menggitar

 

Nampang dulu aah.. XP

Awalnya tidak ada niat saya sama sekali untuk belajar bermain gitar. Di masa-masa labil dulu, kakak saya malah seringkali memperdengarkan lagu-lagu Green Day dan Arkarna, dan saya sangat-sangat ingin bisa bermain drum. Apalagi memiliki kakak yang juga masih labil, keinginan saya seakan dituruti karena kakak seringkali membawa stik drum milik teman band-nya ke rumah. Bantal pun jadi sasaran pukulan saya.

Tapi waktu berlalu, dan keinginan saya untuk menggebuk drum harus kandas karena keadaan keuangan keluarga saat itu tidak memungkinkan kami untuk membeli satu set drum. Akhirnya saya pun mulai mencoba belajar gitar. Kakak saya yang sudah tahu dasar-dasar bermain gitar, mengajari saya kunci-kunci dasar yang sangat mudah, seperti D dan A. Sebelumnya kakak saya menyuruh saya sekedar membunyikan nada-nada Bass di lagu Creep, lalu mengajari saya lagu “Kiss Me”-nya Sixpence Non The Richer yang hanya berkutat di kunci D dan G. Itupun sudah susah payah.

Yamaha

Lama kelamaan, saya bosan dan bingung, karena kakak saya sudah berhenti membimbing saya. Untunglah saat itu, ada sebuah majalah musik bernama MBS (Music Book Selection), yang terbit bulanan dan berisi lirik dan chord lagu-lagu yang sedang happening saat itu. Saya sungguh terbantu dengan gambar-gambar kunci gitar di majalah tersebut, yang membuat saya terpacu lagi untuk mencobanya di gitar butut milik tulang (paman) saya ini. Diawali dengan belajar lagu The Moffats – I Miss You Like Crazy, lagu-lagu lain satu persatu mulai saya coba mainkan meski dengan terbata-bata. Lagu-lagu The Corrs, Sheila on 7, Rumah Sakit, Jikustik, merupakan lagu-lagu yang saya gunakan untuk belajar bermain gitar saat itu.

Kelas 3 SMP, mama saya yang melihat saya sangat niat belajar bermain gitar, merasa iba dan kasihan. Gitar yang sudah bekas tambalan itu akhirnya dipensiunkan, karena Mama saya berbaik hati membelikan saya gitar Yamaha di Chic’s Rawamangun! Wow! My guitar!

Dan gitar inilah yang menemani saya bernyanyi-nyanyi sumbang ataupun mencari kunci lagu-lagu “jaman sekarang” supaya bisa main-main di depan orang-orang. Sudah 10 tahun lebih dia menemani saya dalam berbagai kesempatan, mulai dari perpisahan SMP pas lagi cupu-cupunya bermain gitar, masa-masa kepengurusan di Seksi Rohani Protestan SMAN 68 Jakarta, medley Kidung Jemaat di saat ngga ada kerjaan, perpisahan kelas 3 SMA di Anyer, menemani saat-saat sendiri saya di kamar kosan di Bandung, dan bahkan pernah dianggurkan ketika saya tidak punya waktu bermain gitar setelah mulai bekerja.

Si Gitar

Kadang bermain gitar bagi saya, bukanlah bermain untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Tak peduli betapa sumbangnya suara saya, kenyataannya setiap kali bermain gitar ada perasaan bangga pada diri saya sendiri. Perasaan bahwa saya telah mampu menguasai gitar ini, dan menghasilkan nada-nada menyenangkan dari senarnya, tentu dengan kunci dan posisi jari yang benar. Perasaan bahwa saya pernah di posisi tidak bisa memainkan si gitar, tapi kini saya mampu memainkannya. Menyadari bahwa gitar ini pernah menjadi teman di kala saya susah, senang, sedih, kecewa, dan lainnya, dan dengan memainkannya sebagian emosi tersebut mengalir lewat nada-nada.

Dan ketika saya memainkannya untuk orang lain, ada perasaan bangga pula yang menghampiri. Perasaan bahwa saya telah memberikan sedikit hiburan bagi orang tersebut. Perasaan bahwa saya dibutuhkan. Perasaan bahwa saya dipercaya akan memberikan nada-nada indah untuk orang tersebut. Dan ya, itu menyenangkan!

Perasaan takjub saat 6 senar standar di gitar tersebut ternyata dapat menghasilkan berjuta-juta komposisi nada dan kunci yang indah, menguasai saya dan membentuk mindset saya tentang musik favorit saya. Tak heran, pilihan lagu saya berkutat pada permainan dasar gitar akustik yang dominan, mulai dari Daniel Sahuleka, Firehouse, The Cranberries, King of Convenience, Belle and Sebastian, John Mayer, Jack Johnson, Dave Matthews, Depapepe, dll. Dari dalam negeri ada Mocca, Ten to Five, Adithya Sofyan, Andre Harihandoyo, Endah n Rhesa, Dewa 19, dan lain sebagainya.

Dan oh ya, menurut saya, suara gitar paling bagus adalah gitar akustik dengan senar nilon, tanpa efek ataupun tambahan lainnya. Terdengar begitu klasik, alami, dan menenangkan. Aaah, mantap! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s