‘terbaik dari yang terburuk’ atau ‘terburuk dari yang terbaik’

Perjalanan pagi ini mengingatkan saya pada masa-masa SMP dan SMA dulu. Berangkat pagi, menjadi sebuah rutinitas baru akhir-akhir ini, setelah terakhir kali dilakukan ketika SMA. Semasa kuliah, berangkat pagi tidak akan sejauh ini perjalanannya, berhubung kos-an saya hanya sekepret dari kampus. Pekerjaan sebelumnya pun tidak mengenal absen jam masuk, sehingga saya tidak “terpaksa” berangkat pagi.

Seiring memori yang membawa saya kembali ke masa-masa itu, teringat kembali dengan berbagai kondisi yang dulu pernah saya alami. Kondisi yang layak untuk saya renungkan kembali, karena saya hari ini terbentuk dari kondisi-kondisi dulu itu.

Pernahkah anda berada di posisi “terbaik dari yang terburuk“? Saya pernah. Ketika mulai sekolah di SMP, didorong oleh kekecewaan karena tidak diterima di SMP impian saya (Colose Canisius, Menteng) dan akhirnya “terdampar” di SMP Kristen 3 BPK Penabur (Jl. Diponegoro, Salemba), saya merasa bahwa saya harus memberikan yang terbaik yang saya bisa. Pertama kali masuk, langsung jadi ketua kelas. Belajar mati-matian, dan berhasil juara 1 di kelas saya ketika cawu 1. Di cawu kedua dan ketiga, bahkan menjadi juara umum. Tahun berikutnya, ditarik menjadi anggota OSIS. Dan bahkan tahun berikutnya, menjadi Ketua OSIS! Wow.

SMP saya ini, adalah SMP “terbelakang” di antara BPK Penabur lainnya. Harus diakui, lokasi yang sangat amat strategis untuk menjadi lapangan pertempuran para siswa tawuran ini, menjadi sebuah momok bagi para orangtua murid dalam menyekolahkan anaknya. Terbukti, dengan rekor hampir setiap hari sepanjang 1998-2001 harus pulang dengan was-was karena takut dibacok anak SMA atau SMP musuh, siswa yang bertahan di satu angkatan saya hanyalah (kurang lebih) 80 orang. Itupun dengan kualitas pas-pasan, karena sepanjang perjalanan berangkat dan pulang sekolah bukannya diisi dengan belajar dan diskusi, melainkan dengan deg-degan dan (lari terbirit-birit dari) tawuran.

Namun di sana, saya merasa menjadi yang terbaik. Mencapai masa-masa keemasan saya dalam studi, yakni menjadi nomor 1. Menjadi benchmark. Menjadi sosok panutan, dekat dengan guru, punya banyak teman, dan hal-hal baik lainnya.

Saya menjadi yang terbaik….tapi mungkin di antara yang terburuk. Terbaik di antara segelintir orang yang niat belajar. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat saya, namun justru menambah kepercayaan diri saya. Masa-masa itulah di mana saya banyak belajar tentang kepemimpinan. Tentang bagaimana rasanya di puncak. Tentang percaya pada kemampuan diri sendiri.

Masuk ke SMA, keadaan berubah total.

Terpilih untuk masuk ke SMA Negeri 68 Jakarta, saya bersama 300-an siswa lainnya berusaha bersaing dalam banyak hal. Di sini pula, persaingan begitu terasa, berbeda jauh dengan ketika saya SMP. Di sini saya bertemu dengan orang-orang paling rajin, paling tekun, paling cemerlang, dan paling-paling lainnya, yang membuat saya malu dengan diri saya sendiri. Metode belajar yang saya terapkan di SMP dulu, ternyata tidak banyak membantu saya dalam belajar di SMA.

Ditambah masa-masa labil anak SMA, pelajaran Biologi, dan Fisika membuat saya terpuruk dalam hal studi. Tak pernah masuk dalam 10 besar, memberikan saya bukan hanya cambuk untuk lebih giat belajar, namun juga kekecewaan yang sangat dalam. Rasa percaya diri hanya sisa sedikit saja, hanya cukup untuk membuat saya bangun pagi dan berangkat ke sekolah.

Manusia dalam jumlah yang sangat besar, juga membuat saya kerepotan dalam berteman. Track record populer ketika di SMP, ternyata tidak ada apa-apanya di SMA. Saya eksis hanya di Seksi Rohani Protestan, berusaha menonjolkan diri di sana, karena sesungguhnya tidak ada lagi tempat bagi saya untuk berkreasi, karena percaya diri saya sudah tergerus hampir habis.

Di sini lah saya merasa, saya menjadi yang terburuk…tapi di antara yang terbaik. Di antara orang-orang pilihan, dan berusaha mengambil pelajaran dari orang-orang yang berada “di atas” saya. Mencegah saya menjadi sombong dan besar kepala, Tuhan mengingatkan saya bahwa di atas langit, masih ada langit. Kekecewaan yang begitu besar, sempat membuat saya minder, sebelum akhirnya menemukan kepercayaan diri kembali menjelang lulus SMA.

Menurut anda, manakah yang lebih baik dari dua keadaan di atas? Terbaik di antara yang terburukkah? Atau terburuk di antara yang terbaik?

Terbaik di antara yang terburuk, secara langsung mempengaruhi kepercayaan diri kita. Perasaan bangga pada diri sendiri, terkadang membuat kita mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Kepercayaan diri mampu membawa kita melakukan hal-hal positif, dan berkenalan dengan banyak kesempatan.

Terburuk di antara yang terbaik, terutama di tengah komunitas “super”, terkadang bisa menyusutkan kepercayaan diri kita. Rasa tidak mampu melakukan sesuatu, terkadang lebih mendorong manusia untuk jatuh, bukan untuk maju. Perasaan kecewa, terkadang lebih membawa aura yang negatif ketimbang positif..

Jadi, manakah yang lebih baik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s