buah

Buah ngga jatoh jauh dari pohonnya.” Pasti udah sering dong denger quotes itu. Iyah, saya ngga mau bahas tentang itu koq. Kali ini tentang buah yang lain. Bukan, bukan yang itu juga. Dasar mesum. #eh

Beberapa minggu lalu, seseorang berjubah dan berbicara lantang di mimbar (biasanya saya sebut dia “pendeta“), mengingatkan saya tentang apa artinya “berbuah“. Dalam iman Kristen, manusia seringkali dianalogikan sebagai sebuah pohon. Maka seseorang Kristen yang “berhasil”, seyogyanya dia “berbuah”. Begitu kata pendeta saya (biasanya).

Tapi kali ini, dia agak sedikit lebih dalam tentang buah2an. Dia tidak lagi bicara mengenai bagaimana seseorang itu harus berbuah, atau bagaimana caranya berbuah. Tapi ia lebih menekankan pada hal ini : buahnya buat siapa?

Dengan lantang sang pria berjubah berteriak “BUAH DARI SEBUAH POHON, TIDAK PERNAH DIPAKAI SENDIRI OLEH SI POHON! IA SELALU DIGUNAKAN OLEH ORANG LAIN!” 

BEUH.

Dalem juga ternyata. Setelah saya merenung (tentunya tidak dengan tertidur di dalam ruang gereja), saya paham, analogi kali ini dalam sekali maknanya. Dan mulai menyadari, betapa egoisnya saya. Atau kamu juga? :)

Orang dinilai dari buahnya, begitu kata orang. Tapi ketika seseorang telah “berbuah”, apakah cukup sampai di situ? Buat saya, buah saya bukan apa2, kalau tidak digunakan dan bermanfaat bagi orang lain. Buah saya, haruslah menjadi “dampak” bagi orang lain. Haruslah bisa dipake orang lain. Harus bisa bikin orang lain kenyang. Bikin orang lain bersyukur.

Terkadang, “buah” kita kebanyakan kita makan sendiri. Suka ngga suka, begitulah kenyataannya. Kepintaran hanya menjadi ajang membodohi yang lain. Kekayaan hanya menjadi alat merendahkan orang lain. Keberuntungan hanya menjadi sarana bersyukur dengan mengucap “untung saya ngga sial kayak dia“.

Kapan kamu (dan saya) jadi dampak untuk orang lain? Kapan saat2 ketika “buah”mu dirasakan orang lain, dan mereka bersyukur karenanya? Kapan kepintaranmu kamu bagikan pada orang lain, tanpa perlu takut orang lain akan lebih pintar dari mu? Kapan kekayaanmu kau sisihkan untuk sebuah senyuman terimakasih yg tulus, bukan untuk puja-puji dari orang yang melihatnya?

Ingat, buahmu, sematang dan senikmat apapun, hanya akan membusuk tak berguna jika dibiarkan tergeletak di sela-sela akar. :)

One thought on “buah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s