Pulau Tidung with Tim Blo’on

Sebenarnya ini late post, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? :)

Hip hip Hooray!

Tim blo’on kali ini melakukan perjalanan “beneran” pertamanya, setelah berkali-kali hanya ngopi dan wacana-wacana. Akhirnya, Pulau Tidung menjadi tujuan kami karena dekat dan terjangkau. Setelah teman Gelaph mengontak si contact person dan memastikan keberangkatan kami, maka pertengahan Mei lalupun kami akhirnya berangkat.

Beranggotakan saya, teman Dian, teman Nisnus, teman Ajeng, teman Gelaph dan teman Indrie beserta suami, kami pun memulai petualangan kami. Naik angkutan umum ke Muara Angke, dan menumpang kapal ala kadarnya menuju ke Pulau Tidung. Ini adalah kali ketiga saya ke Kepulauan Seribu, setelah sebelumnya ke Pulau Pramuka dan Tidung, sekitar tahun lalu.

Mengambil tempat di bagian belakang kapal, rupanya sebuah kesalahan: berisik. Suara mesin menderu2, sehingga kami tidak dapat mengobrol dan hanya ber-“haaa??! haaa?!” sambil mendekatkan kuping ke mulut lawan bicara. Akhirnya saya memutuskan naik ke atas untuk sedikit cari angin dan lihat pemandangan. Eh, ada “pemandangan” juga sih. :P

Beberapa pasang pemuda-pemudi rupanya ada di bagian atas kapal. Saya tidak bermaksud mengorek motivasi mereka ke Tidung, tapi tanpa berpikir negatif pun maka sudah terlihat negatif, bukan? Hahaha.. Anywaaay, pemandangan laut dan langit biru menemani saya sepanjang perjalanan, sebelum teman Ajeng dan teman Gelaph mulai merusak suasana dengan minta difoto. *lempar sendal*

Dan perjalanan 2 setengah jam terasa cepat karena banyak waktu kami habiskan mengobrol. Lebih tepatnya bergosip sih. Ya secara saya ditemani oleh dua teman rempong dan kepo, jadi aja gosip-gosip berseliweran dengan cepat. :D Maka sampailah kami di Pulau Tidung! *joget2* Disambut oleh tukang es goyang, kami pun menemui Mas-entah-siapa-namanya yang akan menjadi guide kami selama di sana.

Teman Dian

Dan kegiatan pertama kami (selain tidur-tiduran) adalah bersepeda. Ya, di Tidung, sepeda adalah angkutan utama jika hendak berwisata. Ke pantai, ke jembatan, ke gunung, ke tempat barbeque, ke pelabuhan, semuanya menggunakan sepeda. Jadi, kalau ngga bisa naik sepeda, siap2 aja untuk capek. :(

Dengan ditemani guide kami yang entah-bernama-siapa tadi, kami pun memulai perjalanan menuju ke arah Barat Pulau Tidung Besar. Oia, pulau Tidung terbagi atas 2, yakni Tidung Besar dan Tidung Kecil. Pulau yang kami tempati, adalah Tidung Besar. Kedua pulau dihubungkan dengan sebuah jembatan kayu yang panjaaang, dan justru menjadi dayatarik khusus pulau Tidung ini.

Pulau ini juga telah memiliki aliran listrik 24 jam, karena telah terhubung melalui kabel bawah tanah dari Lampung. Berbeda dengan Pulau Pramuka yang masih menggunakan genset, sehingga hanya dialiri listrik selama 12 jam (6 pagi s/d 6 malam), Pulau Tidung yang menjadi pulau percontohan di Kepulauan Seribu ini lebih berkembang dan lebih ramai.

Bermain sebentar di pantai, kami pun diajak untuk snorkeling. Kegiatan wajib di sini ya snorkeling. Dengan menggunakan kapal sewaan yang sudah termasuk dalam paket wisata kali ini, kami pun berangkat melaut. Sempat bingung dengan kurangnya kacamata renang + alat bernafas karena kesalahan komunikasi si guide, untunglah saya sudah cukup terbiasa snorkeling jadi tidak masalah jika tanpa alat bernafas.

Jembatan Tidung

Sayangnya kamera saya tidak underwater, jadi tidak ada foto yang bisa dishare di sini. :( Snorkeling selalu membuat saya bahagia, somehow. Seperti menikmati ciptaan Tuhan yang awalnya saya takuti. Ya, saya takut pada kedalaman laut. Laut selalu jadi misteri untuk saya. Tidak tahu apa yang ada di dasar. Gelap. Misterius. Membayangkannya saja sudah merinding. Khawatir kaki saya ditangkap oleh entah-apa-yang-ada-di-bawah-sana. Takut tenggelam dan mati karena tidak dapat bernafas.

Tapi bertambah umur, saya berusaha melawan rasa takut itu. Berenang yang awalnya saya hindari, menjadi sebuah kegiatan rutin saya. Snorkeling pun bukan lagi momok bagi saya. Bahkan saya belajar menyelam, menyentuh karang-karang yang berada lebih dari 5 meter di bawah permukaan laut. Menikmati ciptaan Tuhan yang indah. Dan mengalahkan rasa takut saya. :)

Selesai snorkeling, kami pun beralih ke jembatan Tidung yang terkenal itu. Lagi-lagi, melompat demi mengalahkan rasa takut. Dari ketinggian 7 meter, tanpa pikir panjang, tanpa menunggu keberanian itu muncul, saya pun melompat. Dan selamat. :)

Tim Blo'on

Ganjarannya, tentu saja makanan. :P Apalagi tim blo’on memang menggila kalo urusan makanan. Somay, tahu gejrot, baso, Indomie, dan lain-lain menjadi santapan kami sore itu. :D Perjalanan pulang dihabiskan dengan bersepeda santai menuju tempat kami menginap. Menunggu waktunya barbeque, kami pun masing-masing bebersih dan beristirahat sejenak. Tak lama, makan malam pun datang, dan ternyata barbeque itu berbeda dengan makan malam. Walah.

Setelah makan malam, kami pun digiring ke sebuah tempat yang tidak tahu namanya apa, namun sudah ramai oleh orang-orang yang ingin barbeque. Insiden kecil terjadi ketika kaki teman Nisnus masuk ke selokan akibat tidak kuat menahan berat badannya. Hahaha.. :D Sedikit merengut meringis dan mengkerut, toh akhirnya teman Nisnus kembali bersemangat ketika kami sudah mulai bermain sambung kata. Permainan blo’on! Dasar teman2 blo’on! Hahahaha.. Masing-masing orang menyiapkan satu kata, untuk menyambung kata teman di sebelahnya, hingga akhirnya membentuk sebuah kalimat yang lengkap (dan absurd). Alhasil malam itu kami habiskan dengan sakit perut menertawakan kalimat-kalimat blo’on yang kami hasilkan. :)

Tertidur sangat larut, rencana kami untuk melihat sunrise pun batal. Bangun jam 7 pagi, kami pun memutuskan untuk menyebrang ke Pulau Tidung Kecil lewat jembatan. Sesi foto-foto kembali dimulai, dan saya lah yang jadi korban. Ini nih ngga enaknya bawa kamera. :( Diwarnai insiden ingin b*ker-nya teman Nisnus, akhirnya kami menikmati gorengan dan es kelapa (tidak) muda tanpa ada teman Nisnus karena sedang mencari tanah kering berpasir tempat ia akan BAB. Hahahaha..

Jam 12 siang, kami pun berjalan kembali ke pelabuhan. Telah siap dengan perjalanan pulang setelah quick-getaway kami dalam 2 hari tersebut. Kulit terbakar, cerita-cerita lucu, dan momen-momen dalam kamera, telah siap pula kami simpan dan kami ingat dalam memori kami. Thanks for the moment we’ve shared. :)

One thought on “Pulau Tidung with Tim Blo’on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s