Dilan | Lupus

Wow. Wowowowow. Tolong jangan salah fokus. Meskipun susah. Yaiyalah. Cowok gitu loh. :P Kisah tentang Dilan dan Milea ini emang lagi ruame banget. Sejak bukunya muncul di tahun 2015, saya sudah cukup tertarik. Bukan apa2, tapi Pidi Baiq yang saya tau adalah pentolan The Panas Dalam memang unik, jadi saya cukup yakin bukunya juga pasti... Continue Reading →

DP Nol Persen (Part 3)

Udah survey dan dapet rumah yang dimauin di sini? Udah tau mau bayarnya pake apa? Trus gimana? Yuks lah lanjut ke milih2 Bank buat ikutan KPRnya dan berdoa yang banyak supaya diapprove. Hehehe. Ini, adalah salah satu proses paling menegangkan dalam hidup saya. Ya mungkin nanti akan jadi proses paling menegangkan kedua setelah saya menikah.... Continue Reading →

DP Nol Persen (part 2)

Ngelanjutin postingan DP Nol Persen (part 1), maka sekarang gw masuk ke dalam tahap yang sangat krusial : BAYARNYA GIMANEEEE? Rumah udah cocok, lokasi bagus, harga juga bagus, tapi kalo ngga punya duit mah sama aja kayak angan2 tukang cendol (refer to perumpamaan yang sering disebutkan oleh emak gw). Dan thanks pada kapitalisme serta para bapak... Continue Reading →

DP Nol Persen (part 1)

Timeline belakangan ini riuh sekali dengan isu ini : beli rumah dengan DP 0%. Ada yang menganggap itu hanya jargon, ada yang bilang hanya janji2 surga, ada pula yang serius menghitung kemungkinan beli rumah tanpa DP tersebut. Apalagi dengan meroketnya harga rumah di bilangan Jakarta, termasuk kota2 satelitnya seperti Bekasi Depok dan Tangerang. Pun rumah... Continue Reading →

RELATIF

Saya paham betapa teknologi telah memudahkan kita dalam berekspresi. Dalam mengutarakan pendapat. Dalam beropini. Tapi saya masih kurang paham, ketika kita, saya dan kamu, sesama orang dewasa dan (cukup) berpendidikan, ternyata menolak bertanggungjawab atas konsekuensi dari opini yang disampaikan tadi. Saya masih kurang paham ketika kita, saya dan kamu, menolak berpikir lebih jauh mengenai dampak... Continue Reading →

love is a verb

Suara sengau John Mayer melantun sore itu, menemani saya yang sedang melamun jorok. Memandang tower sutet di kejauhan, duduk di bagian belakang rumah yang kebetulan berposisi cukup tinggi. Matahari sudah mulai turun, mengintip jingga dari balik awan. Syahdu. Love is a verb It ain't a thing It's not something you own It's not something you scream... Continue Reading →

re-sign

"Bang, gw minta waktu dong." "Men, ada yang mau diomongin nih" "Pak, kapan ada waktu kosong? Mau ngobrol-ngobrol aja nih." Beberapa kalimat yang pernah menjadi momok di hari-hari saya, ketika satu persatu rekan kerja, baik senior maupun junior, meminta waktu untuk ngobrol. Bukan artinya biasanya kita ngga ngobrol, bukan. Hanya saja, kalo perlu waktu khusus... Continue Reading →

D O A

Alkisah seorang bos yang taat beragama, secara rutin berdoa setiap malam. Tak perlu disebutkan apa agamanya, karena ndak penting juga. Setiap malam, ia berdoa "ya Tuhan, berkatilah para kaum papa dan fakir miskin, berikanlah berkat berkecukupan kepada mereka." lantas pergi tidur. Esok paginya, sembari sarapan dan memanaskan mobil, tak lupa ia berdoa lagi untuk hari... Continue Reading →

annyeonghaseyo – part 3 – second week

Masuk ke minggu kedua, kami sudah mulai terbiasa dengan udara dingin dan rutinitas harian kami: sarapan bersama ibu "kantin", jalan kaki ke stasiun MRT Singil, kelas di KRX, makan siang di kafetaria KRX, lalu pulang ke apartemen dan bingung mau ke mana. Ditambah lagi, minggu kedua ini Mas Bayu, rekan seranjang sekamar saya, dikunjungi oleh keluarganya... Continue Reading →

WordPress.com.

Up ↑