Dapetnya susah, lepasnya susah.

Jumat malam, Tip Top Pondok Bambu.

Ratusan (atau bahkan ribuan) orang tumplek blek di sebuah bangunan bernama “Supermarket”, untuk membeli kebutuhan rumah tangga untuk sebulan ke depan. Termasuk saya, ibu saya serta kakak dan adik saya.

Sebetulnya, saya sudah mengajak belanja bulanan ke tempat lain, yakni “hipermarket”, karena saya yakin tempatnya lebih “hiper” ketimbang “super”. Tapi dengan alasan selisih harga yang lumayan material, terpaksa saya manut sama ajakan mereka.

Dan betul saja, semua orang sepertinya punya pemikiran yang sama dengan ibu saya. Ruame banget. Troli habis. Keranjang habis. Jalan saja sulit. Antrian mengular. Panas. Pengap. Anak-anak berlarian. Barang-barang berantakan. CHAOS!

Selesai belanja, saya berpikir. Uang sudah susah-susah dapetnya, kenapa keluarnya harus dengan cara yang “susah” begini ya? Sepertinya saya akan lebih nyaman jika uang yang sudah didapat dengan susah payah, setidaknya dihabiskan dengan cara yang menyenangkan, bukan dengan berjibaku bersama ribuan orang, dan kaki varises akibat antrian yang terlampau panjang.

Astaga….untung hanya sebulan sekali. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s