sedikit renungan,,

ada gunanya juga gereja di HKBP,, hehehe,, renungan ini diadaptasi dari warta gereja HKBP Jatiwaringin,,

Alkisah, di sebuah kota, ada seorang Bapak yang memiliki dua orang anak. Suatu hari, bapak ini mengalami sakit yang sangat parah, dan telah divonis dokter bahwa umurnya tidak akan lama lagi,, Bapak tersebut lalu menulis sebuah surat wasiat, yang menyatakan bahwa ia menyerahkan kedua perusahaannya kepada kedua anaknya, masing-masing mendapatkan sebuah perusahaan. Selain surat wasiat tersebut, beliau juga menitipkan sebuah surat kepada kedua anaknya, yang berisi pesan terakhir sang Bapak, yang berbunyi : “Kelolalah perusahaan itu, tapi dengan dua syarat. Pertama, jangan pernah menagih hutang. Dan kedua, jangan terkena sinar matahari.”

Tak berapa lama, sang Bapak pun meninggal, dan kedua perusahaan tersebut dikelola oleh kedua anaknya. Selang beberapa tahun, perusahaan milik anak pertama Bapak tersebut mengalami kebangkrutan, sementara perusahaan anak keduanya justru berkembang pesat. Sang anak pertama pun berziarah ke makam bapaknya, dan memprotes sang bapak.

“Saya sudah mengikuti apa yang Bapak bilang, bahwa saya harus mengelola perusahaan dengan dua syarat. Selama ini, saya tidak pernah menagih hutang2 yang dimiliki pembeli saya. Selain itu, karena Bapak menyuruh saya untuk tidak terkena matahari, saya selalu berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan taksi. Tapi apa yang saya peroleh? Perusahaan saya malah bangkrut!” kata si anak pertama, sambil pergi dengan perasaan kecewa.

Tak lama berselang, anak kedua-nya pun datang berziarah, dan dengan sukacita ia berkata, “Terimakasih Bapak, karena syarat yang Bapak pesankan, perusahaan saya berkembang pesat. Karena saya tidak boleh menagih hutang, maka pembeli-pembeli saya tidak saya izinkan untu berhutang, melainkan harus membayar tunai. Dan karena Bapak melarang saya untuk terkena matahari, maka saya berangkat kerja pagi-pagi sekali ketika matahari belum terbit, dan pulang larut setelah matahari tenggelam.”

Kadang, jadi manusia kita juga kayak gitu,, dalam mengartikan pesan-pesan yang Tuhan berikan di dalam Alkitab, kadang kita ambil enaknya saja, tanpa berpikir dan mengartikan hal tersebut dengan lebih berhikmat,, kadang kita tidak melihat konteks Alkitab secara keseluruhan, tapi mengutip secara sembarangan. akibatnya, kita salah mengartikan apa yang Tuhan maksud.

Karena Tuhan bilang kita akan sukses, maka kita ngga belajar dan berharap Tuhan buka pikiran kita ketika ujian,, Karena Tuhan bilang punya rencana yang indah buat kita, maka kita protes ketika banyak hal ngga indah yang dateng ke kita,, padahal sebenernya kita aja yang belum mengerti dan paham atas apa yang Tuhan mau dan Tuhan maksud..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s