belkibolang

Belkibolang (2010) adalah sebuah omnibus (kumpulan film pendek) dengan tema Jakarta, malam, dan pasangan. Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh sang penulis cerita, Titien Watimena. Sungguh sebuah kesempatan langka bagi saya untuk dapat menyaksikan pemutaran film tersebut di Teater Salihara pada hari Minggu kemarin, lengkap dengan sesi tanya jawab bersama sutradara dan penulis ceritanya.

Berisi 9 film pendek dengan penyajian khas masing-masing sutradaranya, film ini dikemas dengan luar biasa : cerita-cerita unik, visual yang menarik, dan musik yang simpel tapi pas. 90 menit yang saya habiskan di tempat duduk saya benar-benar worthed. Meski temanya cukup populer, namun sutradara-sutradara yang terlibat dalam pembuatan film ini mampu sedemikian rupa mengemasnya dalam bentuk yang berbeda dan liar. Titien bercerita bagaimana ide tersebut muncul, dan kemudian dieksekusi oleh orang-orang yang berbeda. Dalam proses pembuatannya pun tidak jarang muncul ide-ide baru, seperti yang terjadi dalam film “Chit Chat”.

 

PAYUNG

Film dibuka dengan sebuah film tanpa dialog. Dengan latar malam dan hujan, seorang pria keluar dari Metro Mini, dan disambut oleh anak-anak ojek payung. Saat semua anak pergi meninggalkan pria tersebut, seorang anak perempuan dengan payung Pokemon-nya memayungi pria tersebut tanpa diminta. Si pria pun berjalan kaki, dengan si anak terus mengikuti. Mereka mulai bermain loncat-loncatan di jalanan becek, hampir tertabrak motor, dan hingga akhirnya si pria hanya berdiri di pinggir jalan dengan tatapan kosong. Saat itulah si anak perempuan tadi menggandeng tangan si pria tersebut, seakan dapat merasakan kekosongan hatinya. Ouch.

 

CHIT CHAT

Film pendek yang dibintangi oleh Marsha Timothy dan Desta ini, berkisah tentang seorang wanita hamil yang bertetangga dengan seorang pria tukang masak. Dipenuhi dengan percakapan ringan tapi berat ala warga komplek, yang dipenuhi dengan keluhan dan analogi hidup yang satir. “Kadang-kadang pasangan itu udah kayak TV ya. Kalo ngga ada, rasanya pengeeen banget beli. Pas udah dibeli, eh ditonton aja jarang. Tapi kalo ilang, langsung kesel, sebel, marah. Eh, tapi tau-tau beberapa hari kemudian, udah punya TV baru lagi..” kata si tukang masak. Tapi bukan hanya percakapan mereka yang unik, namun konsep dari film ini yang luarbiasa. Sampai di pertengahan film, semua dialog dan adegan seakan diputar kembali secara reverse. Film lalu berlanjut hingga akhirnya sampai kembali ke adegan awal, namun uniknya tidak terasa ada yang janggal dari dialog dan adegan-adegan yang seakan diputar kembali itu.

 

MAMALIA

Mengambil cerita tentang modus kejahatan pencurian motor tukang ojek dengan memanfaatkan birahi, film ini dikemas dengan vulgar dan penuh humor. Diawali dengan si wanita yang menumpang ojek sambil mencari-cari alamat, tiba-tiba di tengah jalan si wanita minta berhenti karena matanya kelilipan. Tanpa ragu ia mengangkat kaosnya, dan memperlihatkan payudaranya pada si tukang ojek. Dirayu sedikit, si tukang ojek dengan penuh nafsu mengiyakan ajakan si wanita untuk *maaf* menghisap payudaranya. Tak lama si tukang ojek pun tak sadarkan diri, dan si wanita dengan mudahnya membawa pergi motor tersebut. Ironis, karena ketika ia kembali untuk menjemput anaknya, si anak dengan lugu berceloteh “Yah Ibu, koq (motor) bebek lagi…” Ah, dasar mamalia. :P

 

PLANET GAJAH

Kisah cinta romantis tentang pasangan muda yang selalu terpisah karena si pria sering pergi ke luar negri untuk tugas. Si perempuan yang merasa ketakutan bahwa pasangannya tidak akan kembali lagi setiap kali pergi, mengajaknya untuk bermain truth or dare, seakan-akan untuk yang terakhir kalinya. Hal ini karena si pria diramal akan meninggal pada usia 25 tahun, yakni umur mereka tahun ini, atau lebih tepatnya: umur si pria tengah malam ini. Berkeliling Jakarta di malam hari sambil bermain truth or dare, hingga tepat jam 12 malam yakni ulang tahun si pria, si pria memberikan kenang-kenangan untuk si perempuan, dan lalu pergi. Setelah dibuka, ternyata kadonya adalah sebuah notebook yang sudah ditulisi oleh si pria di kolom tanggal  yang sama seperti hari ini di tahun depan: “meeting him.” Uh, so sweet. :D

 

TOKEK

Inilah film paling tidak jelas dari keseluruhan omnibus Belkibolang. Hahaha.. Bukan tanpa alasan, tapi karena sepertinya si sutradara terlalu “cerdas” untuk menuangkan idenya, sehingga eksekusinya terasa simple tapi bikin bingung. Mengambil latar di sebuah kamar kontrakan yang sedang mati lampu, film ini menceritakan kegiatan seorang pria ketika bosan dan kepanasan karena mati listrik. Mulai dari mendengar suara persenggamaan tetangga sebelah, hingga akhirnya suara tokek membuat ia penasaran. Dan ketika ia mendekat, ternyata tokek itu menyerangnya diikuti dengan teriakan-teriakan kesakitan si pria. Tamat. What the? Hahahaha..

 

PERON

Film pendek romantis, yang menceritakan seorang pria yang tertarik dengan perempuan di peron seberang. Menunggu kereta sambil mendengarkan iPod, si pria merasa dunianya sudah komplit, sampai akhirnya iPodnya mati. Ia pun mati gaya, dan terpaksa mendengarkan suasana Stasiun Gambir yang hingar bingar meskipun sudah malam. Matanya terpaku pada seorang gadis geek di sebrang, yang sedang tampak kebingungan. Ia pun menyebrang ke peron sebelah, dan membuka dialog (satu-satunya) dalam film tersebut : “Lagi dengerin lagu apa?”. Ternyata si perempuan adalah seorang tuna wicara, dan hal itu membuat si pria kecewa dan terduduk di samping perempuan tersebut. Melihat si pria kecewa, si perempuan mengambil earphone si pria, dan memasangnya masing-masing di telinganya dan di telinga si pria. Meski tak ada musik yang mengalun, si perempuan menggoyang-goyangkan kepala, seakan hendak menyesuaikan dengan musik dari earphone yang tidak akan pernah ia dengar. Si pria memandang kagum, dan ikut menggoyang-goyangkan kepala sambil menggandeng tangan perempuan tersebut. Aaah, merinding! :) Satu hal yang saya suka dari film ini adalah pemilihan musik yang sempurna, yakni lagu Naif berjudul “Senang Bersamamu”. Wuih!

 

3LL4

Film full bahasa jawa ini mengisahkan tentang seorang pelacur yang hendak mudik. Menjalani kehidupan sebagai seorang pelacur, ibunya di Jawa sana ternyata tidak mengetahui kehidupan malam anaknya. Setiap kali si ibu menelpon, selalu dijawab dengan baik dan santun, padahal si Ella ini baru saja melayani pelanggan. Komedi satir tentang salam “Assalamualaikum” tiap kali mengangkat telpon padahal Ella baru saja berbuat mesum, menjadi sebuah momen menohok bagi saya. Perjuangan Ella ternyata tak sia-sia, karena menjelang lebaran, uangnya cukup untuk pulang kampung dan membelikan ayahnya kacamata seperti yang diinginkannya. Si tukang bebek yang menjadi tempat mangkalnya pun diam-diam kagum pada Ella, karena seakan bisa membagi kehidupa hitamnya dengan kehidupan normalnya, yakni di Jawa sana. Realita, bukan?

 

ROLLERCOASTER

Sejujurnya saya tidak paham hubungan judul dengan isi film ini. Hihihi.. Berkisah sepasang pria-wanita yang berteman, dan menyewa sebuah kamar hanya untuk saling menelanjangi, karena setelah bertahun-tahun bersahabat, mereka tidak pernah saling melihat tubuh temannya. Merekapun menutup mata dengan kain, dan saling membuka pakaian masing-masing, satu persatu. Adegan demi adegan menjadi lucu (dan bukan porno), karena dialog-dialog dalam adegan tersebut terasa begitu natural dan penuh canda. Sampai akhirnya mereka sudah tak memakai apa-apa lagi, dan membuka kain yang melilit mata mereka. Mereka pun tertawa terbahak-bahak ketika akhirnya melihat tubuh sahabatnya tanpa penghalang apa-apa lagi. Uedan! Hihihi.. Angle yang tepat membuat film ini tidak terasa porno, namun menggambarkan keadaan sebenarnya, tanpa mengurangi dan melebih-lebihkan. Salut!

 

FULLMOON

Inilah film yang pertama kali dibuat (menurut keterangan Titien Watimena), namun diletakkan sebagai penutup film omnibus ini. Berkisah tentang seorang sopir taksi di malam tahun baru, yang membawa serta istrinya di kursi penumpang bagian depan. Berbagai jenis penumpang telah diangkut malam itu, mulai dari gadis cantik, ibu-ibu rempong, hingga segerombol anak muda yang sedang mabuk. Si istri yang fokus pada perayaan malam tahun baru, mulai meracau dan mengeluh ke sana ke mari di tengah kemacetan Jakarta menuju Monas, hingga akhirnya si suami muak dan menghentikan mobilnya untuk melampiaskan kekesalannya. Persis ketika ia berteriak “aku mau ceraiiiii…!!”, jam menunjukkan jam 12 malam dan bunyi terompet hingar bingar di sekeliling mereka. Si istri yang tidak mendengar kata-kata suaminya malah memeluknya dan bermanja-manja, bahagia karena menghabiskan malam tahun baru bersama suaminya. Ah, ironis!

 

Sebuah pengalaman unik menonton rangkaian film pendek karya negri sendiri. Dengan tema yang serupa, namun eksekusi yang luar biasa kreatifnya, membuat saya tidak kaget ketika Titien Watimena mengatakan bahwa film tersebut akan ikut dalam Rotterdam Film Festival dan Hongkong Film Festival. Tak lupa, film ini akan segera hadir di Blitz katanya, hanya menunggu perjanjian kerjasama dengan Blitz Megaplex saja. Mudah-mudahan bisa menyusul Cin(T)a sebagai sebuah film lokal berkualitas. Enjoy!

2 thoughts on “belkibolang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s