Tuhan, Masih Bangun?

Sebuah twit teman saya muncul di timeline, sekitar pukul 11 malam. Bunyinya singkat, “Tuhan, masih bangun? Aku mau cerita..

Dalam sesaat, pikiran saya tersentil. Di satu sisi, miris rasanya karena ternyata manusia adalah makhluk egosentris. Maksudnya adalah, kita cenderung membuat diri kita menjadi standar “kenormalan”. Yang normal itu ya yang kayak manusia. Kayak kamu. Kayak saya. Di luar itu, ngga normal. Misalnya, persepsi kita tentang alien. Padahal mungkin makhluk-di-luar-tatasurya-kita justru menganggap kita adalah alien.

Tanpa sadar, hal ini membuat kita pun “memanusiakan” Tuhan. Membayangkan Tuhan adalah makhluk berkepala, berkaki, bertangan, dengan wajah Yahudi seperti di foto-foto penyaliban Kristus, dan segala sifat-sifat kemanusiaan. Ya misalnya tidur tadi itu.

Tapi di sisi lain, saya melihat sebuah keputusasaan, sekaligus harapan. Bagaimana seseorang putus asa pada dunianya, dan lantas berharap pada apapun-yang-disebut-Tuhan itu. Berharap didengarkan, seperti manusia lain mendengarkan kita. Berharap dengan menunjukkan sisi manusia kita, Tuhan yang intangible itu menjadi tangible.

Oh, oke. Saya mikirnya udah kelewatan kali yah?

Mungkin teman saya itu hanya ingin berkeluh kesah, lewat doa misalnya. Atau mungkin ia sudah bingung harus cerita sama siapa lagi, hingga akhirnya memutuskan untuk cerita pada Tuhannya. Mungkin ia sedang surrender pada Tuhan, pasrah dan menyerah pada kekuatanNya. Dan mungkin pula Tuhan memang sedang menunggunya bercerita, sambil berkata “Ah, anakKu, akhirnya….”

2 thoughts on “Tuhan, Masih Bangun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s