Lovely Man

Pesannya sederhana, yaitu mengingatkan kita untuk tidak hanya menunggu hujan reda, melainkan untuk bisa “menari” di dalam hujan. Namun karena dikemas dalam bentuk yang “unik”, ada nilai tambah tersendiri yang saya tangkap.

Lovely Man adalah sebuah film karya Teddy Soeriaatmadja, si sutradara Banyu Biru & Badai Pasti Berlalu. Meskipun saya tidak terlalu suka film remake Badai Pasti Berlalu (film-nya bosen banget!), tapi saya jatuh cinta pada film Banyu Biru. Film yang mungkin dicela sejuta umat karena ternyata sebagian besar isi film hanyalah mimpi Tora Sudiro, tapi buat saya pesan film tersebut sangat kuat : kalo mau selesein masalah, jangan cuma di dalam mimpi.”

Film ini bercerita tentang seorang gadis, Cahaya, yang pergi ke Jakarta untuk mencari ayahnya. Syaiful, sang ayah, telah meninggalkan Cahaya sejak berumur 4 tahun, dan beralih profesi menjadi banci. Cahaya yang tidak mengetahui profesi ayahnya tersebut, sempat shock ketika mendapati kenyataan mengenai ayahnya. Syaiful tak kalah berang, karena menurutnya Cahaya (diperankan dengan dramatis oleh Raihaanun) tidak perlu mengetahui siapa ayahnya, toh selama ini ia selalu menerima kiriman bulanan dari hasil “profesi” ayahnya.

Dialog yang kuat, menjadi sebuah daya tarik film ini, setidaknya menurut saya. Terlepas dari akting Donny Damara yang super-duper-fantastik sebagai seorang waria, setting waktu Jakarta di waktu malam benar-benar “bercerita”. Saya jadi teringat pada Belkibolang, yang pernah saya tonton di Salihara. Film ini bercerita dengan jujur tentang Taman Lawang, kehidupan waria Ibukota, dan pandangan lingkungan sosial terhadap mereka.

Perbincangan ayah-anak yang kondisi-nya tidak biasa (Cahaya ternyata sedang hamil di luar nikah), membawa saya masuk ke dalam kehidupan mereka berdua. Saya pun serasa ditampar ketika Cahaya bertanya pada Syaiful, apakah ayahnya tidak lelah hidup seperti “ini”. Pertanyaan sama yang sering muncul di kepala saya. Tapi Syaiful malah menjawab bahwa ia menikmati hidupnya. Tidak ada keterpaksaan. Tidak ada malu. Malah ia sudah menerima dirinya sendiri dengan semua kondisinya. Orang di sekitarnya saja yang masih belum bisa menerima kondisi Syaiful. Ia sendiri sudah menikmati hidupnya. Ouch.

Kadang kita sok tahu dengan apa yang seseorang pikir tentang hidupnya. Kadang kita menetapkan sendiri definisi “kehidupan normal”, tanpa pernah memikirkan bahwa untuk mereka yang kita anggap hidupnya “tidak normal”, itulah kehidupan normal mereka. Kita menetapkan standar kita, lantas menyamaratakan semua orang pada standar tersebut. Ah, egois.

Film ini sendiri diputar di Q! Film Festival, sebuah pagelaran film tentang LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender), yang tahun lalu sempat diprotes oleh FPI. Bukan hanya film lokal, tapi berbagai film mancanegara bertema sama (dan kini ditambah dengan tema tentang human rights) juga diputar bergiliran di CCF, Salihara, Kantor Antara, dan tempat lainnya. Sebuah festival yang sebenarnya sangat penting, karena memberikan kesempatan pada kita untuk dapat memahami dan melihat sisi lain dari komunitas LGBT, yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap toleransi terhadap mereka yang terpinggirkan.

Malam itu, Salihara menjadi semacam “lokalisasi” komunitas LGBT. Saya yang straight (sumpah saya straight! :D) merasa bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka, di antara laki-laki dengan kelingking ngetril yang menatap saya dari kepala hingga kaki, di antara laki-laki yang bergandengan tangan dengan kekasihnya (yang laki-laki juga :P), di antara sekelompok orang yang mungkin masih berjuang untuk dianggap “normal” oleh kaum mayoritas, oleh saya, oleh anda. Mau kah?

One thought on “Lovely Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s