menghakimi

Pernahkah anda menghakimi? Menghakimi (men-judge) orang lain, hampir pasti pernah kita lakukan. Berbagai info dan fakta yang kita terima, seakan-akan bersatu dalam logika dan menciptakan sebuah gambaran tertentu tentang seseorang atau sesuatu. Lantas, menghakimi menjadi tidak terelakkan, karena kadang terasa sangat mudah dan menenangkan.

Tapi pernahkah anda menghakimi diri anda sendiri? Pernahkan anda memberikan penilaian terhadap diri anda sendiri, kemudian menarik kesimpulan mengenai diri anda sendiri?

Tentu anda pernah mendengar mengenai Johari Window. Secara sederhana, Johari Window digambarkan demikian :

Known to Self Not Known to Self
Known to Others open blind
Not Known to Others hidden unknown

Johari Window adalah sebuah alat untuk membantu manusia dalam mengenal dirinya sendiri, untuk kemudian dibandingkan dengan penilaian orang lain. Dari hasil pengujian, hasilnya dikategorikan dalam 4 ruang seperti gambar di atas, yakni:

  • kolom 1 (Open : di mana kita dan orang di sekitar kita menyadari sifat-sifat kita);
  • kolom 2 (Blind : orang lain menyadari sifat-sifat yg tidak kita sadari);
  • kolom 3 (Hidden : Sifat yang kita sembunyikan dari orang lain) dan;
  • kolom 4 (Unknown : Kita maupun orang di sekitar kita tidak menyadari adanya sifat itu pada diri kita).

Ketika kita merenung, kemudian mengingat perbuatan dan kegiatan kita sehari-hari, kita menyadari sifat-sifat kita di kolom 1. Di mana orang-orang juga mengetahui sifat kita, karena kita memang menunjukkannya. Kemudian, ketika kita menerima masukan dari orang lain, kita mampu menyadari sifat-sifat kita di kolom 2, yang terkadang keluar dengan sendirinya tanpa kita sadari, namun orang lain melihatnya.

Kemudian, ketika ada trauma dan sifat yang kita pilih untuk tidak ditampilkan pada orang lain, kita mampu mengisi kolom 3 tersebut. Ini adalah area sangat pribadi, yang bahkan terkadang sangat menyakitkan dan berusaha dilupakan. Kemudian ada lagi sifat di kolom 4, yang menunggu untuk ditunjukkan, karena kita belum menyadari dan orang lain belum melihat sifat kita itu.

Menghakimi orang lain, kadang seperti melegalkan diri untuk menentukan sifat orang lain, hanya berdasarkan kolom 1 dan kolom 2. Padahal, ada banyak sifat di kolom 3 dan 4, yang juga turut membentuk orang tersebut. Adalah kurang adil, ketika 2 kolom lainnya tidak diikutsertakan dalam membentuk penilaian terhadap seseorang.

Lantas, ketika menghakimi diri sendiri, terkadang kita hanya mengikutkan kolom 1 dan 3, bahkan seringkali tanpa menghiraukan apa isi kolom 2. Tanpa ada komunikasi dan hubungan yang baik, kolom 2 menjadi sebuah area abu-abu, yang bahkan oleh kita sendiri tidak kita akui keberadaannya. Egois memang, tapi begitulah kenyataannya.

Maka mana yang terbaik?

Saya meragukan apakah kolom 4 dapat selalu diikutsertakan dalam menilai diri sendiri, karena memang tidak ada seorang pun yang tau apa isi kolom itu. Tapi, minimal, ikutsertakanlah kolom 2 dalam menilai diri anda sendiri. Bagaimana caranya? Kolom 2 dapat terisi setelah melalui sebuah proses yang panjang. Bukan instan. Membicarakan masalah sifat, tentu masalah yang sangat sensitif dalam hubungan interpersonal. Terutama untuk orang introvert, maka sifat yang sesungguhnya tidak akan tampak hanya dalam waktu sekejap. Berbagai masalah dan kondisi harus terlebih dahulu dialami bersama, baru kemudian sifat alamiah yang bahkan tidak kita sadari akan muncul dengan sendirinya.

Begitu juga dengan menilai orang lain. Berusahalah memahami kolom 2 orang lain, yakni dengan mengkonfrontir sifat tersebut kepada yang bersangkutan. Tunjukkan kondisi-kondisi ketika orang tersebut tidak sadar menunjukkan sifat tersebut. Bahkan setelah sifat tersebut dikonfrontirkan pun, masih ada kolom 4 yang tidak terduga isinya.

Inti dari tulisan ini adalah, kurangilah menghakimi orang lain, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang memahami dirinya sendiri secara sempurna dan komplit. Lantas bagaimana bisa memahami orang lain, jika dirinya sendiri masih memiliki kolom 4? :)

Percayalah, bukan anda yang tahu batas anda. Yang Menciptakan Anda lah yang paling tahu.

2 thoughts on “menghakimi

  1. ya ampun meyn setelah gw baca post ini 3 kali gw baru ngerti loh maksudnya apaan, hehehehhe, aga-aga menampar selama ini gw ngga mau terima kritikan, hmmm *ngangguk-ngangguk elus-elus jenggot*

  2. ahhh.. gapapa sih Car, gw ngerti koq keterbatasan lo.. hahaha.. :)
    sebenernya gw sih lebih menekankan ke “jangan menghakimi orang lain seenak jidat”, tapi bener juga, ternyata tulisan ini bisa jadi ajang refleksi ke diri sendiri utk selalu bisa nerima kritikan. hmmm… menarik.. hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s