deal with it

Kantor saya tiba-tiba suram. Gosip-gosip restruktutisasi besar-besaran yang telah beberapa saat menjadi gosip, ternyata benar adanya. Adalah Pak Kepala Divisi yang mengumumkan secara langsung mengenai rencana manajemen untuk “merampingkan” jumlah karyawan. Ditambah lagi dengan pernyataan manajemen yang diwakili langsung oleh Pak Dirut, suasana hari-hari belakangan jadi tambah murung saja.

Dan hari yang ditunggu tiba. 3 hari setelah informasi tersebut dideklarasikan secara formal, manajemen memutuskan untuk merealisasikan kebijakannya. Gosip dan fakta mulai bercampur baur, telepon mulai berbunyi menanyakan kabar, dan satu persatu mulai mengemasi barangnya. Tanpa saya sangka, teman saya yang membuka jalan saya berkarir di sini, termasuk satu di antaranya. Kaget pastinya, karena setelah keputusan dibacakan maka mulai esoknya, ia sudah tidak perlu datang lagi ke kantor.

Shock. Mungkin itulah yang bisa saya gambarkan dari kejadian kemarin. Entah apalagi yang dirasakan oleh teman saya tersebut, dan 42 orang lainnya yang mengalami hal yang sama. Masa depan yang sudah dirancang dengan sebaik-baiknya, kandas di depan mata. Optimisme yang dirasakan sejak awal masuk kantor sini, sirna dalam sekejap. Berganti dengan kekecewaan, kekalutan, dan sakit hati.

Kedua teman saya yang menjadi “korban”, masing-masing sudah punya rencana untuk masa depannya. Menikah, punya rumah, bisnis, dan lain-lain. Hidup mungkin terasa berhenti bagi mereka, dan sulit rasanya mencari logika dan pembenaran atas semua yang terjadi. Hidup rasanya seperti jungkir balik, dan meruntuhkan semua yang ada di dalamnya.

Tapi persis seperti kata Kepala Divisi saya, life must go on. And all we have to do is to deal with it. Hidup belum berakhir, dan malah mungkin di sinilah awal kehidupan. Hidup tidak pernah berhenti berusaha untuk kita, hanya terkadang kitalah yang berhenti berusaha untuk hidup. Hidup tidak pernah tidak adil, hanya kita saja yang keliru mendefinisikan keadilan.

Tuhan tidak pernah menjanjikan anda tidak akan mengalami kesulitan. Tapi Ia berjanji, ia akan selalu menemani dan menuntun anda keluar dari semua kesulitan. Yang bisa kita lakukan hanya pasrah, dan berdamai dengan hal tersebut. I do my best, God do the rest. Semoga sukses, kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s