foke

Semalam, sembari tidur-tiduran sehabis kehujanan dan deg-degan karena jalanan depan rumah saya sudah banjir, tak sengaja baca timeline di twitter tentang acara Mata Najwa. Maka tergeraklah hati ini untuk ngintip sedikit, karena narasumbernya kali ini sangat-sangat-sangat menarik : Foke.

Kenapa menarik? Karena setiap pagi dan sore ketika saya berada di dalam bus dan melirik timeline twitter saya, pasti nama Foke ada di sana. Atau ketika hujan deras melanda, maka nama Foke juga ada di timeline. Ngga kebayang gimana kalo dia search sendiri namanya di twitter, pasti isinya ngga jauh-jauh dari celaan dan hinaan.

Macet yang makin gila, perilaku pengendara yang semakin beringas, banjir, pengemis, kejahatan, dan sarana umum yang jelek, mungkin menjadi alasan-alasan kita untuk menghina Foke. Dan toh tidak ada salahnya menyampaikan pendapat dan kekesalan kita di akun twitter kita sendiri. Bukan begitu? Tapi lantas acara Mata Najwa semalam sedikit membukakan mata saya tentang kompleksnya masalah Jakarta. Najwa Shihab memberondong Foke dengan berbagai pertanyaan, mulai dari masalah kemacetan, banjir, hingga baligo bergambar Foke. Beliau pun terlihat gelagapan menjawab berbagai pertanyaan yang sebenarnya sangat mewakili pertanyaan-pertanyaan di kepala saya juga.

Tapi lantas melihat Foke mengakhiri wawancara sulitnya dengan sebuah ayat suci AlQuran, membuat saya menjadi berpikir sebentar. “Janganlah sekelompok orang mengolok-olok kelompok lain, karena belum tentu kelompoknya lebih baik daripada yang diolok-olok tersebut”, kira-kira begitulah terjemahan dari ayat yang beliau bacakan. Dahi saya berkernyit. Lantas teringat pada mental instan yang memang kita, manusia Indonesia, miliki.

Presiden lambat sedikit, disuruh turun. Ada musibah di suatu lokasi, mentri disuruh turun. Dan kini, Jakarta masih banjir dan macet, Foke dihina-hina. Katanya mencederai kepercayaan rakyatyang sudah memilihnya. Katanya ngga berprestasi. Katanya cuma bisa bilang “serahkan pada ahlinya“, padahal ternyata tidak ahli. Dan berbagai teriakan lainnya.

Kita lupa, Foke bukan mesias. Foke juga bukan tukang sulap yang bisa gerakin tongkat ajaibnya, danwuuuuzzzz tiba-tiba jalanan udah ngga macet lagi. Kita pikir, dengan memilih Foke, maka masalah selesai. Kita pikir, kewajiban kita hanyalah bayar pajak-pajak semacam PBB, PB1, dan pajak lainnya. Kita pikir, rakyat Jakarta bisa diatur semua dan mau ikutin peraturan.

Kenyataannya, kewajiban kita tidak cuma sekedar bayar pajak, bung. Dari mana anda mengirim tweet marah-marah tentang macet? Dari mobil pribadi andakah? Di mana anda buang sampah anda dari mobil tersebut bung? Dari jendela mobil anda kah? Ketika macet dan menghina-hina Foke, di jalur manakah mobil anda berada? Di jalur busway kah? Andakah yang berkantor di daerah three-in-one dan sengaja menunggu waktu three-in-one selesai baru keluar kantor, supaya tetap bisa bawa mobil ke kantor? Ketika daerah rumah anda banjir, sudahkah bikin sumur resapan di halaman rumah anda? Kenalkah anda dengan tetangga anda, dan ikut mengajaknya membuat sumur resapan juga di halaman rumahnya? Pernahkah anda membersihkan saluran air di depan rumah anda?

Mental orang-orang yang bilang “gw kan udah bayar pajak, ya lo kerja yang bener dong Foke!” sebetulnya mental feodal. Mental yang menyebabkan calo SIM akan selalu ada. Mental yang menyebabkan orientasi kita masih terfokus pada uang. Mental koruptor! Mental yang membuat anda akan mencari uang sebanyak-banyaknya, supaya bisa mengatur orang lain, dan tidak mau direpotkan dengan hal lain. Mental yang membuat anda akan selalu menyalahkan keadaan, dengan alasan anda sudah mengeluarkan uang untuk itu.

Jadi, jangan cuma puas dengan menghina-hina Foke di twitter atau FB. Energi yang digunakan, akan sama dengan energi anda untuk menunggu bus di waktu pergi dan pulang kerja. Energi yang sama pula, dapat digunakan untuk membersihkan saluran air di depan rumah. Tak ada gunanya hanya menggantungkan harapan pada Foke, tanpa anda juga membantu mengurangi beban kota Jakarta.

Nah, kalo semua sudah dilakukan, dan Jakarta masih begini-begini juga, baru anda berhak bilang :FOKE YOU! :P

 

6 thoughts on “foke

  1. kayanya kita butuh transportasi masal spt transjakarta atau monorel gitu. kalo metromini atau mikrolet kerjaannya ngetem melulu. kalo pake sistem gaji bisa ngga kemacetan jd teratasi?jd sopir2 angkot di gaji bukan kejar setoran. semacam sopir transjakarta gitu. jd mrk ngga akan ngetem yg ngebuat jalanan makin macet. *tp siapa yg mau ngegaji ya?* ngomong-ngomong itu BKT bukannya mau dijadiin sbg sarana alat transportasi juga ya?tapi kok blm beroperasi sih?malah jd tempat pacaran. pdhl BKT kan kebanggan daerah rumah gw T_T —> ngga nyambung.
    oh trus sbg pejalan kaki,gw juga berharap bgt ada trotoar yg memadai. kalo skrg, trotoar digerus jd tempat jualan atau kaya yg di depan proyek kuningan city. itu kan trotoar nya rusak gitu,kok bisa ya mrk dikasih ijin buat ngerusak trotoar juga?belom lagi motor2 yg seenak udel naek ke trotoar. serakah emang tu motor2.
    aduh maap ya, gw bukannya comment malah curhat. :D

  2. Kenyataannya, kewajiban kita tidak cuma sekedar bayar pajak, bung. Dari mana anda mengirim tweet marah-marah tentang macet? Dari mobil pribadi andakah? Di mana anda buang sampah anda dari mobil tersebut bung? Dari jendela mobil anda kah? Ketika macet dan menghina-hina Foke, di jalur manakah mobil anda berada? Di jalur busway kah? Andakah yang berkantor di daerah three-in-one dan sengaja menunggu waktu three-in-one selesai baru keluar kantor, supaya tetap bisa bawa mobil ke kantor? Ketika daerah rumah anda banjir, sudahkah bikin sumur resapan di halaman rumah anda? Kenalkah anda dengan tetangga anda, dan ikut mengajaknya membuat sumur resapan juga di halaman rumahnya? Pernahkah anda membersihkan saluran air di depan rumah anda?

  3. apa rakyat nggak boleh bawa mobil pribadi padahal nggak ada transportasi massal yang cepat nyaman dan aman. banyak orang yang langsung kumat kolesterol dan jantungnya kalau disuruh naik kopaja dan metromini. jadi nggak usah pergi kerja aja karena naik mobil pribadi dilarang dan naik angkutan umum stres. bus way juga salah karena mengurangi jatah pemakai jalan yang lain. harusnya bus way bikin jalur sendiri dong seperti monorel. sejak ada bus way jakarta tambah macet karena jalanan berkurang 1 jalur. lagipula saya belum pernah lihat foke dan anak buahnya naik bus way. kenapa rakyat disuruh naik bus way tapi foke ke mana mana pakai pengawalan yang bikin macet. sampah juga tidak dikelola dengan baik. semuanya itu tugas pemda. kalau nggak bisa dari awal jangan ngaku jadi ahlinya dong.

  4. logikanya harusnya dibalik Mas/Mbak. bukannya rakyat ga boleh bawa mobil pribadi kalo angkutan massalnya masih serabutan. nanti jadi seperti mencari yang mana duluan antara ayam dan telur. bukan begitu?

    Nah, kalo masalah busway, apakah ribuan pengguna busway itu tidak punya hak juga untuk berjalan di jalanan yang sama seperti yg dilewati oleh ribuan bahkan jutaan mobil pribadi? coba anda hitung berapa space yang digunakan oleh busway, dibagi dengan jumlah penggunanya per hari. lalu bandingkan dengan space yg digunakan oleh jumlah orang yang sama, yg bepergian dengan mobil pribadinya. Berapa perbandigannya? Masih protes bahwa mobil pribadi ngga ngambil space lebih banyak drpada busway?

  5. dear mas bukan foke,
    menurut saya TransJakarta cukup membantu loh. saya ngga protes bagian jalanan diambil buat jalur TransJakarta. ya masalah macet ini sih intinya memang krn makin bertambahnya kendaraan bermotor setiap harinya. kadang macet bisa terjadi tanpa sebab (ngga ada yg mogok, ngga ada pejabat yg lewat, bahkan ngga ujan, tapi tetep macet) macet sekarang ini krn kendaraan yg terlalu padet.
    tapi tetep TransJakarta menurut saya sangat membantu. apalagi kalo armadanya ditambah dan ngga telat-telat lagi. :)

  6. setuju ama postingan yang ini… ngaca dulu udah membantu ngatasin (atau paling enggak ngurangin) macet or banjir apa belom? kalo udah dan gag sukses juga baru deh maki2 foke… demikian :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s