#belajarmenghargai

Pagi ini, setelah saya membaca sebuah blog milik teman saya yang menulis tentang Ketulusan, dan tweet seorang teman mengenai pengamen yang ditemuinya di perjalanan berangkat ke kantor pagi ini, saya merasa perlu membagi pemikiran saya di sini. Pemikiran yang beberapa hari lalu saya post di twitter saya, ketika perjalanan pulang kantor.

Perjalanan pulang kantor, terutama di atas jam 8 malam, hampir pasti ditemani oleh beberapa pengamen yang naik dan turun sepanjang perjalanan. Terkadang bertemu dengan pengamen yang bernyanyi dengan luar biasa, namun pernah juga bertemu dengan seorang anak yang memaksakan diri bernyanyi meski suaranya sudah tidak keluar lagi. Mungkin mereka sudah seharian naik turun bus di jalur ini. Mungkin mereka lelah. Mungkin mereka khawatir karena setoran kepada sang preman belum mencukupi.

Earphone yang terpasang di telinga, rasanya sudah cukup untuk menemani saya di perjalanan. Tidak perlu lagi musik dari para pengamen, yang kemungkinannya 50-50, antara membangkitkan kekaguman saya (“wow, bagus banget suaranya!“), atau merusak kebahagiaan saya (“dahar tah aspal! berisik, fals, ganggu!!” – quoted from oggy). Tapi justru di situ pelajaran yang bisa didapatkan. Ini, saya beri nama #belajarmenghargai.

#belajarmenghargai no.1 : lepas earphone anda ketika ada seorang pengamen bernyanyi.

Bagi saya, nyanyian seorang (grup) pengamen, cukup pantas untuk didengarkan. Atau meskipun tidak layak untuk didengarkan, mereka tetap layak mendapatkan penghargaan, setidaknya dari saya. Atau anda. Buat saya, mereka adalah hiburan istimewa di perjalanan. Saya bisa mendengarkan lagu dari mp3 player saya kapan saja, tapi kesempatan mendengarkan pengamen yang beraneka-macam, terkadang hanya bisa didapatkan di perjalanan.

Tidak jarang pula, lagu-lagu yang belum populer, sudah dinyanyikan terlebih dahulu oleh mereka. Teringat oleh saya, bagaimana single-single terbaru Peterpan dan Ungu, ternyata sudah dinyanyikan oleh para pengamen di Bus Damri Dipatiukur – Jatingangor, sebulan sebelum lagu tersebut diputar sangat intens di radio. Begitu pula lagu Cinta Terlarang milik The Virgin, yang dengan luar biasa dibawakan dengan gitar dan biola oleh 2 orang pengamen di Metromini T52, bahkan sebelum The Virgin muncul di Dashyat. ( :D ) Atau seringkali saya menemui pengamen yang menyanyikan tembang-tembang lawas, dengan penghayatan yang luar biasa. Di Bandung, saya pernah mendengarkan seorang pengamen menyanyikan lagu-lagu populer The Beatles. Atau sekelompok anak muda dengan peralatan perkusi dan gitar kopong, yang dengan luar biasa menyemarakkan siang hari yang panas dengan lagu-lagu beraliran Amerika Latin semacam Volare dan Maria.

Sungguh sebuah kesempatan langka, setidaknya bagi saya, untuk bisa mendengarkan mereka. Dan oleh sebab itulah, saya tidak rela jika saya harus merelakan kehilangan momen itu, hanya karena saya enggan membuka earphone saya, keluar dari dunia saya sendiri, dan berusaha menghargai mereka dan suara mereka yang mungkin terkadang fals.

#belajarmenghargai no.2 : berikan isyarat tangan jika anda tidak ingin memberi uang pada pengemis atau pengamen. jangan hanya diam dan membuang muka.

Perasaan tertolak. Dongkol. Marah? Mungkin itulah yang dapat saya bayangkan mengenai apa perasaan orang-orang yang berkeliling mengutip sumbangan kita atas jasa mengamen (atau mengemis) mereka, namun ternyata tidak kita acuhkan. Apa susahnya sedikit menengok, memberikan isyarat tangan, atau menangkupkan kedua tangan seraya berkata “maaf, lain kali ya“? Ketimbang diam, dan berharap mereka paham bahwa kita tidak ingin memberi bantuan.

Buat saya, mereka pantas mendapatkan yang lebih baik ketimbang sikap diam kita. Karena, membayangkan kerasnya kehidupan mereka (pengemis, anak jalanan, pengamen), saya jadi bertanya-tanya: kalau bukan dari kita yang terpelajar ini, dari mana lagi mereka mendapatkan rasa dihormati? Toh hampir semua orang menganggap mereka sampah, sampah masyarakat, orang pinggiran, dan berbagai istilah hina lainnya. Dianggap tidak pantas untuk dihormati, karena kedudukan mereka terlihat tidak terhormat. Dan apakah kita termasuk golongan “hampir semua” itu? Saya bukan.

#belajarmenghargai no.3 : ucapkan terimakasih dengan tulus, dan jangan ucapkan sambil lalu, kepada siapapun.

Seorang teman di kantor, menganggap bahwa OB hanyalah OB. Dan tugas mereka adalah memang mengantar minuman, disuruh ini-itu, dan berbagai pekerjaan klerikal lainnya. OB tersebut telah digaji untuk itu, dan sudah sewajarnya jika OB tersebut melakukan pekerjaannya itu.

Tapi terkadang kita lupa bahwa OB juga sama seperti kita. Mengutip Dalai Lama dalam wawancaranya dengan Desi Anwar, manusia terkadang terlalu fokus pada level permukaan. Agama, pekerjaan, status sosial, kekayaan, dan hal-hal lainnya hanyalah level kedua, alias level permukaan. Padahal untuk bisa menghargai orang lain, turunlah ke level yang lebih dasar, ke level pertama. Ke level di mana bahwa kita semua adalah sama-sama manusia. Tidak perduli apakah beliau adalah presiden, anggota DPR, manajer, pengemis, OB, atau anak jalanan sekalipun, kita semua adalah sama di level pertama: sama-sama manusia.

Sebuah “terima kasih” yang simpel, bekerja lebih dashyat dari yang kita bayangkan. Rasa dihargai, diakui keberadaannya, sangat berharga bagi orang-orang yang jarang mendapatkannya. Sebuah tindakan kecil, seperti membuka earphone atau memberi isyarat tangan, terkadang berdampak lebih besar dari yang pernah kita duga. Dan tidak ada usaha keras untuk melakukannya bukan? Hanya perlu kebiasaan, dan kesadaran untuk saling menghargai. Mari #belajarmenghargai !

One thought on “#belajarmenghargai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s