infus

31 Maret 2011, 12:00, IGD RSPP.

Akhirnya tumbang juga, setelah minggu sebelumnya demam dan pusing tapi masih ditahan-tahan untuk ke Poliklinik Pertamina saja. Radang tenggorokan yang bengkak ini kayaknya memang sudah waktunya untuk dihajar, tapi sayangnya saya masih malas untuk ke dokter kalo belum terpaksa.

Dan terpaksa lah hari itu saya ke RSPP, setelah menahan sakit kepala dan demam tinggi di kantor. Berjalan sendirian ke IGD RSPP hanya dengan berbekal kartu asuransi, saya pun akhirnya dapat rebah dengan tenang di salah satu ruangan IGD di sana. Setelah administrasi beberapa menit, dokter pun mulai menangani saya dan menganjurkan saya untuk tes darah. Dan infus! Oh yeah! Inilah pertama kalinya saya diinfus, saudara-saudara! *norak*

Sekonyong-konyong datanglah mbak-mbak perawat yang mengelus-elus tangan saya. *eh, koq jadi edisi Harlequin :D* Ternyata beliau sedang mencari posisi terbaik untuk selang infus saya *kecewa*. Berhubung saya juga antara sadar-tak sadar, saya pasrah saja dielus-elus oleh si Mbak, yang ternyata masih latihan untuk pasang selang infus (hal itu baru saya ketahui setelah menyadari bahwa ada mas-mas berkumis sang supervisor yang sedang menilai si Mbak dari samping). D’oh! Sejujurnya saya tidak takut jarum infus ataupun jarum suntik, tapi saya takut sama mbak-mbak yang belum berpengalaman ini.. Hayah..

“Lemes ya Mas, lemes ya..” kata si Mbak berusaha menenangkan, padahal terasa sekali bahwa jari-jarinya gemetaran ketika berusaha menusukkan si jarum. “Iya Mbak, saya udah pasrah sama Tuhan Yang Maha Esa..” bisik saya dalam hati. Oh damn, RSPP, kenapa kalian mempercayakan pasien emergensi pada newbie sih? -__-” Dan mentoklah jarum pertama yang masuk ke tangan saya siang itu. Sakit. Tapi ngga sesakit perasaan malu si Mbak pada si supervisor pastinya. Hihihi.. Si Mbak kembali menarik keluar jarum tersebut, dan menusuk kembali di sekitar lubang pertama. Puji Tuhaaaan, kali ini ngga mentok dan jarum infus terpasang dengan sempurna. Ah, saya sudah tidak perawan! *ups*

Si Mbak dengan muka puas *eh* menempelkan berbagai macam perekat di selang infus saya, dan berlalu meninggalkan saya dengan perasaan bangga (setidaknya begitulah menurut saya). Dokter pun datang 2 jam kemudian dengan hasil tes darah yang ternyata hasilnya positif semua, dan saya hanya terindikasi radang tenggorokan akut dan dirujuk ke THT.

Kenang-kenangan dari saya dan jarum infus pertama dan mbak-mbak penusuk jarum infus :

One thought on “infus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s