buku jendela dunia

Mengingat dan melihat tumpukan buku di kamar yang belum selesai dibaca, belum diniatkan untuk dibaca, dan dilupakan untuk dibaca, miris rasanya. Menulis hobi “membaca” di setiap kolom isian “hobi” sudah seperti minum air bagi saya : harus. Tapi kenyataannya, 3 tahun belakangan jumlah buku yang saya baca minim sekali.

Kalaupun ada yang saya baca, biasanya tidak akan sampai selesai, dan berhenti begitu saja di tengah jalan. Ada Perahu Kertas-nya Dee Lestari,Have A Little Faith-nya Mitch Albom, Misteri Soliter-nya Jostein GaarderWhat the Dog Saw-nya Malcolm Gladwell (hadiah ulang tahun dari Gre), dan beberapa buku lainnya yang tidak pernah tuntas saya baca.

Padahal dulu saya melahap Trilogi Supernova-nya Dee Lestari dengan cepat. Membaca Kite Runner sampai terharu biru. Harry Potter yang harus tamat dalam semalam. Filosofi Kopi dihajar di perjalanan Jakarta – Bandung. Life of Pi-nya Yan Martel meskipun tersendat, tapi berhasil saya tamatkan. Ke mana saya yang dulu ya?

Kesibukan tahun-tahun terakhir kuliah dan masa transisi yang hanya sekejap menjadikan saya sebagai manusia ibukota yang labil : merasa tidak punya waktu membaca. Alasan demi alasan berhasil saya temukan : transportasi Jakarta yang memaksa saya berjibaku dengan penumpang lainnya; kesibukan kerja yang tidak kenal waktu; ada pengalih lain yang jauh lebih menyenangkan untuk menghabiskan waktu selain membaca; dan berjuta alasan lainnya.

Dulu, ketika kuliah, berhubung saya juga tidak punya teman sepermainan yang sangat akrab, waktu senggang biasanya saya gunakan untuk apel ke Jatinangor, atau nongkrong berjam-jam di Zoe Comic Corner. Sebelum ada lab Studio Komputer Akuntansi Unpad yang menjadi rumah kedua saya di tahun ketiga kuliah saya, Zoe lah rumah kedua saya. Di sana saya berkenalan dengan banyak buku. Dan tidak hanya buku, tapi di sana pula saya bisa membaca Majalah Tempo edisi terbaru tiap minggunya.

Kehadiran laptop dan zona Wi-Fi gratis di Bandung, rupanya berdampaksistemik pada minat membaca saya. Lebih menyenangkan browsing di Zoe, ketimbang membaca. Lebih mudah buka detik.com ketimbang buka lembaran Majalah Tempo. Lebih mudah chat di YM ketimbang keliling Zoe dan melihat-lihat koleksi buku yang baru.

Memang, teknologi seharusnya memudahkan hidup manusia. Tapi semua tergantung manusianya, apakah mau menguasai teknologi, atau malah “dikuasai” oleh teknologi. Kesempatan untuk membaca sebenarnya selalu ada, hanya saja kita-nya yang selalu mengelak. Maaf, bukan kita : saya. :)

Dan niat itu selalu timbul tenggelam tidak karuan. Buktinya, banyak buku saya yang tidak selesai dibaca. Separuh perjalanan, kembali godaan teknologi menarik saya menjauhi buku : nonton DVD, internetan di rumah, nonton cable TV, dan lain-lain.

Sad, but true.

3 thoughts on “buku jendela dunia

  1. Saya suka tulisan-tulisan di blog ini, setiap cerita ada satu paragraf yang bisa menohok saya :D, serius.

    Apalagi tentang yang ini…
    “Kehadiran laptop dan zona Wi-Fi gratis di Bandung, rupanya berdampak sistemik pada minat membaca saya. Lebih menyenangkan browsing di Zoe, ketimbang membaca. Lebih mudah buka detik.com ketimbang buka lembaran Majalah Tempo. Lebih mudah chat di YM ketimbang keliling Zoe dan melihat-lihat koleksi buku yang baru.”

    BENAR SEKALI T.T

  2. Ahahaha.. Ya, tapi secara naluriah, manusia lebih suka yang mudah2 bukan? :)

    Oia, kuliah di Bandung juga ya? Berarti tau Zoe Comic Corner kan? :)

  3. kalo ada yang mudah buat apa yang pilih yg susah :)
    iya di bandung, tau zoe yg di deket boromeus itu tapi baru sekali ke sana, diajak teman. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s