memberi

Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu membalas.

Penggalan kalimat dalam renungan harian langganan di email pagi ini, membuat saya sedikit malu. Membahas mengenai kasih (dalam kaitannya menjelang Natal), penulis mengajak kita untuk berpikir dan mengevaluasi kasih yang selama ini kita sebut “kasih”. Benarkah itu kasih?

Terkadang, ketika kita memberi (memberi apapun, bukan hanya sekedar materi) kita mengharapkan untuk mendapatkan balasan. Ketika kita membantu seseorang, pemikiran pertama adalah bagaimana peluang orang tersebut dapat mengembalikan pemberian kita. Ketika kita memberi perhatian kita pada seseorang, ekspektasi kita adalah untuk mendapatkan hal yang sama. Do unto others what you want them to do to you.

Kenyataannya, frase tersebut kita kenakan pada hal-hal yang menguntungkan kita. Berbuat baik, supaya orang lain juga berbuat baik pada kita. Membantu orang di saat susah, dengan harapan ia akan membantu kita di saat kita susah. Mengasihi, dan berharap kita juga dikasihi. Salahkah?

Memang tidak salah, namun ada baiknya kita memperbaiki motivasi kita dalam memberi. Karena kenyataannya, Tuhan tidak memberikan apa yang kita ingingkan, melainkan apa yang kita butuhkan. Ketika kita tetap berpikir dengan konsep “do unto other what you want them to do to you”, maka kecenderungan ketika orang tersebut tidak membalas apa yang kita lakukan adalah munculnya kepahitan. Atau yang lebih “akut” adalah ketika kita mempertanyakan Tuhan : “Apa salah saya?”.

Ayub dan Yusuf melakukan banyak kebaikan, tapi apa yang mereka dapatkan? Ganjaran baik kah? Ayub bahkan dibenci oleh istrinya sendiri. Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya. Apakah mereka terfokus pada konsep “memberi supaya diberi” tadi? Saya yakin tidak. Ayub dan Yusuf adalah orang yang memiliki kasih luar biasa, yang dapat berpikir bahwa memberi bukanlah supaya diberi, namun karena mereka telah diberi sebelumnya.

Kutipan saya tadi di atas mengajak kita untuk memberi bukan hanya kepada orang-orang yang dapat membalas, namun yang tidak dapat membalas, dan bahkan pada orang-orang yang membalas dengan negatif. Mampukah kita?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s