3H

Minggu sore, di sebuah gereja berinisial H-K-B-P.

Berkali-kali si Pendeta mengucapkan 3H yang menjadi tanda sukses orang Batak (iya, saya Batak! *tabok kalo ga percaya*), yaitu Hamoraon, Hasangapon dan Hagabeon. Saya yang kebetulan sedang ibadah bersama mama, bertanya apa arti ketiganya. Dan jawabannya pun berlanjut dari gedung gereja, hingga ke rumah. :) 3H sendiri sudah mengakar dan mendarahdaging sejak di kampung sana, dan terus dibawa hingga ke perantauan. Tiga hal inilah yang menjadi dasar motivasi orang Batak, yang terkadang justru malah membawa mereka (kami?) ke dalam perselisihan.

Hamoraon, alias kekayaan. Saya tidak bisa mengelak, bahwa dalam keluarga Batak, yang kaya pasti lebih dihormati. *menunduk malu* Tetua-tetua di dalam keluarga besar saya, begitu menekankan yang namanya “menjadi kaya”, dan ya maksud mereka adalah menjadi kaya secara materi. Cari uang, beli tanah, beli rumah, dan lain-lain.

Ternyata hal itu sangat berhubungan dengan tanda sukses menurut orang Batak, yang baru saja saya ketahui. Kekayaan dianggap sebagai sesuatu yang penting, sesuatu yang krusial di dalam hidup. Tidak heran kan kenapa pengacara-pengacara tenar itu begitu sombongnya memamerkan kekayaannya? Itulah Hamoraon mereka.

Hasangapon, alias kedudukan/kehormatan. Ah ah ah, lagi-lagi saya harus menunduk malu. Orang Batak gila hormat, tidak bisa dipungkiri. Kalau di jalanan ada pengemudi keluarin kepala sambil teriak “LO GAK TAU SIAPA GW?!”, maka kemungkinannya cuma 2 : dia orang Batak, atau dia adalah KMRT Roy Suryo. :D

Sebagaimana kekayaan, kedudukan juga menjadi faktor penentu status sosial seorang Batak dalam keluarga besarnya. Maka tak heran dalam arisan keluarga, nama menjadi tidak penting. Yang penting adalah “si Anggota DPR”, “si Anu yang kerja di Dirjen Pajak”, dan lain-lain. Toh terkadang kedudukan berbanding lurus dengan kekayaan, bukan?

Hagabeon, alias keturunan. Tanda kesuksesan orang Batak ternyata juga dilihat dari keturunannya. Seiring dengan garis keturunan orang Batak yang hanya mencantumkan laki-laki, maka memiliki anak laki-laki adalah mutlak hukumnya dalam keluarga Batak. “Anak” bagi orang Batak adalah laki-laki, sedangkan anak perempuan disebut “boru”.

Begitu banyak kasus kawin-cerai karena hagabeon, yaitu keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki. Zaman dulu, seorang laki-laki Batak diizinkan untuk menikah lagi jika ia belum mendapatkan anak laki-laki dari istri pertamanya. Saudara saya tidak henti-hentinya mencoba membuat anak, supaya mereka memiliki anak laki-laki. Thanks God, anak kelima-nya (akhirnya) laki-laki.

Sayangnya pemikiran sempit (dan keras) kami sebagai orang Batak, terkadang justru membuat kami menjadi kolot. Materialistis. Anti kesetaraan gender. Gila hormat. Dan berbagai hal negatif lainnya. Tidak sedikit uang kekayaan yang dihasilkan dari korupsi, demi mendapatkan hamoraon. Tidak sedikit uang suap dan kolusi, demi mendapatkan hasangapon. Tidak sedikit pula keluarga yang hancur karena hagabeon.

Beruntung saya lahir di keluarga yang “seimbang” : papa yang kolot dan mama yang cukup terbuka. Ibu saya sendiri menekankan bahwa hamoraon itu tidak melulu tentang uang. Toh ada lagu Batak terkenal: “anakhonki do hamoraon di au” (artinya : “anakkulah kekayaanku.”). Hamoraon bisa pula diartikan sebagai kekayaan prinsip, yaitu bagaimana kita memiliki pemikiran yang “kaya” dan terbuka akan segala hal.

Hasangapon pun tidak melulu berarti kedudukan dalam sebuah strata sosial atau pekerjaan. Ompung (nenek) saya selalu menekankan, hasangapon itu bisa dicapai dengan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Kedudukan dalam manusia hanya terbagi atas 2 : terdidik dan tidak terdidik. Karena dulu mayoritas orang Batak ada di dalam kelompok tidak terdidik, maka kami dituntut untuk “meningkatkan” kedudukan kami menjadi manusia terdidik. Itulah hasangapon. Menjadi manusia terhormat.

Dan hagabeon bukan pula tentang mendapatkan anak laki-laki sebagai penerus marga. Hagabeon lebih menekankan pada bagaimana keturunan saya menjalani hidupnya. Apakah anak (baik laki-laki dan perempuan) menjadi kebanggaan, atau malah mempermalukan orangtuanya? Karena itu, tanamkanlah nilai-nilai yang baik sejak kecil kepada anak-anak, supaya bisa bertumbuh menjadi manusia yang baik pula.

Betapa beruntungnya saya menjadi orang Batak. :)

2 thoughts on “3H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s