puasa, puasa, sebulan kita puasa

Sebersit pemikiran yang sudah sejak lama saya pertanyakan, tiba-tiba muncul lagi siang ini. Pertanyaan yang selalu muncul menjelang bulan puasa, dan semakin membuat saya bingung setelah saya mengalaminya sendiri ketika kuliah.

Kenapa sih restoran dan rumah makan harus tutup di siang hari ketika bulan puasa?

Logika saya (yang pas-pasan) masih belum dapat menerima penjelasan yang paling logis dan masuk akal tentang kegiatan ini. Kalau panti pijat plus-plus, tempat esek-esek, atau pusat hiburan yang terkadang jadi pusat maksiat juga ditutup, ya oke lah. Logikanya masih masuk akal, yakni karena itu menggugah “keinginan“, bukan hanya “kebutuhan“, baik itu muslim maupun non-muslim.

Tapi masalah makan, bukankah itu “kebutuhan“? Apakah nafsu untuk makan adalah sama dengan nafsu untuk berbuat maksiat? Atau nafsu untuk dipijat plus-plus? Pernahkah berpikir mengenai umat beragama lain yang butuh makan di siang hari, namun harus susah setengah mati mencari tempat makan, dan dengan kewaspadaan tingkat tinggi pula karena takut terkena sweeping ormas basi yang gemar banting-banting warung orang. Pernahkah?

Pernahkah berpikir bahwa dengan alasan supaya yang menjalankan ibadah puasa dapat beribadah dengan tenang”  malah semakin menunjukkan kadar keimanan seseorang? Kadar keimanan seseorang yang hanya dengan melihat makanan atau orang yang sedang makan, maka puasa yang sudah dijalankannya akan batal dengan mudahnya. Bukankah itu justru seperti mendeklarasikan pada masyarakat bahwa “Hei, iman kami tidak sekuat itu. Niat kami berpuasa masih sebatas kewajiban, bukan kesadaran. Jadi tolong, permudah kami, okay?

Di mana letak pahalanya? Di mana letak cobaannya? Bukankah cobaan yang mendatangkan pembuktian bahwa kita tahan uji? Bukankah cobaan justru membuat kita belajar bertahan terhadap nafsu dunia? Atau cara termudah adalah dengan memberantas semua cobaan dan ujian tersebut? Lantas manusia seperti apa yang terbentuk dari kondisi demikian, kondisi yang lembek dan semua cobaan telah diberangus? Sudah tentu hasilnya adalah manusia yang tidak tahan uji.

Tidak ada niat saya sama sekali untuk tidak menghormati anda yang berpuasa. Saya juga berusaha untuk tidak minum dan makan di hadapan orang yang sedang berpuasa, meski saya masih tidak paham dengan logikanya. Tapi demi alasan menghormati, saya bersedia melipir ke tempat sepi, untuk sekedar makan dan minum. Tapi tolong, berikan hak saya dan jutaan orang lainnya yang tidak berpuasa. Berikan pula hak para wanita yang sedang berhalangan, atau ibu hamil yang butuh asupan gizi untuk anaknya di siang hari. Berikan pula hak para pedagang makanan yang menggantungkan hidupnya pada warung kecilnya, yang harus was-was dengan sweeping ormas basi tersebut.

Dan wahai pemerintah, bijaksanalah. Jangan legalkan praktek semena-mena ini dengan mengeluarkan SK Walikota, Peraturan Pemerintah, Perda, atau apapun namanya. Bersikaplah adil, wahai pemerintah, karena negara ini adalah negara hukum, dan bukan negara agama. Untuk dihormati, hormatilah orang lain terlebih dahulu. Untuk dihargai, hargailah orang lain terlebih dahulu.

Kepada para OKNUM lemah iman, sadarilah bahwa bulan puasa yang suci ini, seharusnya menjadi kawah chandradimuka untuk membentuk anda menjadi muslim yang sejati, muslim yang paham akan apa yang dipercayai, bukan sekedar karbitan atau muslim KTP. Hadapilah semua cobaan dan godaan, bukan dengan memberangusnya, karena saya yakin, itu merupakan salah satu jalan menjadi manusia yang lebih baik!

4 thoughts on “puasa, puasa, sebulan kita puasa

  1. Memang ada ya SK mengenai harus menutup tempat makan atau restauran di siang hari pada saat bulan puasa?biar menyamakan persepsi aja..
    menurut pendapat gue sbg orang awam yg ga tau tg SK itu (kalau ada), beberapa alasan kenapa rumah makan tutup di siang hari pas bulan puasa ada beberapa kemungkinan :

    1. Mayoritas penduduk negara kita adalah orang muslim ya, yang mngkn berarti sebagian besar pedagang (makanan) adalah org yg sama..jadi menurut gue sih wajar kalau para pedagang itu menghormati agamanya dg cara tidak membuka warung makannya di siang hari..bukan masalah nanti akan tergiur (tergoda) imannya..tapi ini sebagai bentuk mereka menghormati agamanya sendiri (i guess) :)

    2. Selain itu, ada pertimbangan2 lain yang bisa kita lihat dari segi ekonomi. Para pedagang itu (dan mngkn bukan hanya orang muslim) merasa bahwa pendapatan mereka akan turun drastis (pada siang hari) di bulan puasa. Bayangkan aja mereka yang biasa misalkan melayani 100 orang, mngkn di siang hari hanya bisa mendapatkan keuntungan dari 25-30 orang. Dan if u compare dg cost yang mereka keluarin, yah mereka prefer utk menutup restauran mereka di siang hari..dan cenderung berganti jam buka menjadi (misalkan) pada jam sahur sekitar pukul 2 sampai 4 pagi yang akan lebih efektif..Itu pernah gue alami yaitu terutama saat dulu kuliah, warteg2 di sekitar kampus yang berubah jam “tayang” hehehe..

    Menurut gue sih..ga terlalu masalah ko dg ditutupnya restauran pada bulan puasa, apabila itu dilakukan karena keinginan pribadi (bukan karena dikeluarkan SK itu ya)..
    Karena masih banyak sekali option makanan yang juga buka selama bulan puasa, walaupun mungkin bukan restauran favorit :P,, tapi ga sampai segitunya ga ada makanan sampai si ibu hamil atau wanita yang berhalangan ga bisa menikmati makanan yang layak ko :) Justru jadikan kesempatan ini utk bawa bekel, wow..kapan lagi menikmati enaknya dan sehatnya makanan dari bekel buatan sendiri ^^

  2. Nah, ini Perda/SK/Surat Edaran atau apapun namanya :

    1. Banjarmasin; Perda Kab. Banjar No. 5/2004 tentang Ramadhan
    2. Pasuruan; Perda Kab. Pasuruan No. 4/2006 tentang Pengaturan Membuka Rumah Makan, Rombong dan sejenisnya pada Bulan Ramadhan
    3. Bone; Surat Edaran No. 44/1857/VIII, Humas Infokom Bone tertanggal 22 Agustus 2008 tentang Larangan di Bulan Ramadhan
    4. http://www.gorontalo.go.id/serambi/berita/berita-gorontalo/37-kota-gorontalo/432-larangan-rumah-makan-beroperasi-siang-hari-saat-ramadhan.html

    dan dengan berbekal itulah, satpol PP dan polisi merasa berhak untuk menutup paksa rumah makan yang masih buka saat siang. Hadooh..

    Saya tidak hendak mendiskreditkan agama tertentu, karena Perda Injil di Manokwari juga menurut saya tidak masuk akal. Justru karena UUD 1945 pasal 29 tentang kebebasan beragama, seharusnya menjadi dasar dari semua Perda/SK/SE atau apapun yang tingkatannya lebih rendah dari UUD 1945. Bukan begitu?

    Alasan pertama, tetap bukanlah alasan yang tepat, setidaknya menurut saya. Karena suatu agama mayoritas, tidak serta merta langsung digeneralisasikan kepada semua anggota masyarakat. Atau minoritas menjadi mengikuti ritme hidup mayoritas. It’s a big no-no. Ada saling menghormati, ada toleransi, tapi hak untuk hidup bebas dan teratur, aman, nyaman, tetap harus dikedepankan.

    Alasan kedua, alasan ekonomi, adalah alasan yang paling masuk akal. Fixed cost yang mungkin dikeluarkan ketika siang hari, seharusnya bisa ditutupi dengan mengubah jam buka/tutup restoran, yakni menjadi menjelang sahur dan menjelang berbuka.

    Tapi alangkah ironisnya, karena peraturan-peraturan daerah tadi, ataupun pemahaman masyarakat tentang penutupan rumah makan, adalah semata-mata “supaya dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang”. Dan itu kenyataannya. Penutupan bukan dengan alasan ekonomi (seperti yang anda kemukakan), atau dengan alasan logis lainnya. Alasan “supaya dapat menjalankan ibadah dengan tenang” itulah yang tidak masuk ke dalam logika. Karena ibadah di sini JUSTRU hendak MENGUJI keimanan dan ketakwaan umat, bukan MEMANJAKAN umat dengan menutup “godaan” di siang hari.

  3. kamu gila armeyn
    kamu menyebut oknum lemah iman. kamu sadar apa arti iman. dasar orang gak beriman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s