anjing

Seingat saya, sejak saya lahir hingga hari ini, rumah orangtua saya di Jatiwaringin selalu diramaikan dengan anjing-anjing, kecuali medio tahun 2000-2001. Pada periode itu pula, Honda Supra milik ayah saya hilang digondol maling ketika kami sedang tidur. Sejak itu, rumah saya tidak pernah absen dari anjing, bahkan minimal 3 ekor.

Sejarah anjing di rumah saya berawal dari seekor anjing Peking bernama Eki. Tentu saja, “eki” berasal dari nama “bleki“, yang disingkat sok imut menjadi “eki”. Tapi jangan salah, meski namanya imut, namun kelakuannya amit-amit banget. Anjing tergalak yang pernah saya punya! Dengan moncong pendek dan mata buta sebelah (akibat pernah ditusuk oknum tidak bertanggungjawab ketika rumah orang tua masih di Cawang), anjing ini super sensitif. Entah sudah berapa kali ayah saya digigit hanya karena hendak menggendong dia.

Selepas kematian Eki di bawah mobil, kami memiliki banyak anjing. Beberapa yang saya ingat antara lain Buli, seekor anjing kampung yang kami ambil dari Puncak (yeah), yang berwarna putih kecoklatan dengan bulu yang keriting. Tak lama dari Buli, kami kembali memelihara Piko, seekor anjing kampung yang warna bulunya hitam legam, dan karena itulah sepertinya namanya Piko (diambil dari “kopiko”, permen kopi).

Lani dan kembarannya, Lina (kalo saya ngga salah ingat), juga merupakan anjing yang kami pelihara sembari ada Piko. Namun sayang, anjing yang sekilas mirip Siberian Husky ini, tewas dilindas mobil tetangga. Ya, sudah ngga terhitung lagi berapa banyak anjing kami yang mati sia-sia, mulai dari tewas ditabrak mobil, hingga diracun oleh orang – entah siapa-.

Selepas itu, mantan pacar kakak saya memberikan Jamie kepada kami. Anjing sejenis Pomerian ini menjadi anjing pertama yang punya hak penuh untuk keluar dan masuk rumah. Dia juga boleh tidur di kursi, kasur, karpet, dan tempat lainnya yang dulu sangat terlarang bagi anjing di rumah kami. Jamie memiliki ekor air mancur yang unik, dan akan heboh menggonggong dan mengibaskan ekornya kalau mendengar suara “hussss..”!

Sekitar 4 tahun memelihara Jamie, akhirnya ia meninggal (saya lupa apa penyebabnya), dan rumah kami mengalami kekosongan anjing. Dan terjadilah tragedi menyesakkan itu. Motor saya yang terparkir di teras rumah dengan kunci stang dan kunci roda, ternyata digondol maling menjelang subuh. Entah bagaimana caranya, para garong berhasil membuka gembok gerbang dan kunci roda motor tersebut, tanpa diketahui oleh satpam dan kami yang sedang tidur. Sejak itu, ayah saya langsung berpikir untuk memelihara anjing lagi.

Jamie

Dan datanglah Jamie (versi 2.0). Sejujurnya, kami malas mencari nama untuk anjing jenis Dachshund ini.  Maka, dengan alasan kepraktisan, kami menamainya Jamie juga. Dan ternyata, Jamie ini lah anjing yang paling lama yang pernah saya pelihara! Datang ke rumah saat berumur satu tahun (kalu ngga salah) di tahun 2001, dan baru saja meninggal sekitar 2 bulan lalu, karena sudah terlalu tua. Matanya sudah buta karena katarak, dan pencernaannya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Dokter hewan di dekat rumah saya sudah 2 kali mengusulkan untuk disuntik mati saja, namun kami sekeluarga menolak dengan keras (ya iyalaaahh).

Padahal di masa mudanya, Jamie adalah anjing yang sangat periang dan berisik. Jamie juga sangat manja dan uniknya, dia tidak pilih-pilih akan manja kepada siapa. Jamie juga bukan anjing pendendam, buktinya ketika abang saya mengamuk padanya karena menyobek-nyobek koran yang tidak sengaja jatuh ke tanah, malamnya ia tetap akan berlarian keliling rumah ketika abang saya pulang, dan tidak berhenti hingga ia dipanggil namanya.

Jamie Melet

Sepanjang memelihara Jamie sebagai “anjing utama” kami, sudah banyak sekali anjing kampung yang kami pelihara juga. Banyak juga kejadian melahirkan dan kematian yang harus disaksikan oleh kami, dan oleh Jamie juga. Pernah suatu waktu, anak dari Tinkerbell, meninggal satu persatu karena terkena virus. Tak jarang pula kami harus meninggalkan anjing kami di lokasi tertentu atau memberikannya kepada saudara, karena kami kesulitan merawat mereka.

Miki

Salah satu yang bertahan hingga saat ini, adalah Miki. Perawakannya mirip dengan jenis Golden Retriever hanya saja Miki tidak tumbuh besar seperti Golden. Anjing jantan ini entah sudah berapa kali kawin dengan Tinkerbell, dan dengan anjing-anjing lainnya. Miki kami rawat sejak lahir, dan terpilih untuk menjaga rumah kami, menggantikan tugas Jamie yang saat itu sudah sakit-sakitan. Miki muda sangat aktif bergerak, dan punya nafsu makan yang sangat besar. Mukanya yang cantik terkadang menyebabkan ia dikira betina, padahal ia jantan tulen.

Nah, daritadi kita ngomongin Tinkerbell, sebenarnya bentuknya seperti apa sih? Tinkerbell ini, saya yakini adalah anak dari Jamie, dilihat dari bentuk badannya. Kakinya yang pendek (meskipun bulunya berwarna putih belang coklat) dan badannya yang panjang, jelas-jelas diwarisi dari Jamie.

Tinkerbell

Tinkerbell merupakan satu-satunya betina di rumah, dan itulah yang menyebabkan ia menjadi primadona ketika musim kawin tiba. Dalam 2 tahun terakhir, Tinkerbell telah 2 kali melahirkan, dan anak-anaknya telah banyak yang berpindah tangan karena kami tidak sanggup mengurus 10 ekor anjing bersamaan. (Ya iyalah yaa).

Kelahiran terakhir, sekitar sebulan yang lalu. Dan anaknya kali ini lucu-lucu sekali! Saya kurang tahu, siapa ayah dari anak-anaknya, namun melihat dari warna, bentuk muka dan corak bulu anak-anaknya, kemungkinan terbesar ayahnya adalah Miki. Meskipun ketika saya interogasi, Miki mengaku banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang di dalam bersama-sama Tinkerbell. Ah, dasar anjing. :D

Dan inilah anak-anak Tinkerbell, total 5 ekor, namun 2 ekor telah meninggal dunia karena terkena Parvo. Gejalanya muntah-muntah, berak darah dan berbau amis, serta tidak nafsu makan. Meski kami telah mencoba merawat keduanya (Zara dan Babon), namun ternyata Tuhan berkehendak lain.

1. Simba

Simba

Simba merupakan anak anjing kesayangan saya. Jantan yang satu ini, mengikuti sifat ibunya, yakni penakut. Ada bunyi-bunyi aneh sedikit, ekornya akan masuk dan berjalan merayap. Ia diberi nama Simba karena mukanya (waktu baru lahir) terlihat seperti singa. Tapi koq sekarang malah jadi lucu begini ya?

2. Si Putih

Si Putih

Si Putih diberi nama Si Putih karena kami sudah pusing mencari nama yang tepat untuk si badung yang satu ini. Sejak bisa berjalan dan berlari, Putih lincah banget ke sana ke mari, sampai akhirnya kakinya keserempet roda pagar. Nangis meraung-raung, dan sejak itu ia jadi sedikit kalem, meskipun mukanya tetap saja nakal.

3. Batik

Batik

Sebenarnya saya kurang setuju dengan nama Batik. Tapi kakak saya dengan semangat menjelaskan “liat tuh, mukanya mirip sama babon, tapi badannya leutik (kecil)”. Dan voila, jadilah Ba-Tik, Babon nu Leutik. Anda tidak salah kalau agak-agak *doeng* denger namanya. Saya juga koq.

Batik yang tadinya kalem, belakangan berubah beringas. Mulai suka gigit-gigit barang, dan kejar-kejaran sama anjing gede lainnya. Tampangnya emang agak bloon, terutama karena matanya yang agak kurang sinkron. Betina yang satu ini selalu teriak-teriak kalo lagi jadi bahan gigit-gigitannya si Putih.

4. Zara (RIP November 2010)

Zara

Zara adalah anjing pertama yang kena Parvo. Awalnya dikira salah makan (biasanya anak anjing suka makan plastik dan itu bikin dia sakit perut), namun setelah 2 hari muntah-muntah dan berak darah, Zara kelihatannya positif Parvo, dan menularkannya pada Babon.

Nama Zara diberikan karena belang di mukanya yang seimbang di kiri dan kanan, yang membuatnya terlihat seperti Zorro. Berhubung ia adalah anjing betina, maka kakak saya dengan semena-menanya memberikan nama Zara padanya.

5. Babon (RIP November 2010)

Babon

Babon juga merupakan nama pemberian kakak saya. Tak lama setelah Zara muntah-muntah, Babon yang awalnya terlihat segar tiba-tiba jadi lemas dan tidak mau minum susu. Semalaman saya memberikan air gula dan obat antibiotik kepadanya, namun ternyata ia hanya mampu bertahan satu malam saja. Keesokan siang harinya, Babon yang terlihat sangat lemas akhirnya meninggal juga, menyusul Zara.

Babon tipikal anjing penurut dan tidak rewel. Yang istimewa adalah mukanya yang sangat eskpresif dan sadar kamera. Liat aja fotonya di sebelah tuh. Bisa-bisanya dia bergaya pas lagi tidur-tiduran begitu.

Dan begitulah kisah tentang anjing di rumah saya. Saat ini masih dihuni oleh 3 ekor anjing dewasa dan 3 ekor anak anjing, yang luar biasa ributnya kalau ada tukang sampah mengorek-ngorek tempat sampah, atau meraung-raung ketika tukang es Walls lewat. Ah, dasar anjing! :)

 

4 thoughts on “anjing

  1. Gan,saya pny anjing mirip bgt am miki,namanya jg miki.tapi betina.
    Saya mau kirimin gambarnya ke agan biar agan liat mirip bgt

  2. Apakah saya boleh bertanya? Apakah boleh memelihara anjing lagu setelah punya anjing lebaran tahun lalu mati karena kena parvo?

  3. @asha

    harusnya sih gapapa, asalkan area rumah/tempat tinggal sudah dibersihkan dulu setidaknya dengan karbol (antisepctic), untuk antisipasi masih adanya bakteri di sana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s