Nano Surbakti

Pertengahan 2006. Ruangan Multimedia GII Hok Im Tong Dago, Bandung.

Itulah pertama kali saya bertemu dengan beliau. “Nano”, katanya memperkenalkan diri. Orang yang tidak banyak bicara, dan cenderung pendiam. Saya yang masih belum familiar dengan orang-orang di ruangan tersebut, diperkenalkannya satu-satu dengan para penghuni lama ruangan tersebut. Tak lama, kami mengobrol sedikit, terutama tentang pengoperasian Easy Worship, software yang digunakan di gereja tersebut.

Sosoknya yang sedikit tertutup, membuat saya nyaman dengannya. Ya, pada dasarmya saya juga tidak banyak omong terhadap orang yang baru saya kenal. Maka ketika saya bertemu dengan beliau yang juga tidak banyak tanya tentang saya, saya nyaman. Beberapa minggu kami lewati hanya dengan obrolan ringan seputar pelayanan, gereja, dan Easy Worship. Jarang sekali pembicaraan kami menyentuh zona pribadi masing-masing.

Tapi tanpa saya harus mengenal pribadinya, semua tercermin dalam perbuatannya. Saya melihat bagaimana ketulusan dalam melayani betul-betul ia tunjukkan setiap harinya. Juga bagaimana keramahannya pada orang-orang, yang membuat orang lain tidak ragu meminta pertolongan darinya. Tak jarang, karena tak tegas menolak permintaan semena-mena, ia sendiri yang kerepotan. CD-CD bertuliskan “to : Nano” dan request dari berbagai komisi untuk diputar pada saat kebaktian, terkadang membuat ia bingung mana yang harus diprioritaskan.

Tak terasa ada kesombongan ketika ia memberitahu saya bahwa ia sedang mengambil S2 di ITB, dengan biayanya sendiri. Tak pula ada nada bangga yang berlebihan ketika ia mengatakan bahwa telah lama melayani di Multimedia dan AV (Audio Visual) GII Hok Im Tong. Juga bagaimana ternyata kemampuan teknisnya dalam IT sudah begitu mumpuni, baru saya ketahui setelah sekian bulan lamanya kami berinteraksi.

Maka ketika saya lulus, kembali ke Jakarta dan mendengar kabar bahwa ia terkena penyakit Lymphoma pada September 2008 yang lalu, saya cukup kaget. Terakhir kali bertemu, beliau masih sehat walafiat, meski saya tak terlalu intens lagi berkomunikasi dengan beliau. Namun ketika saya chat dengannya (yang saat itu sudah berada di medan) seusai operasi, tak ada kesan sakit dan lelah pada dirinya. Ia bilang, operasi di colon (usus besarnya) sukses dan ternyata penyebabnya adalah kanker kelenjar getah bening. Kondisinya saat itu masih mual sebagai efek samping kemotheraphy, yang masih harus dijalaninya setiap 3 minggu.

Waktu berlalu, dan saya pun tidak terlalu memperhatikan lagi kondisi beliau. Yang saya tahu, ia sudah dinyatakan sembuh, dan kankernya telah mati.  Hingga akhirnya 2 minggu lalu, saya menerima email milis Multimedia GII Hok Im Tong bersubject “Pray for Nano”. Saya ingat sekali bahwa kalimat yang sama menjadi subject email dari teman-teman Multimedia di tahun 2008 yang lalu, ketika mengabarkan Bang Nano harus ke Penang untuk operasi colon. Email kali ini mengabarkan bahwa Bang Nano lagi-lagi terkena Lymphoma, namun dampaknya sudah lebih luar biasa. Kanker telah menggerogoti sumsum tulang belakangnya, dan kondisi beliau sangat mengkhawatirkan. Perut kembung, pusing, demam, dan berbagai gejala lainnya.

Di Medan, ia ditemani oleh tunangannya, Ika, yang dengan setia menunggu di sampingnya. Rencana pernikahan tanggal 11 Desember 2010 ini, ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. 3 Desember malam, Any, seorang teman Multimedia juga, mengirimkan SMS berisi permohonan doa karena Bang Nano akan dioperasi pada esok hari, di Penang. Namun tak lebih 2 jam kemudian, Any kembali mengirimkan SMS yang menyatakan bahwa Bang Nano telah berpulang, pukul 10 malam, sekitar seminggu sebelum hari pernikahannya.

Selamat jalan Bang Nano.

Tidak mudah bagi saya untuk percaya bahwa Bang Nano telah tiada. Namun saya bersyukur, karena Bang Nano tidak perlu lagi lebih lama menahan sakitnya. Bersyukur karena Bang Nano tak pernah menyerah berjuang untuk sehat kembali, meski Tuhan pula yang menentukan. Bersyukur karena mata saya dibukakan, bahwa kemenangan atas penyakit tidak melulu berbentuk kesehatan, namun juga kematian.

Saya juga bersyukur pada Tuhan, karena jalan kita pernah bersinggungan. Tidak lama memang, namun sangat bermakna. Dan post ini saya buat untuk anda Bang Nano, karena hidup dan matimu, telah menjadi inspirasi tak ternilai untuk saya. God must be proud of you, Bang.

But why do all good things come to an end? :(

2 thoughts on “Nano Surbakti

  1. Funny thing is, I bumped into your post just because I have a meeting with our IT team. And their IT boss has last name, Surbakti. I googled to see whether they are related or not, and found this posting.

    He is indeed a man who inspires people around him, with less word.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s