life is about choices

Kali ini, mari kita bahas yang "agak" ringan. Tentang pilihan. Pilihan setiap pagi : akan naik apakah ke kantor?

Bangun tidur, melihat jam, maka pemikiran pertama adalah : naik apa ya ke kantor? Pilihan di awal, adalah antara menggunakan sepeda motor, atau naik kendaraan umum. Kalau naik motor, pilihan selanjutnya tidaklah terlalu sulit, hanya berkisar "berangkat jam berapa" dan "lewat mana". Naik kendaraan umum, baru keadaan menjadi sedikit lebih kompleks. Lewat mana ya, Jatiwaringin atau Kalimalang? Nanti naik mikrolet dulu ke Halim, atau langsung naik taksi ya? Nanti dari Halim, nunggu 89, atau naik taksi ya? Kalau 89-nya penuh, nunggu Patas AC 65 atau 80, atau ngga ya?

Sebagai warga komuter yang tinggal di kota-kota satelit Ibukota (baca : bekasi), pilihan di pagi hari menentukan jam berapa anda sampai di kantor, dan jam berapa nanti sore/malam anda sampai di rumah. Meskipun memang, banyak pula faktor eksternal yang menghambat saya untuk sampai di kantor tepat waktu : ada kecelakaan di jalan, hujan, pejabat tinggi yang mau lewat sehingga jalanan harus ditutup, dan masih banyak faktor lainnya.

Awal-awal bekerja dulu, saya selalu menikmati perjalanan dengan angkutan umum. Karena bekerja di perusahaan tanpa jam masuk yang ketat dan hanya berasaskan kepercayaan dan rasa tidak enak (baca : tidak ada mesin absen), maka jam berapapun saya sampai kantor (berhubung perasaan tidak enak saya juga tidak terlalu banyak) adalah fine bagi saya. Tapi kini semua berbeda. Pukul 08.00, saya harus sudah menyentuhkan jari ke mesin absen fingerprint. Lewat dari itu, hilang sudah uang transport saya hari tersebut.

Maka dari itulah, masalah berangkat kantor naik apa dan lewat mana, merupakan persoalan serius bagi saya. Setahun belakangan, dengan mengandalkan motor bebek abang saya, perjalanan ke kantor hampir selalu saya tempuh dengannya. Biaya yang irit, plus fleksibilitas yang tinggi, menjadi alasan utama saya memilih menggunakan motor. Bayangkan, dengan uang Rp.10.000 saja, dapat mencukupi biaya bensin perjalanan pulang pergi selama minimal 2 hari. Bandingkan dengan ongkos naik kendaraan umum : ojek Rp.5.000, mikrolet Rp.3.000, bus 89 Rp.2.500. Total Rp. 10.500 sekali jalan, artinya pulang pergi minimal menghabiskan Rp.21.000. Per hari!

Tapi di balik masalah biaya yang tinggi, ternyata ada nilai plus tersendiri dengan naik angkutan umum. Pertama, tentu saja mengurangi kemacetan. Berkurangnya satu motor mungkin tidak terlalu berpengaruh, tapi bagaimana jika ada 1000 orang yg berpikiran sama seperti saya? Pasti berdampak cukup signifikan. Nilai plus lainnya menyangkut emisi buang kendaraan bermotor. Tanpa disadari, 1 motor saja sudah menyumbang pencemaran udara kota Jakarta berapa banyak.

Selain itu, dengan naik kendaraan umum, akan banyak waktu untuk diri anda sendiri. Di perjalanan, kita bisa twitteran, cek FB, sms-an, mendengarkan lagu lewat mp3 player atau ipod, melamun, tidur, atau MEMBACA! Semua hal tersebut tidak bisa saya lakukan sambil mengendarai motor tentunya (apalagi tidur). Fokus yang tinggi tentu sangat dibutuhkan untuk mengendarai motor di hutan belantara jalanan Jakarta. Dan hilang fokus sejenak karena ada sms, jelas-jelas berdampak besar bagi keselamatan saya. Dan anda.

So, let me summarize :

Dengan naik kendaraan pribadi (dalam hal ini motor/mobil) :

  • (+) hemat ongkos;
  • (+) fleksibel;
  • (+) nyaman, karena tidak perlu berdesakan;
  • (-) berperan besar dalam polusi kota;
  • (-) bikin tambah macet jalanan;
  • (-) harus fokus, karena tidak bisa sambil tidur misalnya;
  • (-) keluar biaya parkir dan perawatan kendaraan;
  • (-) cenderung lebih melelahkan, apalagi jika macet.

Sementara, dengan menggunakan kendaraan umum (mikrolet, bus, taksi, kereta api) :

  • (+) tidak perlu biaya parkir dan perawatan kendaraan;
  • (+) mengurangi kemacetan di jalan raya;
  • (+) mengurangi polusi;
  • (+) bisa sambil melakukan hal lain, tidur misalnya;
  • (+) bisa melihat kehidupan Jakarta yang sebenarnya;
  • (-) ongkos yang cukup besar, apalagi jika rumahnya jauh;
  • (-) melelahkan jika harus berkali-kali ganti kendaraan;
  • (-) bergantung pada faktor eksternal;
  • (-) mayoritas tidak nyaman.

Saya sendiri secara pribadi memilih untuk mengkombinasikan keduanya, tergantung kebutuhan saya hari tersebut. Jika saya hanya akan melakukan perjalanan rumah-kantor-rumah, maka saya memilih menggunakan kendaraan umum. Tapi jika membutuhkan mobilitas yang tinggi, saya lebih memilih menggunakan motor, meski harus mengorbankan waktu untuk melamun, membaca atau tidur (yang mana sangat saya sukai!).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s