bahagia itu pilihan

Yap.

Terkadang banyaknya masalah yang datang ke hidup kita, membuat kita lupa pada sebuah kenyataan, bahwa bahagia itu pilihan. Ya ya, saya tahu pasti banyak yang kurang setuju. Tapi mari saya coba jelaskan pemikiran saya ini. :)

Manusia diciptakan dengan akal, pikiran, budi, atau apapun itu namanya. Artinya, manusia diberikan kebebasan untuk menjalankan hidupnya, meski tidak sebebas-bebasnya. Tetap ada aturan yang berlaku, misalnya norma kesopanan, hukum, dan lainnya. Namun lain halnya jika kita berbicara mengenai pikiran. Sesungguhnya, tidak ada yang mampu membatasi pikiran manusia. Maksudnya, tidak ada yang mampu membatasi apa yang manusia MAU pikirkan. Semuanya terserah.

Yang ada hanyalah KEBIASAAN. Maksudnya? Ingatkah sewaktu kecil ketika pelajaran menggambar, maka gambar apa yang akan anda gambar? Saya, sudah terdoktrin sejak kecil, untuk menggambar dua gunung, dengan sawah di kaki gunung, aliran sungai mengalir di tengah-tengah, dan mentari yang baru muncul di antara dua gunung. Bertahun-tahun saya selalu menggambar gambar yang sama, dan ketika baru-baru ini saya disuruh menggambar APAPUN sekreatif mungkin, maka saya bingung.

Kenapa? Karena kreativitas saya, pikiran saya, telah TERBIASA dengan hal-hal demikian. Padahal sang trainer membebaskan saya menggambar makhluk apapun, dalam kondisi apapun, dan bentuk apapun, sesuai imajinasi saya. Tapi apa yang mampu saya gambar? Hanya sebuah jam dinding dengan tangan, yang dihiasi selendang berwarna biru, sedang menari jaipongan. Itu pun sudah pol mikirnya. :D

Padahal, mengintip pada rekan-rekan saya yang juga menerima perintah yang sama, hasilnya sangat luar biasa. Ada yang menggambar ayam sebesar dinosaurus dengan kepala ular, ada yang menggambar peri wanita yang memiliki tangan 4 dan salah satu tangannya berhiaskan jam tangan berlian. Wow.

Apa artinya? Artinya, manusia tidak memiliki batasan atas apa yang MAU ia pikirkan. Tapi pikiran manusia terkadang dibentuk dari pengalaman hidupnya. Atau dari trauma yang pernah dialami. Atau dari pendidikannya. Atau dari keluarganya. Atau dari banyak hal lainnya. Tapi pada intinya, manusia tidak memiliki batas atas apa yang hendak ia pikirkan, selain dirinya sendiri.

Maka, apa kaitannya dengan judul post di atas? Ya, menurut saya, bahagia itu adalah pilihan. Manusia dapat mengontrol apa yang hendak ia rasakan. Seberapa hebatpun kondisi di luar dirinya yang mendorong dia untuk tidak bahagia, tapi ketika seseorang memilih untuk bahagia, maka kebahagiaan lah yang ia rasakan.

Klise ya? Tapi begitulah kenyataannya. Itulah mengapa ada orang yang hidupnya penuh dengan masalah, tapi selalu bisa tampak ceria dan menjalani hidup dengan ringan. Namun ada pula orang-orang yang sesungguhnya dipenuhi dengan orang-orang yang perhatian, hidup berkecukupan, dan ketika terkena suatu masalah langsung memutuskan untuk bunuh diri, misalnya.

Masalah akan selalu ada, selama kita hidup. Dan kadang, masalah bisa membawa kita ke dalam sebuah keadaan putus asa, tanpa harapan, dan sendirian. Tapi justru kualitas manusia terlihat dari bagaimana ia bereaksi terhadap masalah-masalah di hidupnya. Kualitas manusia terlihat dari bagaimana ia mampu mengendalikan pikirannya, untuk tetap merasa bahagia pada kondisi apapun. Kenyataannya adalah bahwa terkadang perasaan sedih atau sakit atau putus asa akan datang tanpa kita bisa menolak atau menghindar. Tapi bagaimana reaksi kita? Mampukah kita memilih dengan bijak?

2 thoughts on “bahagia itu pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s