Pilihan?

Sepertinya sudah lama sekali sejak saya terakhir menulis tentang apa yang saya pikirkan. Kehidupan yang semakin kompleks, meskipun tidak layak dijadikan alasan, kenyataannya telah membentuk dan menggiring saya menjadi manusia realistis yang minim ide-ide. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk tidak berpikir sama sekali.

Melepaskan kemudi, dan memasang auto-pilot.

Sejujurnya, saya lelah dengan kemudi. Saya lelah berusaha mengendalikan semua hal tentang hidup saya. Sampai pada satu titik, saya paham bahwa saya tidak harus selalu berada di balik kemudi dan terus menerus berusaha mengarahkan hidup saya.

Banyak orang yang secara kebetulan (terlihat seperti kebetulan, namun sebenarnya tidak) menjalani perubahan hidup yang drastis, tanpa ia rencanakan sebelumnya.

Artis-artis yang terjun ke dunia hiburan hanya karena mengantar temannya casting.

Teman-teman yang kehilangan pekerjaan padahal memiliki rencana menikah dalam waktu dekat.

Pertemuan dengan orang-orang baru yang tidak direncanakan dan terjadi begitu saja.

Teman lama yang hadir kembali di keseharian, entah dari mana awalnya.

Anak-anak yang terlahir miskin atau cacat.

Kecelakaan.

Dan hal lainnya.

Begitu banyak campur tangan invisible hand dalam hidup saya, dan anda tentunya. Begitu banyak hal yang tidak dapat anda kendalikan, sesimpel apapun itu. Begitu banyak usaha dikeluarkan untuk sebuah hal-hal dalam hidup, dan kandas hanya dalam waktu sekejap. Begitu banyak ketidakadilan ketika anda dan saya menyadari bahwa nasib mereka yang tidak bekerja sekeras anda, ternyata kesejahteraannya jauh di atas kita.

Hidup adalah pilihan, katanya.

Lantas untuk apa memilih jika ujung jalannya sudah ditentukan?

Okay, hidup adalah proses katanya, namun lantas proses seperti apakah yang bisa kita pilih, jika kenyataannya bukan kita juga yang menciptakan pilihan-pilihan tersebut, melainkan kita hanya menjalani pilihan-pilihan yang telah disediakan oleh orang lain? Mana kendali anda atas hidup, yang katanya adalah pilihan itu?

Maka di sinilah saya, melepaskan kemudi dan memasang autopilot, seperti telah saya sebutkan di atas.

Memperhatikan proses  kehidupan yang sedang saya jalani, ketika justru hidup yang melakukan pilihan atas proses apa yang akan saya jalani. Lantas saya mencoba belajar dari proses yang kini sedang saya jalani. Apapun itu.

2 thoughts on “Pilihan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s