i know who holds tomorrow

Pagi ini dikejutkan dengan berita meninggalnya seorang karyawan Divisi Umum. Menurut kabar yang beredar, beliau meninggal setelah menjadi korban tabrak lari di daerah Rawamangun. Terkejut, karena baru kemarin (ya, persis kemarin), saya dan beberapa teman ke ruangan Divisi Umum untuk mengambil hadiah doorprize dari kantor. Ruangan yang kecil, yang diisi hanya oleh sekitar 10 orang, dan salah satunya adalah beliau. Kemarin sore. Pukul 3 sore. Segar bugar dan tertawa sambil bertanya-tanya doorprize apa yang kami dapatkan. Dan hari ini, beliau sudah tidak ada.

Meskipun tidak dekat secara personal, tapi saya tetap merasa kaget dengan kepergiannya. Betapa Tuhan punya kekuasaan menentukan umur seseorang. Betapa Tuhan punya hak penuh atas apa yang akan terjadi besok, nanti malam, 3 jam lagi, 1 jam lagi, atau bahkan beberapa menit lagi.

Hal ini begitu menyentak saya, dan sayapun teringat pada momen pemberkatan nikah kakak sepupu saya hari Minggu kemarin. Sang ayah dari pihak laki-laki yang mendadak terkena serangan jantung dan tidak mungkin melakukan acara pernikahan dengan adat batak full, membuat rencana untuk acara pernikahan berubah total, menjadi resepsi versi internasional. Padahal sang ayah adalah Bishop (pimpinan wilayah) sebuah gereja terbesar di dunia yang mempunya cabang di Indonesia (berpusat di Sumatra Utara), dan sangat terpandang di kalangan suku batak. Saya paham, adalah sebuah keputusan berat untuk tidak melaksanakan perkawinan dengan adat, apalagi untuk seseorang seperti beliau.

Dengan penuh kesederhanaan, acara pemberkatan nikah dilaksanakan. Sang ayah yang masih terbaring di rumah sakit, tidak dapat menghadiri acara, dan diwakili oleh tulang (paman). Suasana haru mulai terasa ketika setelah pembacaan ikrar suami istri, maka kedua pengantin menghampiri orangtua masing-masing untuk minta restu. Mempelai pria tidak dapat menahan tangisnya ketika memeluk ibunya, sementara si ibu terus menerus menghapus air mata anaknya. Para jemaat juga sudah mulai sibuk dengan tisunya masing-masing. Oh, what a moment..

Dan di akhir prosesi tersebut, kedua mempelai menyanyikan sebuah lagu persembahan mereka. Lagu rohani karangan Ira Stanphill, “I Know Who Hold Tomorrow” (1950) – dalam versi bahasa Indonesia, lagu ini dikenal dengan judul “Tak Ku Tahu Kan Hari Esok“. Salah satu lagu favorit saya, yang ternyata adalah juga lagu kesukaan sang Bishop, alias ayah sang mempelai pria. Diawali dengan tenang dan penuh ketegaran, sang mempelai pria tak dapat menahan tangisnya ketika lagu memasuki refrain.

“Many things about tomorrow,
I don’t seem to understand;
But I know Who holds tomorrow,
And I know Who holds my hand.”

Dan suasana terasa begitu haru, ketika istri yang baru dinikahinya merangkul dan terlihat berusaha tabah dan tegar. Saya sedikit paham, begitu berat beban kakak saya tersebut, setelah berbagai masalah terus menimpanya. Kakak pertamanya, memilih untuk tinggal di Amerika setelah menikah. Sementara, kakak keduanya menderita penyakit epilepsi, dan akhirnya meninggal di usia yang masih muda, 22 tahun. Dan kini, di hari pernikahannya, sang ayah harus terbaring di rumah sakit dan tidak dapat menyaksikan pernikahan putranya.

Tapi ya, dia tahu siapa yang memegang hari esok. Dia tahu siapa yang selalu memegang tangannya, melewati hari esok.

Saya juga pernah berada dalam posisi tersebut, posisi bimbang dan bingung dengan hari esok. Ketika ketidakpastian hidup terlihat di depan mata, dan kita bingung harus berpegang pada apa. Saya pernah menyanyikan lagu ini di depan orangtua ketika doa malam, ketika nilai memaksa saya untuk memilih jalur IPS ketimbang IPA di penghujung kelas 2 SMA. Ketiga kakak saya semuanya IPA, dan semuanya sukses di sana. Orangtua selalu berpendapat, IPA lebih baik daripada IPS. Dan saya, harus memilih untuk ikut tes pindah jurusan, atau tetap di IPS.

Akhirnya saya memutuskan tetap di IPS, karena merasa inilah jalan saya. Dan saya bernyanyi lagu ini dengan penuh kepasrahan, karena sejujurnya, saya juga tidak yakin dengan pilihan saya. Saya takut dengan ketidakpastian, dan konsekuensi atas pilihan saya. Tapi siapakah saya, sehingga saya bisa tahu seperti apa hari esok? Dan siapakah saya, sehingga berani mendahului Sang Pencipta?

“But I know Who holds tomorrow,
And I know Who holds my hand.”

3 thoughts on “i know who holds tomorrow

  1. IPA tidak lebih baik daripada IPS kok meyn.. itu cuma pandangan orang aja.. berhubung gue juga anak IPS, jadi pasti gue bela IPS.. hidup IPS! yeay! wkwkwkkwk..

    kayanya comment gue ga penting yah padahal temanya lagi mellow2 gitu.. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s