bengong

Melanjutkan postingan kemarin mengenai pilihan transportasi ke kantor, saya jadi teringat pada salah satu alasan memilih kendaraan umum : punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Kebetulan pula hari ini Samuel Mulia di kolom Parodi Kompas Minggu mengemukakan hal yang sama dengan yang sedang saya pikirkan.

Samuel Mulia membahas tentang privasi, tentang space to your self. Mengambil analogi dari kasus Ariel-Luna-Cut Tari, saya sependapat dengan pemahaman beliau tentang “ruang pribadi”, di mana ruangan itu adalah rahasia dan menjadi milik dirinya sendiri. Apapun yang dilakukan di dalam ruangan tersebut, biarlah itu menjadi rahasia kita masing-masing.

Itulah yang membuat saya lebih memilih kendaraan umum. Saya tipe manusia pemikir, yang seringkali memikirkan sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak perlu dipikirkan. Dan untuk melakukannya, betul-betul perlu waktu sendiri. “me-time” istilahnya.

Ketika duduk di bus kota di perjalanan pulang kerja, begitu banyak hal berputar di kepala saya. Semua yang saya lihat, bisa menjadi bahan pemikiran. Semua yang terjadi hari ini, yang saya baca, yang saya bicarakan dengan orang lain, terkadang muncul begitu saja ketika saya mulai diam. Lantas mulai berpikir. Ini-itu. Mengapa begini-mengapa begitu. Harusnya begini-harusnya begitu. Just dealing with myself.

Melihat penumpang bus yang duduk di samping saya, saya bisa berpikir banyak hal tentang dirinya. Apa saja yang sudah dilakukannya hari ini, hingga akhirnya kami bertemu di satu momen, di bis perjalanan pulang? Apa saja rencana hidupnya? Apa yang dia pikirkan tentang saya, seorang asing yang duduk di sampingnya? Dan banyak hal lainnya. Berimajinasi. :)

Melihat pengamen yang sedang bernyanyi di tengah bis, dapat menginspirasi saya untuk membayangkan keluarganya. Apakah dia punya keluarga? Lantas bisa pula membuat saya memikirkan prinsip hidupnya. Latar belakang apa yang membuat dia akhirnya mengamen di sini, saat ini? Dan apa yang dia rasakan saat ini, ketika dia menyanyi di tengah orang-orang yang tidak dikenalnya?

Atau membayangkan, di jam ini, menit ini, detik ini, di tempat lain, atau di belahan dunia yang lain, apa yang sedang terjadi ya? Di saat saya duduk di bis ini, mungkin saja di luar sana sedang terjadi sebuah perjuangan hidup seseorang melawan maut. Atau ada yang sedang melakukan kejahatan. Atau sedang terjadi kebakaran. Atau ada yang sedang berkumpul bersama keluarganya.

Atau terkadang tidak berpikir apapun. Menikmati kesendirian. Meresapi keheningan pikiran, dan sebuah pencerahan yang susah diceritakan. Atau sekedar melihat sekitar, dan berandai-andai bahwa semuanya hanyalah ilusi pikiran semata. Atau bengong. Ya, bengong. Meninggalkan semua pemikiran dan pemikiran atas pemikiran, atau hal-hal lain di kepala. Dan saya sangat menikmatinya.

Itu sebabnya, jarang sekali saya tidur di perjalanan. Mmm,malahan bukan hanya di perjalanan. Tapi saya memang jarang tidur. :) Seringkali saya merasa bahwa tidur adalah sebuah kerugian. Karna ketika tidur, tidak ada yang bisa kita lakukan. Padahal waktu yang terpakai ketika kita tidur, bisa kita gunakan untuk melakukan hal lain. Bengong misalnya. Atau berpikir. :)

Di sinilah letak ruang rahasia saya. Ruang pribadi saya. Saya dan pikiran saya, saya dan kebengongan saya. Tidak terlalu banyak yang terungkapkan ke luar, karena menurut saya, hal tersebut cukup ada di alam pikiran saja. Apa yang saya lakukan dengan pikiran saya, biarlah hanya saya yang tahu. Toh ini ruang pribadi saya. Dan anda juga punya ruang pribadi anda. Adalah hak penuh bagi saya dan anda untuk berpikir, dan kemudian melupakannya. Atau meresapinya? Siapa yang tahu?

4 thoughts on “bengong

  1. tahukah Anda kegunaan tidur apa? Tidur bukan merupakan sebuah kerugian, jika Anda apa sebuah fungsi sebuah tidur yang nyenyak dan cukup…Justru ketika Anda tidak tidur itulah baru sebuah kerugian yang besar…:d

  2. justru itu.. bagi saya, tidur adalah kerugian, karena waktu yang kita gunakan untuk tidur, sebenarnya bisa digunakan untuk melakukan hal lain. :)

    tapi kan itu menurut saya. Iya, paham koq tentang manfaatnya tidur, dan enaknya bangun tidur.. tapi ya itu tadi, pemikiran saya, opportunity cost untuk tidur, menurut saya terlalu tinggi.. :D

  3. cerita “bengong” itu gw banget, teenyata ada jg ya orang yang memiliki pemikiran dan bahkan tindakan yang dilakukan sama (Sumpah deh…).Kalau dalam ceritanya lebih memilih kendaraan umum, saya lebih memilih berjalan kaki, kadang klo habis pulang dari kantor menuju rumah (jaraknya kurang lebih 2.5 km) saya lebih senang berjalan kaki selam perjalanan itulah waktu benar-benar menjadi milik saya sendiri, banyak yang saya pikirkan selama perjalanan itu, bahkan ada kejadian-kejadian disepanjang perjalanan yang bisa membuka mata dan hati saya, yang membuat saya untuk lebih intropeksi diri, dan memperbaiki diri.Hhhhhmmm senang bisa sharing denganmu he….

    Btw soal tidur adalah sebuah kerugian, aku juga setuju, kadang aku pikir kenapa aku nggak dikasih penyakit insomenia aja, jadi banyak yang bisa kukerjakan, dan waktu nggak ke buang sia-sia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s