“kebebasan” berpendapat

Membaca timeline akun twitter saya pagi ini, membuat saya menyadari satu hal : kebebasan berpendapat ternyata berstandar ganda.

Semua diawali dengan ramainya timeline saya dengan pernyataan mengecam Julian Aldrin Pasha sang jurubicara Istana terkait tulisannya di Harian Kompas 25 Agustus 2010 Hal 6. Beruntung @fadjroel memposting sebuah link yang ternyata adalah salinan @treespotter di blognya. Membaca tulisan JAP, demi keseimbangan informasi, saya juga mencari tulisan Mochtar Pabottingi yang disinggung JAP di sana. Beruntung (lagi), saya menemukannya.

Kedua tulisan inilah yang menjadi pangkal pemikiran saya, selain dari diskusi “bebas” yang terjadi di ranah twitter. Tulisan Mochtar yang adalah Profesor Riset di LIPI, sebenarnya mewakili pemikiran saya (dan pastinya banyak orang lainnya) mengenai politik pencitraan SBY dan kesulitan SBY memisahkan ranah publik dan privat (terbukti dari seringnya beliau curhat di acara-acara kenegaraan yang super resmi).

Lantas, JAP merasa perlu meluruskan. Pendapat yang (menurut beliau) miring, rasanya perlu diberi tanggapan. Supaya jelas, mungkin. Dengan pandangan seorang jurubicara istana, yang kesehariannya dihabiskan bersama sang Presiden, tidak berlebihan tampaknya jika beliau mengutarakan pendapatnya. Dan inilah yang dihina (cukup) sadis di twitter pagi ini.

Alih-alih melihatnya dalam konteks “kebebasan berpendapat“, mayoritas suara-suara di twitter (setidaknya di timeline saya) malah menciptakan sebuah kesimpulan negatif dari tulisan tersebut. Tanpa bermaksud membela siapapun, namun saya melihat ada ketimpangan dalam hal kebebasan pendapat di sana. Mengapa kita bersedia mengkritik, namun tidak siap dikritik? Mengapa kita (yang memang) berpikir terlalu sempit, lantas menganggap semua pemikiran yang bertentangan adalah tidak tepat? Adalah menghina?

Mengapa kita menggunakan standar ganda dalam hal kebebasan berpendapat? Bukankah JAP sama berhaknya seperti Mochtar Pabottingi, dan sama pula haknya dengan para pengguna twitter yang budiman? Lantas apa yang salah? Isi tulisannya? Bukankah beliau hanya menyampaikan opininya, di kolom “Opini” di harian Kompas? Tidak bisakah menanggalkan atribut “jubir presiden” yang disandangnya, dan melihat JAP sebagai warganegara?

Saya tidak memihak pada siapapun. Saya merasa terwakili kekecewaannya melalui tulisan Mochtar Pabottingi. Tapi saya juga merasa mendapatkan tantangan dari JAP melalui hak jawabnya di Kompas hari ini. Dan saya pikir, suara-suara sumbang di twitter perlu berpikir dua kali sebelum terikut arus (yang mungkin memang didesain seperti itu) politik pencitraan SBY, dan malah teralih dari isu utama kita: apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini? :)

3 thoughts on ““kebebasan” berpendapat

  1. Ya, kecenderungan “rakyat” Indonesia masa kini adalah merasa ketinggalan tren bila tidak menyengkunikan diri. Jadi ya, balapan nyinyir mengkritik berharap terjadi kisruh atau chaos-nya negeri.

    Berbahagialah kita yang berbeda dengan mereka :)

    Salam bentoelisan

    Mas Ben

  2. Jangan tanya apa yang telah pemrintah lakukan untuk mu, tanya kenapa mereka tidak melakukan nya..

  3. iya meyn, menurut gw orang-orang sekarang apalagi yd di twitter yang mengkritik itu kebanyakan cuma ikut-ikutan doang. ngeramein timeline. dan kadang supaya keliatan keren aja gitu, mengkritik pemerintah. kesannya dia sangat mengerti politik. just because you’re naked, it doesn’t mean you’re sexy. and just because you’re cynical, it doesn’t mean you’re cool. -Tom Robbins- :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s