betapa mudahnya mengeluh

Pernahkah kita menghitung berapa kali dalam sehari kita MENGELUH? Sejak bangun, mulailah kita mengeluh, koq ngga dibangunin. Lantas berangkat kerja, bertemu kemacetan, muncul lagi keluhan. Di kantor atau sekolah, tentunya mengeluh tentang pekerjaan atau tugas adalah sebuah hal biasa. Pulang sore hari, bermacet-macet di jalan, lagi-lagi mengeluh. Bahkan sampai naik ke tempat tidur pun, kadang kita masih mengeluh! :|

Sepertinya memang sudah menjadi bawaan manusia untuk selalu mengeluh. Selalu melihat kekurangan dari suatu hal atau keadaan. Selalu lebih memperhatikan sisi negatif ketimbang positif. Dan kadang, kita beralasan, dengan mengeluh setidaknya sebagian kesusahan kita sudah berkurang. Iya gitu?

Kenyataannya, dengan mengeluh maka kita sudah menularkan kesusahan kita kepada orang lain. Bagaimana dengan kitanya? Ya tetap saja dengan perasaan kita di awal. Mengeluh ternyata berbeda dengan meminta saran dan pendapat orang lain, alias curhat. Toh mengeluh terkadang hanya demi “kepuasan” kita semata, karena banyak sekali orang yang tidak menerima saran dan masukan ketika mereka mengeluh.

Twitter, kini menjadi sebuah sarana baru untuk mengeluh, setelah sebelumnya status facebook telah menjadi korban. Jika anda memperhatikan, setiap pagi dan sore, sebagian besar isi tweet orang adalah tentang kemacetan. Apalagi jika anda follow @infoll, maka segala umpatan dan makian –terutama kepada Foke alias Fauzi Bowo- merupakan sesuatu yang lumrah. Sangat lumrah malahan.

Memang sangat mudah menyalahkan orang lain atas kesusahan yang kita terima. Mungkin ini juga dapat dikategorikan sebagai mengeluh, karena biasanya mengeluh akan diikuti dengan mencari kambing hitam. Bukan begitu? Dan setelah ada kambing hitam, seakan-akan masalah kita telah teralih dan pindah ke “kambing” tersebut.

Sadarkah kita bahwa bersyukur akan jauh lebih melegakan ketimbang mengeluh? Ingatkah kita bahwa “hati yang gembira adalah obat”, seperti yang dikatakan oleh Salomo? Terkadang kita menertawakan sifat orang Jawa yang selalu melihat sisi positif dari sesuatu, seperti lawakan Warkop DKI ini :

Sifat orang Jawa itu selalu merasa beruntung! Waktu itu lagi jalan di kampung, ditimpuk sama anak kecil. Dia kan orang Batak, kalo saya kan orang Jawa. “Aduh, untung ngga kena ya.” Kalo kena juga? “Aduh untung kena tangan ga kena mata.” Kalo kena mata? “Aduh untung satu, ngga dua2nya.” Kalo kena dua2nya? “Aduh untung ngga mati.”

Terdengar konyol, dan mungkin kita akan tertawa mendengarnya. Tapi bisakah kita mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari?

Bisakah kita berkata “Untung masih bisa punya pekerjaan” ketika kita mengeluh harus bangun pagi-pagi untuk bekerja?

Bisakah kita berkata “Untung ada jalan tol dan jalanannya rata” ketika kita bertemu kemacetan di jalan tol?

Bisakah kita berkata “Untung masih diberi orangtua yang lengkap” ketika kedua orangtua kita sedang super menyebalkan? Atau berkata “Untung masih dicariin” ketika orangtua kita terus menerus telpon dan sms menanyakan kenapa kita belum pulang?

Atau berkata “Untung masih bernafas” ketika kita bangun tidur? :)

One thought on “betapa mudahnya mengeluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s