jakarta jakarta

21 Agustus 2010. Sabtu.

Berbekal kamera baru (yang belum lunas), saya menetapkan hati untuk berburu foto sekaligus menjajal kemahiran saya dalam mengambil momen. Kebetulan pacar dan keluarganya sedang liburan ke Bandung, maka dengan ditemani motor (pinjeman dari abang saya) dan menenteng kamera dan netbook (lagi-lagi bukan punya saya), berkelilinglah saya di kota tercinta ini : Jakarta.

Keluar dari rumah, betul-betul tanpa tujuan. Tapi perut mengingatkan saya untuk isi bensin dulu sebelum bertualang. Pilihan dijatuhkan pada salah satu gerai makanan cepat saji yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Pokoknya inisialnya KFC.

SEBUAH GERAI MAKANAN CEPAT SAJI BERINISIAL K.F.C.

Mengisi perut di sini, saya sempatkan juga menjajal si kamera. Sengaja memilih duduk di balkon, supaya lebih leluasa mengambil gambar. Sialnya, di lantai atas restoran ini sedang ada pesta ulang tahun anak-anak, jadi berisiknya bukan main. Selipkan earphone di telinga, maka mengalunlah lagu-lagu dari mp3 player saya, yang membuat saya seakan memisahkan diri dari keramaian sekitar. Membuat saya tak perduli dengan teriakan anak-anak jahanam lucu tersebut.

Tak lama duduk mengambil gambar candid di sana, saya memutuskan untuk memulai petualangan saya. Meski mendung, semangat saya justru cerah meriah meski belum tahu hendak ke mana tujuan awal saya. Memacu motor dengan kecepatan rendah, tiba-tiba saya ingin bernostalgia dengan jalanan yang selalu saya lewati sejak SMP hingga lulus SMA : Salemba.

Sempat terpikir untuk ke Monas atau Gambir, akhirnya di perempatan Matraman saya memutuskan belok ke kiri terlebih dahulu, untuk ke stasiun Cikini dan memotret sebentar di sana. Tapi belum juga sampai di Megaria, rupanya saya tertarik pada sebuah situs bersejarah yang dari dulu sering saya lewati, namun tak pernah saya singgahi : Taman Proklamator.

TAMAN PROKLAMATOR

Maka saya belokkan motor menuju area parkir motor taman tersebut, yang ternyata tidak ada. Dengan percaya diri saya menaruh motor di pos satpam, tak lupa gembok roda dan kunci helm. Berjalanlah saya dengan santai, masuk ke dalam area Taman Proklamator. Pada 17 Agustus lalu, di lokasi ini Pong Harjatmo sang pemanjat gedung MPR DPR berorasi di sini, dan beliau mengatakan bahwa seharusnya upacara 17 Agustus dilaksanakan di sini, bukan di istana. Hmm, ngga salah sih. Tapi koq ya rada repot kalo mau upacara di sini, karena lokasinya yang kecil dan tidak simetris.

Taman bersejarah ini merupakan tempat Soekarno dan Hatta membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945. Dalam keadaan tegang dan mencekam (apalagi Soekarno saat itu tengah demam juga) karena tentara Jepang berada di mana-mana, kemerdekaan Indonesia akhirnya didengungkan di sini, di tempat ini, ke seantero nusantara dan dunia. Sungguh sebuah kehormatan bisa berada di tempat ini.

Hari itu, kebetulan ada acara dari sebuah LSM anti-rokok, mengenai pencanangan gerakan bebas asap rokok untuk usia pelajar. Cukup tertarik dengan acara tersebut, karena diisi oleh Taufik Ismail dan beberapa seniman lainnya, tapi terpaksa saya urungkan niat saya karena acara baru dimulai jam 3 sore.

Sempat berkeliling di area bersejarah ini dan mengobrol dengan beberapa aktivis LSM, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan taman tersebut. Beberapa bus terlihat telah menutupi tempat saya parkir, dan akhirnya dengan susah payah saya berhasil mengeluarkan motor dari situ.

Selanjutnya, saya masih tak tahu hendak ke mana. Tujuan saya cuma satu : Gambir. Tapi, saya mau mencoba berkeliling di daerah Menteng terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengarahkan motor ke arah Tugu Pak Tani. Berputar-putar di jalanan yang mirip-mirip, ternyata motor saya mengarah ke arah Taman Suropati. Berhubung kasihan pada bapak-bapak tua yang memanggil saya untuk parkir di tempatnya, maka parkirlah saya di sana.

TAMAN SUROPATI

Ah, taman ini indah sekali! Dengan 2 kolam besar plus air mancurnya, area publik seperti ini jarang-jarang saya temui di Jakarta. Di Bandung, taman seperti ini ada puluhan jumlahnya, dan selalu ramai di malam hari atau di akhir pekan.

Hijaunya pohon-pohon, semakin meriah dengan beterbangannya burung besi dara (atau merpati?) dengan bebas. Ditambah cuaca yang mendung dan alunan lagu-lagu dari pengamen yang (sepertinya) sedang latihan, betul-betul sebuah komposisi menakjubkan di Sabtu sore. Tak jauh dari para pengamen yang sedang mengalunkan “Malam Biru”-nya Shandy Sandoro, seorang pria gondrong dan biolanya sedang mengajar seorang anak perempuan di bangku-bangku semen. Juga ada sepasang pemuda-pemudi sedang asik pacaran.

Tak lama, datang segerombolan orang dengan membawa bongo dan alat musik seperti sasando. Ternyata, mereka adalah komunitas capoera yang hendak latihan di sana. Beberapa anak kecil bersepeda (yang terlihat sok  akrab dengan mereka), mulai mengerumun dan menonton latihan mereka.

Meski begitu, saya banyak mengarahkan kamera saya pada pasangan-pasangan yang curi-curi cium peluk di sana. Di taman yang banyak menyediakan tempat untuk duduk-duduk dan nongkrong ini, kegiatan apapun bisa dilakukan. Sayangnya, karena bulan puasa, tak banyak tukang makanan yang mangkal di sana. Sempat dilarang foto-foto oleh satpam rumah Kedubes AS yang berada di seberang taman, toh akhirnya saya tetap dapat mengambil cukup banyak foto di sana.

Selesai mencuci mata, saatnya ke target utama: Stasiun Gambir. Menyasar Berputar sedikit di tugu Pak Tani, saya arahkan motor menuju parkiran stasiun besar ini. Dengan semangat 45, saya pun berjalan menuju loket, untuk sok-sok beli tiket kereta supaya bisa masuk ke peron. Maka terbelilah tiket Bekasi Express tujuan Surabaya Bekasi seharga Rp.9000. Dan masuklah saya.

STASIUN GAMBIR

Naik ke peron 1 dengan percaya diri dan menenteng kamera, saya langsung melangkahkan kaki menjauhi kerumunan orang. Saya hanya masih merasa tidak nyaman ketika orang-orang memperhatikan saya yang petantang petenteng bawa kamera di stasiun. Setelah membidik gereja GPIB Imanuel di kejauhan, akhirnya saya mendapat kesempatan mengambil gambar kereta yang akan mampir di peron 1.

Menyenangkan sekali mengambil gambar di stasiun ini, karena ekspresi orang-orang begitu alami dan spontan. Seperti segerombolan siswi berbaju Pramuka yang hendak naik kereta Bekasi Express (yang harusnya kereta saya juga), yang langsung tersenyum malu-malu ketika saya mengarahkan kamera pada mereka. Juga wajah para porter yang belingsatan mencari posisi enak untuk melompat masuk ke kereta, ketika pengumuman berbunyi bahwa ada kereta dari Solo akan masuk di peron 1.

Bosan di peron 1, saya pindah jalur. Lewat bawah, saya beralih ke peron 3, dan langsung berjalan menuju ujung peron. Beberapa orang duduk santai menikmati pemandangan Monas yang indah di sore hari, sambil menghisap rokok. Kereta yang datang silih berganti, tidak mampu membuat saya untuk terganggu dari kegiatan saya sore itu di sana : bengong. Mengambil beberapa gambar lagi, saya memutuskan untuk duduk dan memandangi kota Jakarta dari kejauhan. Sungguh sebuah kesempatan indah, dapat menikmati kota ini dengan tenang, dari sebuah stasiun utama di Jakarta ini.

Menunggu azan Maghrib, beberapa orang mengeluarkan kartu dan bermain dengan santainya sembari saya memotret sana sini. Kereta tujuan Bandung telah membunyikan klaksonnya, tanda akan berangkat. Beberapa orang tua melambaikan tangan pada anaknya yang sudah berada di dalam kereta. Mungkin untuk kuliah. Mungkin untuk urusan lain. Entahlah. Yang pasti momen itu begitu alami, dan saya pun pernah mengalaminya beberapa tahun lalu, sebelum travel dan Cipularang terkadang merusak kesempatan langka tersebut.

Travel yang jaraknya dekat dari rumah, membuat orangtua merasa tidak perlu mengantar anaknya sebelum pergi ke Bandung. Toh sudah biasa. Toh aman. Toh deket. Imbasnya, lambaian tangan dari orangtua yang mengantar anaknya, sangat jarang terjadi. Lain halnya dengan di stasiun. Lambaian tangan akan selalu ada, karena rata-rata tujuan kereta api cukup jauh.

Azan Maghrib berkumandang, saya pun melangkahkan kaki keluar dari peron. Turun menuju parkiran motor, terlihat wajah-wajah sumringah penghuni stasiun yang sedang berbuka puasa. Meski tidak puasa, namun saya ikut bahagia melihat mereka telah menuntaskan ibadahnya hari ini.

Langit telah gelap, bukan oleh mendung, tapi oleh awan sore. Saya pun berniat mencari tempat beristirahat sebelum mencoba tempat makan malam saya : Nasi Uduk Kebon Kacang. Tak jauh dari tugu Pak Tani, saya menghentikan motor saya di sebuah kedai kopi favorit saya dan Grace, yakni Bakoel Koffie. Berada di sebrang Menteng Huis, tempat ini menjadi pilihan saya untuk sekedar mengistirahatkan kaki sebentar dan menyeruput kopi.

BAKOEL KOFFIE

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Hujan mulai turun tak lama setelah pesanan Ice Coffee saya datang. Maka saya pun mengeluarkan netbook, dan mulai memindahkan isi kamera saya ke netbook. Satu persatu saya resize supaya lebih ringan dilihat, dan mengagumi beberapa hasil jepretan saya, meski banyak pula yang mengecewakan.

Kedai ini, luar biasa nyamannya. Apalagi di tempat yang saya pilih, yakni di ruangan AC persis di pinggir jalan setapak. Melihat hujan di luar, sambil menikmati kopi, plus alunan lagu Adhitya Sofyan, seakan-akan menghapus semua keletihan saya. Apalagi pengunjung tidak terlalu banyak di ruangan ini, karena kebanyakan memilih tempat di luar untuk merokok.

Hujan tidak berhenti hingga larut, sampai Grace pun mengkhawatirkan keadaan saya. Sesungguhnya, bukan hujan yang saya khawatirkan, melainkan perut saya : lapar. Tapi makanan di kedai ini, telah beberapa kali membuat saya kecewa, dan kali ini saya tidak ingin membuat mereka mengecewakan saya lagi. Maka saya memutuskan untuk menunggu hujan reda, dan mencari makan di tempat lain. Akhirnya saat itu datang, sekitar pukul 23.00 besoknya. Dingin menggigit kulit, namun terpaksa saya mampirkan di sebuah tenda nasi uduk biasa (bukan nasi uduk kebon kacang) demi mengisi perut, karena saya yakin di rumah pasti tak ada makanan.

Hari itu berakhir dengan letih. Tapi menyenangkan. Saya menikmati kota saya, kota Jakarta yang complicated. Saya melihat Jakarta dengan sedikit dari sekian banyak keunikannya, hanya dalam sehari. Bagaimana sebuah area publik seperti taman, gerai fastfood, dan stasiun, menjadi tempat saya “beristirahat” dari semua rutinitas saya. Bagaimana kegiatan menangkap momen bisa menjadi momen juga bagi saya, yang akhirnya saya tuangkan di sini.

Selamat menangkap momen, dan jangan lupa untuk menikmati kota anda.


6 thoughts on “jakarta jakarta

  1. seandainya saya bisa menikamti jakarta, sayang seminggu di sana tidak membuat saya tergerak untuk tetap tinggal dan menikmati hiruk pikuknya. :)

  2. Jakarta yang ramai dan penuh sesak :)

    Salam persohiblogan

    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat. :)

    Mohon Maaf Lahir & Bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s