkotika ibukota, Ronggur meraih kekayaan sebagaimana yang diimpikannya dalam waktu (sangat) singkat.

Melirik kembali ke Ibu saya, nostalgia jelas tergambar dari air mukanya. Kisah ini tidak jauh berbeda dengan kisah abang tertuanya. Memberontak dari orangtuanya, dan hidup tidak karuan. Begitu pula dengan dirinya sendiri, yang akhirnya memilih untuk menikah ke Jakarta ketimbang melanjutkan kuliah Kedokteran di USU.

Batu dilawan batu, maka akan hancur keduanya. Kira-kira sepenggal kalimat itu yang saya ingat ketika menyaksikan bagaimana Ronggur dan TB berselisih. Keduanya hancur, karena saling mempertahankan ego masing-masing. Meski akhirnya kehadiran Choky, anak Ronggur dapat sedikit mencairkan suasana, toh masalah utama dari hubungan yang sudah rusak tersebut tidak tersentuh sama sekali.

Hingga akhirnya Ronggur kembali terjebak ke masa lalunya, dan menjadi buronan polisi. Togar (Boris Bokir), sahabat Ronggur berusaha menyembunyikannya di sebuah keramba di tengah Danau Toba. TB yang membaca berita di koran tentang kelakuan anaknya pun memaksa Togar menunjukkan tempat persembunyian tersebut.

Buat saya, dialog di dalam keramba tersebut merupakan dialog paling jujur di sepanjang film ini. Bagaimana seharusnya kata demi kata tersebut mengalir jauh sebelum semuanya menjadi berantakan. Tentang perasaan si anak diperlakukan tidak adil oleh ayahnya, dan merasa ayahnya tak pernah ada di rumah. Tentang bagaimana perasaan bertanggungjawabnya si ayah atas masa depan anak-anaknya.

“Laki-laki sukses itu bukan yang kaya. Tapi yang selalu menyediakan waktu untuk keluarganya.” begitu pesan film ini. Entah benar entah salah, yang pasti kealphaan sosok seorang ayah dalam keluarga, terkadang memang berdampak sangat buruk. Kematian Ronggur di akhir film membuat saya berpikir, apakah Choky akan mengulang kesalahan ayahnya nanti? Toh pada ahirnya, ia juga kehilangan sosok ayah karena tewas di tangan mafia narkoba.

Buat saya, film ini belum sempurna. Penokohan yang ada sudah sangat baik, hanya saja alur ceritanya agak membingungkan. Sepertinya, cerita, kisah dan konflik yang begitu banyak ingin dijejalkan ke dalam satu buah film. Akibatnya, banyak topik cerita yang kurang terangkat, selain konflik antara bapak dan anak.

hariansib_Perkenalkan-Danau-Toba-Ke-Dunia-DR-TB-Silalahi-Liris-Film----Toba-Dreams--Pemandangan indah Danau Toba, memang tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu daya tarik film ini. Meskipun Ibu saya bilang bahwa Danau Toba-nya tidak tereksplore dengan baik. Sebenarnya, masih banyak angle lain dari Danau Toba yang jauh lebih “menjual”, begitu katanya.

Mimpi dari film ini, adalah mimpi TB Silalahi. Mimpi untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga, mimpi untuk memperbaiki generasi yang akan datang, dan mimpi untuk membangun Danau Toba sebagai daerah wisata. TB mengajarkan kita untuk bermimpi, sebagaimana Togar bilang dalam salah satu dialognya dengan Ronggur : “Kau pikir di Danau Toba ini tak ada mimpi? Punya kapal banyak, punya hotel, menjadikan Danau Toba sebagai tujuan wisata internasional, atau interlokal, itu mimpi kami!”

Seusai film dengan durasi 2 jam 15 menit ini, Ibu saya berjalan keluar tanpa kata-kata. Entah karena pikirannya masih terbang ke nostalgia masa lalunya, atau hanya karena saat itu sudah setengah jam menjelang tengah malam. Parkiran mall telah sepi seluruhnya, tinggal mobil kami yang tertinggal.

Sepenggal kenangan masa lalu pun mungkin masih tertinggal di benak Ibu saya. Saya pun membiarkan dia dengan tatapan sendunya, menatap jalanan Kalimalang yang telah lengang malam itu.

Selamat bernostalgia, Ma. :)

2 thoughts on “Mimpi ToBa Dreams

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s