#TransJakarta

Ini adalah keluhan seorang pengguna layanan Transjakarta, khususnya koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit). :)

(Hampir) setiap pagi, saya menggunakan bus Transjakarta menuju ke kantor saya di kawasan SCBD. Dari rumah saya di daerah Jatiwaringin, menyusuri Kalimalang dengan mikrolet, hingga di Halim dan meneruskan mikrolet lain lalu turun di shelter busway Cawang BNN. Pengalaman saya hari ini bukanlah pengalaman luarbiasa, tapi sebuah pengalaman biasa, rutin, dan saking seringnya dialami, sampai apatis dan “menerima” keadaan.

Saya pun terpaksa menggunakan bus Transjakarta karena bus yang biasa saya tumpangi (arah Blok M) menjadi penuh sesak sejak bus-bus jurusan Grogol dihapus oleh pemerintah. Sehingga, para penumpang yang hendak ke halte Polda beralih naik ke bus jurusan Blok M. Dan daripada berdiri berdesak-desakan (dan bercampur dengan bau ketek dan bau badan -_-“) di bus non-AC dengan tarif Rp2.500, alangkah lebih bijaksana jika saya memutuskan naik Transjakarta yang ber-AC itu dengan tarif Rp3.500, meskipun berdesakan juga.

Lantas pagi ini saya berpikir, termenung dan memutuskan menuangkan pemikiran saya di twitter. Sebuah analisa sederhana tentang kemacetan yang terjadi di ruas jalan Cawang UKI -> Cawang Atas -> Stasiun Cawang setiap harinya, dan ketidakadilan jalanan ibukota terhadap kami para pengguna kendaraan umum. Sebuah analisa yang sebenarnya pasti akan terpikir jika Anda menjalaninya setiap hari, dan heran dengan tidak adanya tindakan yang dilakukan pihak berwenang. Sebuah analisa sebab akibat, yang solusinya pun sebenarnya tidak sulit.

  1. Mari kita lihat jalur busway di jalan ini. Shelter Cawang BNN berada di bagian penyempitan jalan (bottle neck), dari 4 1/2 jalur dari arah UKI, dan berkurang menjadi 3 jalur, serta ada arus masuk dari arah kanan, arah tol Cikampek. Secara mudah, kita dapat menduga, bahwa penyempitan jalan PASTI berdampak kemacetan ketika volume kendaraan meningkat. Dan dengan edan-nya pula, di sanalah shelter ini dibangun! Otomatis ketika ada bus Transjakarta yang berhenti menaikkan/menurunkan penumpang, jalur yang bisa digunakan akan berkurang dari 3 jalur tersisa, menjadi hanya 2.
  2. Shelternya : busuk! Shelter kecil hanya dengan 2 pintu, padahal shelter ini dilalui oleh 3 koridor busway (jurusan Kampung Melayu, jurusan Harmoni, dan jurusan Pluit) yang penumpangnya sangat banyak di jam berangkat dan pulang kerja. Akibatnya, semua penumpang menumpuk di pintu yang ada, dengan tujuan yang berbeda-beda. Bayangkan ketika bus jurusan Harmoni datang, sementara antrian paling depan menunggu jurusan Pluit, maka calon penumpang jurusan Harmoni akan mendesak maju ke depan supaya tidak ketinggalan. Belum lagi penumpang yang akan turun dari bus terpaksa berjibaku dengan para penunggu bus yang sudah antri berdesak-desakan.
  3. Akibatnya, waktu berhenti bus Transjakarta menjadi lebih lama dari seharusnya. Sopir harus menunggu penumpang turun (yang mana harus menyikut dan mendorong penumpang yang akan masuk), lalu menunggu calon penumpang yang sedang berdesakan dari antrian belakang untuk maju ke depan dan masuk ke dalam bus. Maka, secara otomatis pula bus yang berada di belakang bus yang sedang berhenti harus menunggu lebih lama, dan antrian bus pun memanjang. Alhasil, macet di belakang antrian bus tidak terhindarkan.
  4. Antrian bus, tentunya menyebabkan waktu tunggu bus yang lama. Karena bus tak kunjung datang, penumpang semakin membludak dan menyemut di pintu-pintu yang ada. Tidak bisa tidak, karena bus yang seyogyanya ditumpangi setiap pagi, telah dihapus trayeknya oleh pemerintah. Maka pilihannya adalah antara bersabar melawan panas dan gerah menunggu bus datang, atau naik ojek yang notabene jauh lebih mahal ketimbang Transjakarta.
  5. Lantas ketika bus datang, desak-desakan semakin parah, tidak hanya di shelter namun juga ketika sudah masuk ke dalam bus. Dengan waktu tunggu yang lama, tentu penumpang berharap untuk cepat sampai di kantor. Tapi kenyataannya jalur busway di koridor 9 belum steril sepenuhnya. Bukan kesalahan pengguna jalan umum, melainkan kesalahan desain jalur busway yang memotong jalur keluar kendaraan dari tol dalam kota, seperti di daerah Tebet dan Tegal Parang. Maka bus harus menunggu diberi jalan oleh kendaraan yang sedang mengantri keluar tol, yang untungnya terkadang dibantu oleh polisi yang bertugas.
  6. Belum lagi persimpangan besar yang menjadi biang kemacetan di Pancoran dan Kuningan. Bus Transjakarta yang berada di sebelah kanan jalan harus bergantian dengan kendaraan yang akan belok ke kanan (ke arah Saharjo dan ke arah Kuningan), yang mana sering tersendat dan mengantri. Akibatnya, perjalanan terhambat karena tak jarang bus harus menunggu lampu hijau dulu baru bisa menyebrang.
  7. Ketika turun di shelter Semanggi, bersiaplah berjalankaki panjaaaaaaaang sekali, baik ke arah Polda, ke arah Plaza Semanggi, dan (apalagi) ke arah Bendungan Hilir untuk meneruskan perjalanan dengan busway ke Blok M atau ke Kota. Entah apa pemikiran para perancang jembatan tersebut, hingga harus mengorbankan para pengguna busway untuk berjalan sangat jauh.
Lantas solusi apa yang (sebenarnya) bisa dilakukan?
  1. Yang paling mudah adalah tentunya dengan memperbesar shelter Cawang BNN menjadi seperti di Dukuh Atas atau Harmoni, sehingga tidak terjadi penumpukan calon penumpang yang berbeda tujuan di satu pintu. Pengaturan pintu (seperti di Dukuh Atas) tentu sangat efektif dalam mengurangi waktu berhenti bus di shelter, karena tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menaikkan/menurunkan penumpang.
  2. Dengan waktu berhenti bus yang lebih singkat di shelter, maka antrian bus dan antrian calon penumpang akan dapat dikurangi. Pengurangan antrian bus tentunya berdampak pada kemacetan yang biasanya terjadi di belakang bus yang sedang mengantri, sehingga jalanan akan menjadi lebih lancar.
  3. Kemudian, pemindahan shelter menjadi SEBELUM jalanan mengecil (bottle neck) juga harus dipertimbangkan. Ketika ada 4 1/2 jalur dan digunakan 1 jalur untuk busway, tentunya akan sangat berbeda dampaknya dengan ketika kita menggunakan 1 jalur untuk busway dari 3 jalur di area bottleneck.
  4. Memastikan jalur busway steril, terutama di persimpangan-persimpangan. Meskipun tidak steril 100%, namun pasti akan sangat membantu mengurangi waktu tempuh bus Transjakarta.
  5. Menyediakan bus umum sebagai alternatif. Biarkan penumpang yang memutuskan, angkutan mana yang akan mereka tumpangi. Alhasil, terjadi persaingan yang lebih sehat antara bus Transjakarta dengan bus umum, dan masing-masing akan memberikan upaya terbaik supaya tidak kehilangan penumpang. Hal ini membuat Transjakarta terpaksa berbenah jika tidak ingin kalah oleh bus umum.
Sampai saat ini, saya masih harus terus bertahan dengan kondisi Transjakarta yang ada. Mudah-mudahan ada perbaikan ke depannya, atau lebih baik saya beli motor saja sebagai kendaraan alternatif? :)

2 thoughts on “#TransJakarta

  1. Ember! Saya juga pengguna kendaraan umum setiap hari. Gila…kalo liat terminal Blok M bisa berdarah2 kali, kacau banget. Sampai saya pernah bikin twit keluhan ke Menteri Perhubungan (hahaha…pasti gak kebaca juga ama dia).

  2. saya juga akan mulai bergantung dengan koridor ix nih mulai bulan depan, tapi melihat keadaannya tiap pagi yg memprihatinkan jadi kesal….. thanks for posting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s