Daniel Sahuleka

Yes! Daniel Sahuleka!

Penyanyi legendaris kelahiran Semarang ini telah memukau saya sejak saya mendengar lagunya di tahun 2004-an lalu. Suara yang begitu jernih dan unik, serta iringan musik minimalis (hanya gitar akustik saja) membuat saya begitu menikmati setiap lagu miliknya.

Maka begitu kesempatan itu datang (setelah pada bulan Maret lalu saya ketinggalan informasi konser beliau), saya langsung mengajak Gre untuk nonton. Dan kami, yang dulu sering sekali mengolok-olok suara Daniel Sahuleka yang terdengar lucu di telinga kami, memutuskan untuk memesan tiket konsernya sejak awal Oktober lalu.

Dan tibalah harinya. Dengan penuh semangat (saya teringat DVD konser Daniel Sahuleka yang pernah diputar adhie – teman askom saya – di mobilnya dalam perjalanan kami ke Ciater beberapa tahun lalu), kami pun merencanakan petualangan konser kami ke GKJ yang belum pernah kami datangi.


Diawali dengan pekerjaan yang menumpuk (karena konsernya dilangsungkan hari Kamis), plus hujan yang turun, membuat saya agak khawatir mengenai perjalanan ke arah GKJ. Menunggu Gre pulang kerja ditemani Ice Chocolate Anomali dan Maquis (ahey!), saya pun ganti baju untuk date kami kali ini. Tak lama gre datang, dan setelah cukup lama menunggu taksi di depan Setiabudi One, perjalanan kami pun dimulai.

Dengan contekan di tangan (hasil google-map di jam kerja), beberapa kemacetan dapat kami tembus dan sampai di GKJ persis jam setengah 8. Gerimis masih terus turun dari langit, dan menambah romantisnya malam itu (ahey lagi! hihihi). Can you imagine? Konser Daniel Sahuleka + gedung kesenian + malam + gerimis + pacar? :P

Mendapat tempat di balkon (sesuai pembicaraan di telpon dengan pihak GKJ), tepat jam 8 lewat 15 menit, gong pun berbunyi 3 kali, dan sang MC tampil ke panggung. Mata saya tidak lepas menikmati pemandangan indah auditorium Gedung Kesenian Jakarta, plus lampu temaram yang menggelayuti atap ruangan besar tersebut. Hampir semua kursi terisi, dan ketika lampu diredupkan, muncullah Daniel Sahuleka dari arah belakang auditorium. Yeah! Sembari ia melambai ke seluruh penjuru ruangan, saya rasanya tak percaya telah melihat salah satu legenda hidup (setidaknya menurut versi saya), yang lagu-lagunya senantiasa menemani perjuangan saya di Bandung dan Jatinangor. Menemani saya ujian, proyek Lab, KSEP, dan semua masa-masa bersama Gre di Bandung.

Dan inilah : Daniel! Membuka konser dengan lagu “If I Didn’t” yang super romantis, alunan intro dan melodi dari gitarnya betul-betul membuai saya. Menerbangkan saya kembali pada kota Bandung dan Jatingangor yang telah menjadi sebuah kenangan romantis bagi saya dan Gre. Membawa pikiran saya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Membuat saya melupakan rutinitas kerja dan kota Jakarta yang gila.

If I didn’t have you then
What will become of me?
If I had never met you girl
How would my life be?
Would I be the same?
If I’d been loving another name
Would I stay untamed
Would there be any aim?

Lalu berturut-turut ia menyanyikan lagu-lagu hitsnya yang telah mendunia. Di awal lagu “Tiada Lagi Cinta”, ia menceritakan bahwa lagu ini bertutur tentang dirinya yang kehilangan seseorang, dan menginspirasinya untuk menciptakan lagu ini. Lagu “Semarang”, yang dinyanyikannya kemudian, adalah cerita mengenai kota kelahirannya. Ia banyak bercerita mengenai pengalamannya pertama kali ke Jakarta, dan bermimpi untuk kembali ke kota kelahirannya. Ketika sampai di Semarang, ia pun langsung mencium tanah dan bersyukur karena dapat mewujudkan mimpinya.

Lagu “Sunfight” menceritakan tentang melepaskan seseorang untuk mengejar mimpinya, yang lagi-lagi diceritakannya sebelum mulai bernyanyi. “I Adore You” menyusul kemudian, yang dilanjutkan dengan lagu hitsnya yang menurut pengakuannya diciptakan di kamar tidurnya : “You Make My World So Colorful”. Lagu inilah yang seringkali saya dan gre jadikan sebagai jokes, karena artikulasi Daniel yang begitu “tajam”. :)

Daniel kemudian berlanjut menyanyikan beberapa lagu yang tidak familiar di telinga saya, yang salah satunya berjudul “Rain”. Improvisasi luar biasa Daniel banyak dilakukan di lagu ini, yang dinyanyikan dengan sangat harmonis, berpadu dengan alunan gitarnya. Ia banyak berinteraksi dengan penonton, terutama ketika menceritakan makna di balik lagu-lagunya, termasuk lagu (yang katanya) terakhir di konser malam tersebut : “Don’t Sleep Away This Night”. Daniel menceritakan bagaimana latar suasana lagu tersebut, yang menceritakan sepasang kekasih yang ingin berjaga semalaman, sekedar mengobrol, karena tahu bahwa besok mereka akan berpisah. Bagaimana perasaan ketakutan akan setiap detik yang berlalu, membuat saya menjadi sedih membayangkannya.

Dan usai lagu tersebut, penonton terus meneriakkan “more!“, dan Daniel kembali menyanyikan sebuah lagu yang berisi pesan sosial, yang saya lupa judulnya. Ia tampak menikmati penampilannya, dan terus bernyanyi berbagai lagu improvisasi dan lagu daerah Maluku, hingga taksi yang saya pesan menelpon dan mengabarkan bahwa ia telah menunggu di sebrang GKJ. Tepat pukul 22.15, Daniel pun menutup konser (dengan alasan ia harus ke Yogya besok pagi), dan gegap gempita tepuk tangan dari penonton yang memberikan penghormatan dengan berdiripun akhirnya menutup konser tersebut.

Sampai jumpa lain kali, Daniel! Mungkin di earphone saya besok pagi. :)

3 thoughts on “Daniel Sahuleka

  1. One of our many unforgettable dates :)
    Lagu pembukanya perfect sekali <3
    Thank you mik, for taking me to the lovely unique concert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s