Music Gallery 2011

5 Februari 2011.

Saya luar biasa excited hari itu, karena FE UI dengan BSO Band-nya mengadakan sebuah acara musik indie bernama Music Gallery 2011. Entah sejarahnya dari mana, kalian bisa lihat langsung di website music-gallery.net yah. :) Sempat bingung dengan sistem pemesanan tiket secara online yang ternyata ngga online-online banget, akhirnya saya terbantu setelah di-sms oleh panitia bernama Niwa. Thanks ya Niwa! *sok kenal* :D

Berangkat dari rumah dengan bekal sebuah kamera (yang belum lunas), sebenarnya tujuan saya adalah untuk menonton Monkey to Millionaire yang (katanya) akan perform. Tapi sesampainya di sana, jika saya ngga salah lihat, koq ngga ada di list acara ya? Batalkah? Atau mereka bakal jadi surprise band? Hmm, kurang tau juga, karena saya ngga bisa sampai larut di Annex Building sana berhubung si mama sudah cuap-cuap karena saya sering pulang larut. -_-“

Masuk ke ruangan utama, saya disambut sayup-sayup oleh Ballads of the Cliche. Band asal Jakarta ini ternyata sudah masuk ke lagu terakhir mereka, yang mana tidak familiar di telinga saya. Berbekal kamera, saya merangsek ke pinggir panggung untuk sekedar mengabadikan mbak-mbak berjilbab personel band indie yang satu ini. :D

Tak lama panggung sudah kosong melompong, dan saya menunggu untuk menyaksikan Santamonica. Persiapan kelihatannya akan makan waktu banyak, mengingat banyaknya instrumen musik elektronik milik band yang satu ini. Didirikan tahun 2003 oleh Joseph Saryuf dan Anindita, band ini langsung mendapatkan banyak penghargaan untuk album mereka di tahun 2007. Mengusung musik elektronik, bossa, pop, dan bahkan waltz, maka tidak heran jika saya pun terkadang tidak mengerti tentang musik yang mereka mainkan. XD

Lalu Santamonica pun menggebrak dengan lagu mereka. Meskipun saya tidak familiar dengan lagu-lagu mereka, nyatanya alunan peralatan elektronik canggih mereka plus suara Anindita mampu menghipnotis saya. Merasakan diri saya melayang di tengah kerumunan penonton yang (mungkin saja) awalnya tidak paham tentang musik yang dibawakan oleh Santamonica. Keren sekali! Cuma itu yang bisa saya bilang dari 40 menit penampilan mereka di panggung. Rasanya seperti mendengarkan Sigur Ros tapi dengan vokalis perempuan.

Lantas saya turun ke stage 2, di mana sebuah band indie beraliran heavy metal sedang perform. Namanya Loud, dan berhubung saya ngga terlalu minat dengan musik sekeras heavy metal, saya pun hanya menyoroti dandanan mereka yang gondrong-gondrong dan kompak menggoyang-goyangkan kepala ketika lagu sudah masuk refrein. Agak lucu sih melihat 4 orang gondrong kompak mengibas-ngibas rambut mereka di panggung, tapi crowd-nya ternyata tidak sedikit dan menjurus ke brutal. Merasa kasihan dengan telinga saya, saya pun memesan Milo dan naik kembali ke stage utama. What next? Ow, Endah n Rhesa!

Duo suami istri ini pertama kali saya lihat di Java Jazz 2009, ketika mereka bermain di sana untuk pertama kalinya. Penampilan yang luar biasa, sambil duduk di lounge Dji Sam Soe, saya menikmati setiap lagu yang mereka bawakan meski tak ada satupun lagu yang saya kenal. Sempat penasaran dengan albumnya yang ketika itu sold out, akhirnya saya mendengarkan dan langsung jatuh cinta pada mereka. Akhir tahun kemarin, mereka baru saja mengeluarkan album baru bertema Afrika, yang (lagi-lagi) sangat memanjakan telinga saya.

Saya sampai di stage utama ketika Endah n Rhesa telah sampai di tengah perform mereka. Membawakan lagu “Kou Kou the Fisherman”, saya sangat takjub dengan harmonisasi antara bass dan gitar yang terdengar persis seperti di CD, dan bahkan lebih bagus karena ditambah improvisasi dari Endah. Diikuti lagu andalan mereka “Tuimbe (Let’s Sing)” dan “Baby It’s You” yang diambil dari album pertama mereka, ternyata cukup banyak penonton yang belum kenal lagu-lagu mereka. Hey, ke mane aje? -_-” Akhirnya, ketika lagu “When You Love Someone” mengalun, barulah crowd ikut bernyanyi lagu romantis ini. Nuansa romantis yang dibangun oleh keduanya di panggung, terasa hingga ke ubun-ubun, karena mereka seakan bernyanyi tanpa beban dan penuh cinta. What a performance.. What a lovely performance..

Sungguh menyenangkan bisa menyaksikan sebuah duo indie luar biasa, yang bermain musik tanpa beban dan seakan membagi perasaan yang mereka miliki kepada penonton. Apalagi ditambah dengan kemampuan teknis mereka yang memang mengagumkan, saya tidak ragu kalau mereka akan sukses nantinya. :) Oke, sudah cukup romantis-romantisannya, sekarang saatnya saya menguji ketangguhan telinga saya melawan distorsi gitar blues dari Gugun and the Blues Shelter! Hail yeah!

Band blues yang berisi 2 pemain lokal (Gugun dan Bowie) serta 1 pemain “impor” (Jon Armstrong alias Jono) ini, sangat saya tunggu penampilannya. Setelah gagal melihat mereka di Jakarta Blues Festival tahun lalu (gara-gara tiba-tiba ada training dari kantor), kini saya akhirnya dapat kesempatan menyaksikan mereka. Gugun langsung menggebrak dengan “Spinning Around Me” yang disambut dengan jingkrak-jingkrak crowd yang rata-rata laki-laki. “Do I Have to Know” dan beberapa lagu lain yang saya tidak familiar berturut-turut dihajar oleh mereka. Tak tanggung-tanggung, telinga saya rasanya seperti kebas akibat raungan gitar yang menggila. Luar biasa!

Ditutup dengan “City Man” dan sebuah lagu lama yang ada di album mereka ketika masih bernama Gugun and the Bluesbug, saya sungguh merasa terpuaskan dengan penampilan mereka. Sebuah band indie yang telah mendunia dan pernah perform di berbagai negara di Eropa dan Amerika, kini saya lihat live di sebuah festival musik bertiket Rp50.000 saja.

Sungguh sebuah ujian berat bagi telinga saya, karena ketika saya meninggalkan ruangan untuk menyaksikan Leonardo Ringo di stage 2, gendang telinga saya terasa kebas dan suasana ruangan mendadak menjadi terasa tidak terlalu gaduh. Muka-muka puas sekaligus lelah tampak ikut keluar bersama saya, mungkin sekedar mengistirahatkan telinga dan kaki. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan Leonardo yang sedang perform, meski suara musik mereka menjadi tidak terlalu hingar bingar karena telinga saya belum beradaptasi dengan baik.

Gitaris band Zeke and the Popo ini mengeluarkan album The Sun sekitar pertengahan tahun lalu, dan saya suka sekali dengan genre-nya. Lirik yang agak puitis namun cenderung ringan, mampu membuat saya menikmati suara beratnya plus alunan gitar miliknya. Pertama kali menonton live Leonardo di Atrium Ex Plaza Indonesia, kali ini ia membawa tim peniup terompet, trombon dan saksofon sebagai pemusik. Nice!

Meski saya tidak terlalu notice lagu apa yang ia bawakan, toh saya tetap menikmati lagu demi lagu. Dengan pendengaran saya yang masih terbatas, tidak banyak yang dapat saya lakukan kecuali foto-foto. Saya juga sambil mengistirahatkan kaki saya yang sudah pegal setengah mati akibat berdiri hampir satu jam menyaksikan Gugun tadi.

Dan tibalah saya pada puncak acara hari itu : MOCCA. Ya, setidaknya puncak acara bagi saya karena sebenarnya masih ada The S.I.G.I.T dan Pure Saturday setelahnya, namun karena malam terlalu larut, saya urung menunggu mereka perform. Ya, Mocca! Band yang selalu saya tunggu album dan penampilan live-nya, karena telah begitu mempengaruhi selera saya dalam dunia musik sejak kemunculan mereka di tahun 1999 lalu.

Arina yang selalu tampil cantik (hey, dia udah 33 tahun lho tahun ini! ga keliatan!) membuka penampilan mereka dengan lagu “This Conversation“. Lagu yang di albumnya dibawakan bersama Bob Tutupoli, akhirnya dibawakan oleh Arina dan Tomma, sang basis. Berturut-turut lagu dari album-album mereka dibawakan satu persatu, sambil Arina membagi-bagikan kalender Mocca edisi khusus. Arina sendiri ternyata sedang sakit radang tenggorokan, dan sebetulnya dilarang untuk bernyanyi. Namun tuntutan profesi sepertinya memaksa ia melanggar aturan dokter, dan berupaya tetap tampil maksimal malam itu.

Dampaknya terasa sekali, karena kurang terasa feel-nya, tidak seperti konser-konser Mocca lainnya. Apalagi kini Mocca tidak menggunakan bass betot, tapi menggunakan bass elektrik, yang menurut saya sedikit banyak mengurangi ciri khas Mocca itu sendiri. By the way, ditutup dengan “On The Night Like This” dan “Secret Admirer”, penampilan Mocca tetap ciamik dan luar biasa.

Saya pun harus pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Padahal saya janji untuk pulang jam 22.00. -_-” Ya ya ya, dengan berat hati saya harus merelakan penampilan The S.I.G.I.T. dan Pure Saturday, yang meskipun saya tidak terlalu ngikutin, tapi penasaran juga dengan perform live mereka. Overall, luar biasa sekali teman-teman di BSO Band FEUI bisa mengadakan pertunjukan musik indie yang berkelas seperti ini. You guys ROCK! Tahun depan lagi yah! :)

3 thoughts on “Music Gallery 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s