Which one?

Sebuah pemikiran berseliweran di kepala saya belakangan ini. Terutama setelah khotbah hari minggu kemarin, yang membuat saya semakin pusing. :)

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:23)

Menurut Firman tersebut, kita diharapkan untuk dapat setia pada perkara kecil, sebelum diberikan perkara besar. Artinya, di dalam kehidupan, terkadang ada hal-hal kecil yang kita kerjakan yang mungkin kita anggap sepele, namun sebenarnya dapat menjadi ajang latihan kita sebelum mendapatkan hal-hal besar.

Misalnya, di dalam pekerjaan.

Semuanya adalah proses, di mana kita mengawali karir dari seorang magang, lalu promosi menjadi staf permanen, hingga ke level tertinggi. Semuanya adalah proses. Dan untuk mendapatkan peningkatan karir yang baik, pemikiran “setia pada perkara kecil” menjadi penting. Mungkin pekerjaan kita hanyalah fotokopi, atau terkadang pekerjaan kita tidak sebanding dengan return yang kita harapkan. Tapi kita dituntut untuk setia pada perkara kecil tersebut, setia melakukan hal-hal yang mungkin dianggap remeh, supaya kita bisa diberi kepercayaan yang lebih besar nantinya.

Misalnya, lembur. Sebagai seorang IT Auditor yang masih di level staf, saya banyak bergantung pada senior, manajer, ataupun klien. Terkadang jam kerja menjadi tak menentu. Data dan dokumen baru datang menjelang sore. Akibatnya, harus pulang larut, atau bahkan pulang pagi. Tapi saya berusaha setia pada hal-hal tersebut, supaya bisa diberi kepercayaan yang lebih besar lagi nantinya.

Okay. Tapi ternyata tidak hanya sampai di situ. Perkataan Timotius begitu menohok saya.

“Karena akar dari segala kejahatan ialah cinta uang.” (I Timotius 6:10)

Oookaayy. Jadi akar segala kejahatan adalah cinta uang. Dan Pendeta di HKBP minggu kemarin mengibaratkan cinta uang sebagai seseorang yang fokus pada pekerjaannya, pada peningkatan karirnya, demi mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Apapun alasannya, apakah itu untuk anak-anak, atau untuk “membeli kebahagiaan”, semuanya dikategorikan sebagai “cinta uang”. Orang-orang yang kerja di hari Sabtu demi peningkatan karir dan promosi, sehingga kekurangan waktu untuk keluarganya, termasuk kategori “cinta uang”. Yang kerja di hari Minggu atau malam Natal, juga termasuk “cinta uang”.

Jadi saya sudah mengarah ke sana dong ya? Padahal kalau mau realistis, saya memang butuh uang. Untuk rencana-rencana di masa mendatang. Untuk memenuhi kebutuhan. Untuk peningkatan taraf hidup. Untuk warisan untuk anak-cucu saya nanti. Jadi, apakah saya diharapkan untuk tidak lembur lagi sekarang? Apakah benar saya cinta uang? Jika saya harus pulang ontime dan menyediakan banyak waktu, bukankah artinya saya tidak setia pada perkara kecil yang Tuhan sediakan bagi saya saat ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s