Koruptor

ko.rup.tor
[n] orang yg melakukan korupsi; orang yg menyelewengkan (menggelapkan) uang negara (perusahaan) tempat kerjanya

Saya tidak tahu sejak kapan “koruptor” masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun yang pasti, tanpa ada di KBBI pun saya rasa semua orang sudah paham “makhluk” apa koruptor itu.

Manusia yang, menurut saya, sudah selayaknya dihukum dengan seberat-beratnya, jika mengingat akibat dari perbuatannya. Manusia yang kelakuannya sangat tidak manusiawi, yakni mengorbankan manusia lain hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Manusia yang tidak layak disebut sebagai manusia.

Namun lantas, bagaimana jika kita dihadapkan pada kondisi bahwa kita harus memanusiakan mereka, manusia-manusia biadab tersebut? Dengan alasan sakit, dengan alasan kemanusiaan, belas kasihan, dan berbagai alasan lainnya. Cukup adilkah? Dengan menimbang-nimbang prestasi dan perbuatan jahatnya, apakah cukup adil untuk memaafkan perbuatannya?

Menilik pada kasus grasi yang diberikan pada Syaukani, mantan bupati Kutai Kartanegara yang juga adalah narapidana kasus korupsi 93miliar, maka kita dihadapkan pada sebuah dilema. Apakah beliau pantas menerima grasi? Melihat kondisinya sekarang, yang telah tergeletak tak berdaya di tempat tidur karena stroke parah yang mengakibatkan buta dan lumpuh, apakah ia tidak layak menerima pengampunan dari presiden?

Namun coba lihat perbuatannya selama ia menjabat bupati Kutai Kartanegara. Kasus korupsi yang terbukti dilakukannya, yakni kasus pembebasan tanah untuk pembangunan Bandara Kutai, penyelewengan dana studi kelayakan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana upah pungut minyak dan gas, merugikan negara hingga 93 miliar lebih. Terlepas dari sebagian dana yang telah dikembalikan, perbuatan korupsi tetaplah korupsi.

Supaya adil, mari kita tengok prestasinya. Ia adalah bupati pertama yang dipilih secara langsung di Indonesia. Ia juga telah berhasil membangun Kutai Kartanegara menjadi sebuah kabupaten yang maju, meski banyak proyek yang didanai dari hutang. Selama menjabat pula, beliau membangun Jembatan Kartanegara yang menghubungkan jalan poros Tenggarong-Samarinda. Selain itu, ada pula pembangunan Pulau Kumala yang kini dijadikan sebagai taman wisata keluarga.

Bagaimanapun, vonis telah dijatuhkan, dan hukuman penjara 8 tahun plus denda 250 juta, tetap harus dijalani olehnya. Perbuatan korupsinya, serta usaha melarikan diri yang pernah dilakukannya, seharusnya membuat beliau tidak pantas mendapatkan grasi. Namun sejak ditangkap tahun 2007 yang lalu, penyakit mulai mendera dirinya. Karma? Mungkin saja. Yang pasti, penyakit diabetes yang menggerogoti kakinya, dan yang terakhir penyakit stroke global yang membuat ia buta, lumpuh dan amnesia, jelas membuatnya tampak seperti mayat hidup. Tak ada gunanya lagi menahan beliau di penjara, toh penyakitnya telah menghukum dengan lebih sadis.

Tapi yang menjadi pertanyaan terbesar saya adalah kenyataan bahwa anaknya, Rita Widyasari, baru saja terpilh sebagai bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2015. Pelanggengan kekuasaan? Siapa yang tahu. Faktanya, kepulangan Syaukani ke Tenggarong ternyata mendongkrak suara untuk Rita. Bukti bahwa Syaukani masih dianggap tokoh penting di Kutai Kartanegara, tak peduli berapa uang pajak masyarakat yang telah digelapkannya. Fanatisme semu? Sepertinya begitu.

Jadi siapa yang salah? Syaukani kah? Atau SBY yang telah memberikan grasi padanya? Atau rakyat Kutai Kartanegara, yang telah mengidolakan orang yang salah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s