Jonathan Darius Parlinggoman Bukit

Hm, lagi-lagi nama sebagai sebuah judul. Hmm.. :)

Dalam kehidupan, pasti akan ada kematian, dan tentu ada kelahiran. Ya, post ini tentang kelahiran. Akhirnya saya jadi tulang (dalam bahasa Indonesia : paman). Lewat sebuah proses persalinan yang cukup panjang, akhirnya kakak kandung saya melahirkan bayi laki-lakinya secara normal : Jonathan Darius Parlinggoman Bukit.

18 November 2010, sekitar pukul 22.00.

Saya yang baru saja sampai di rumah, langsung ditodong oleh Mama saya untuk menemani beliau ke RS Cikini, untuk menjenguk kakak saya. Bukan, bukan sebagai pengemudi, tapi lebih sebagai asisten pengemudi. Karena saya belum berani-berani juga untuk belajar nyetir, alhasil si Mama yang beberapa jam kemudian akan menjadi si Ompung harus menyetir sendiri ke mana-mana, dengan saya sebagai navigator dan teman ngobrolnya.

Tak lama bersiap, kami sudah di perjalanan menembus jalanan malam. Mama sedikit menggambarkan apa yang sedang dialami oleh kakak di RS, yaitu mulainya kontraksi-kontraksi dan bukaan-bukaan. Sesungguhnya saya agak malas membayangkan apa maksudnya, tapi karena si Mama terus menerus mencekoki saya dengan pengalaman beliau dulu, mau tak mau jadi terbayang apa yang dimaksud dengan kontraksi dan bukaan.

Sampai di RS Cikini setengah jam kemudian, kakak saya yang berada di ruangan kelas 2 (isi 6 tempat tidur) ternyata sedang kesakitan. Tidurnya miring, mata terpejam, dan teriakan-teriakan diikuti erangan-erangan menjadi pemandangan pembuka saya malam itu. Okay. Not good. Di sampingnya, suaminya dengan muka kelelahan sedang pasrah diremek-remek tangannya oleh si kakak. Di sana ada pula calon ompung satu lagi, yaitu mertuanya kakak saya. Mereka sudah sibuk pijit-pijit dan elus-elus perut, sementara saya tidak tahu harus apa.

Rasanya miris sekali melihat pemandangan seperti itu. Pikiran saya pun melayang, membayangkan sekejam apakah saya dulu ketika dalam masa-masa seperti ini. Seberapa sakitnya penderitaan yang dirasakan oleh Mama saya ketika itu? Sesulit apakah menahan sakit ketika mengandung saya? Tak tega melihatnya, karena kakak terlihat sangat kacau, berkeringat, kesakitan, meracau, dan tersiksa sekali. Tak jarang mama mengelus perut kakak sambil bergumam “Ayo Nathan, cepet keluarnya ya, kasian itu mamanya sudah kesakitan“. :(

Saya terdiam, dan pandangan saya nanar. Membayangkan betapa tidak tahu terimakasihnya saya pada Mama saya yang telah susah payah mengandung saya dan menahan sakit di masa-masa kontraksi seperti ini. Betapa kurang ajarnya saya dengan melawannya selama ini. Betapa tak tahu dirinya saya tiap kali saya mengatakan hal buruk tentangnya. Huff.

Tak lama, kakak saya berpindah arah, menjadi ke arah saya. Kakinya kram, dan harus berbalik badan. Tangannya mencari-cari tangan saya, dan sambil berteriak kesakitan, ia meremas tangan saya tiap kontraksi terjadi. Semakin lama kontraksi semakin sering, dan tangan saya semakin tidak berbentuk. Muka panik saya menjadi bahan tertawaan si Mama, yang sedang sibuk mengoleskan Counterpain ke kaki kakak saya.

Beruntung, sekitar jam 12 malam suster datang dan memeriksa bukaan kakak saya. Ternyata sudah bukaan 8! Suster pun langsung menyiapkan ruang bersalin, dan menghubungi dokter Tagor. Kami juga bersiap-siap, membawa Pocari Sweat untuk tambahan cairan kakak ketika di dalam ruang bersalin, dan sibuk merapikan tikar yang bertebaran. Dan kakak pun digiring ke ruang bersalin.

00:15

Saya, suami kakak (Bang Jo), Mama, dan mertua kakak saya masih di dalam ruang bersalin. Dokter belum datang, dan menurut suster kelahiran diperkirakan mulai jam 1 pagi nanti, menunggu bukaan 10. Tak lama berselang, ternyata suster menyatakan bahwa proses persalinan akan segera dilakukan. Dokter pun datang, dan pukul 00.45 proses persalinan dimulai.

Saya dan mertua kakak saya menunggu di luar, dengan muka cemas. Tentu saja cemas, karena sudah setengah jam proses persalinan, ternyata kakak belum juga melahirkan. Beberapa kali teriakan dokter untuk menyemangati si kakak, namun suara bayi belum juga terdengar. Tak lama Mama saya keluar dengan muka pucat, menyuruh saya untuk berdoa supaya persalinan dimudahkan. Menurut dokter, tenaga kakak telah banyak terbuang ketika kontraksi tadi, sehingga ketika proses persalinan dimulai, ia sudah kelelahan.

Puji Tuhan, percobaan kedelapan (jika saya tidak salah) sekaligus terakhir sebelum dokter menginstruksikan menggunakan pompa, kakak saya akhirnya melahirkan! 19 November 2010 pukul 01.40, akhirnya terdengar tangisan baby Nathan dari dalam ruang persalinan. Saya pun masuk dan mengabadikan Nathan untuk pertama kalinya. Aura kebahagiaan terlihat ketika Mama saya keluar dari ruang bersalin, dan menghubungi keluarga dekat lainnya untuk mengabarkan hal ini. Tangis Mama saya pun tak terbendung ketika saya peluk, dan mengucapkan selamat karena ia telah resmi menjadi Ompung hari ini : Ompung Nathan. :)

Welcome to the world, baby Nathan. Selalu ingat perjuangan Mama kamu ketika mengandung dan melahirkan kamu. Ia pertaruhkan hidupnya, untuk memberi kamu hidup. Dan untuk itulah kamu hidup : menjadi alasan terbesarnya untuk selalu hidup. :)

 

Dan inilah Nathan, 2 minggu setelah kelahirannya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s