Java Jazz 2011 (part 2)

Mari melanjutkan petualangan kita di Java Jazz 2011! :)

Waktu menunjukkan pukul 19.30, dan masih ada 1 jam 15 menit lagi sebelum Acoustic Alchemy manggung. Ya, tahun ini saya memang sangat menunggu penampilan Acoustic Alchemy, yang DVD live-nya tidak sengaja terbeli di ITC Kuningan beberapa bulan lalu. Lantas sembari menunggu, saya berkeliling stage demi stage dan menyaksikan beberapa musisi luar negri, baik yang musiknya saya mengerti dan yang tidak.

Saya menyaksikan Rasmus Faber and RaFa Orchestra, yang membawakan musik Jazz dengan sedikit campuran etnik Afrika. Dilengkapi dengan beberapa Bongo, musiknya menjadi terdengar riang dan unik. Lalu saya naik ke lantai 6, dan bertemu dengan Shadow Puppet Quartet. Stage yang berada di atas ini memang terasa seperti sebagai tempat beristirahat setelah lelah berkeliling, karena selain ruangan yang terpencil dan relatif kecil, musisi yang tampil di sini jenis musiknya tidak jauh-jauh dari Bossa. Mantap! Dan Shadow Puppet Quartet yang semuanya bermuka oriental ini sempat membuat saya berpikir bahwa mereka adalah kelompok musik dari Jepang. Tapi ternyata mereka semua asli Indonesia, dan saya baru menyadari ketika drummer mereka mengucapkan terimakasih dalam bahasa Indonesia setelah penampilan mereka selesai. Hihihi..

Kemudian saya kembali ke stage-stage utama di lantai dasar, dan sempat menyaksikan Audy dan keluarganya beraksi di stage depan. Namun karena cuaca yang panas dan pengunjung yang makin padat, saya mengurungkan niat untuk menyaksikan mereka lebih lama, dan memilih masuk ke stage BNI dan bertemu dengan Jose James. What a performance! Jose James! Pencampuran antara jazz dengan hip hop dan RnB yang memukau saya dan membuat saya betah berlama-lama kalau saya tidak ingat bahwa ada Drew akan bermain di Jazz Corner. Dengan suara bariton (kalau saya tidak salah istilah) yang terdengar berat-berat gimanaa gitu (hehehe), plus aransemen musik yang menarik, genre musik ini terasa unik dan menyenangkan. Kayaknya saya mesti download albumnya deh! *eh*

Sembari minum Tebs karena saya kehausan berlarian ke sana ke mari, saya mengejar penampilan Drew di Jazz Corner di ujung area JIExpo. Drew adalah sebuah band bergenre pop yang saya ketahui dari twitter (thanks to Twitter!) lewat akun @aji_yudo dan @sashigandarum, sang vokalis. Sering mendapatkan twit mereka manggung entah di mana, namun baru kali ini saya berkesempatan untuk melihat mereka live. Daaaaaaann, luar biasaaaa! Inilah penemuan terbesar saya tahun ini di Java Jazz! DREW!

Membawakan lagu-lagu mereka yang ada di album mereka yang akan segera launching, saya sangat kagum dengan vokal Sashi yang luar biasa. Dengan musik yang cukup nge-beat, Sashi yang juga memegang gitar mampu mengimbangi raungan gitar dengan suaranya yang powerful. Saya pun mulai bergoyang, apalagi ketika Drew membawakan lagu Unbelievable milik EMF. “The things, you say….. You’re unbelievable!!YEAH!

Disajikan penampilan yang luar biasa seperti itu, membuat saya lupa bahwa di stage lain, Acoustic Alchemy telah mulai bermain. Sayang sekali karena saya tidak sempat menyaksikan Drew hingga selesai, namun rasa penasaran saya pada Acoustic Alchemy membawa saya melangkahkan kaki ke luar Jazz Corner. Dan inilah yang saya tunggu-tunggu : Acoustic Alchemy! Awalnya saya berdiri dan berusaha merangsek ke tengah kerumunan penonton, hingga akhirnya saya menyerah dan memilih duduk di belakang Hall BNI yang sangat luas itu. Meregangkan kaki sembari menikmati alunan gitar Greg Carmichael dan Miles Gilderdale dari Inggris ini memang begitu menenangkan. Meski saya tidak tahu judul-judul lagu yang mereka mainkan, namun itu tidak menjadi halangan bagi saya untuk menikmati semua nada yang terdengar.

Ketenangan saya diganggu sekelompok ababil perempuan yang duduk di belakang saya, yang malah mengobrol dengan volume suara tidak terkontrol. Kelihatannya sesi curhat sambil ditemani instrumental dari Acoustic Alchemy menjadi pilihan menarik untuk mereka, tapi tidak untuk saya. Akhirnya saya mengalah dan melipir mencari tempat lain, di mana saya bisa mendengarkan musik dengan tenang. Shoo, ababil, shoo! -__-“

Tidak terasa, Acoustic Alchemy harus mengakhiri penampilannya. Mereka akan segera pulang ke London keesokan harinya, dan sesimpel musik mereka, sesimpel itu pula mereka pamit dan menghilang dari panggung. Ah, saya kecewa. Seharusnya mereka mendapat jatah waktu yang lebih lama. Hehehe.. Daaaaan, dengan terpaksa saya ke luar dengan handphone yang habis baterai dan jam tangan yang mati entah kenapa, sehingga saya betul-betul tidak tahu jam berapa saat itu. Sebenarnya saya masih menunggu Indra Aziz Project, Ruben Hein dan Endah n Rhesa, namun berhubung saya juga tidak ingin pulang terlalu larut, saya pun memutuskan untuk pulang.

Yap, pengalaman menyenangkan menikmati kesendirian di Java Jazz yang sebetulnya ramai bukan main. Menikmati musik tanpa harus sibuk mengambil foto seperti yang biasa yang saya lakukan. Menemukan musisi-musisi potensial yang hanya belum mendapatkan kesempatan untuk mendunia. Atau menyaksikan musisi dunia yang masih minim informasinya di sini. Meski kadang agak heran dengan nama “Jazz” yang diusung namun justru menonjolkan musisi non-Jazz sebagai magnet pengunjung, saya harus memberikan apresiasi tinggi karena panitia telah berhasil menyelenggarakan event tingkat internasional selama 3 hari berturut-turut. Salut! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s