B6029TIP

“Hidup itu adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan. Jalani saja.”

Kadang kalo ngomong itu gampang, pas ngejalaninnya baru deh setengah mati. Padahal baru 2 minggu pisah, tapi ada satu momen di mana saya melayangkan pikiran saya tentang dia, misalnya dia lagi ngapain, lagi sama siapa, atau gimana kabarnya dia sekarang, di Cilacap.

Nope, i’m not talking about human. Tapi tentang motor.

Motor merk Honda Supra X 125 yang sebenernya bukan punya saya melainkan punya abang saya, tapi sudah setia selama 6 tahun belakangan menjadi teman senasib sepenanggungan saya. Mulai dari masa-masa saya liburan kuliah dulu, awal-awal bekerja di ibukota yang kejam ini, sampai akhirnya yang punya ke luar pulau (malah sekarang ke luar negri) dan akhirnya sayalah yang diberi tanggungjawab penuh untuk mengurus si motor.

Entah sudah berapa orang yang pernah saya bonceng dengan motor ini. Papa, mama, kakak, adek, abang, temen SMP, temen SMA, mantan gebetan, mantan pacar, pacar sendiri, pacar orang (eh), dan orang-orang lain yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Pret.

Entah sudah berapa ribu kilometer saya jalani bersama si Begotip (begitulah cara menghafalkan nomor polisi si motor biar ngga bingung nyarinya di parkiran), di berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pondok Gede, Sudirman – Thamrin, Kuningan, Mampang-Buncit, Kebagusan, TB Simatupang, Cilandak, Cikini, Salemba, Kelapa Gading, Petamburan, Bendungan Hilir, Kemayoran, Monas, Kebon Sirih, Sabang, Medan Merdeka, dan lain-lain.

Teringat masa-masa saya memacu si Begotip di jalur TB Simatupang – Pasar Rebo – Kampung Rambutan – TMII – Pondok Gede dengan kecepatan di atas 100 km/jam, di jam 2 pagi sepulang dari klien di IM2. Juga kesetiaannya menemani saya menyelesaikan hasil review manager sampai jam 3 pagi, dan saya paksa pulang dari parkiran gedung BEJ.

Juga tragedi demi tragedi yang pernah saya alami bersamanya. Ban belakang yang bocor hingga 2 kali dalam rentang waktu 2 jam di pagi hari padahal lagi mau nganterin (mantan) pacar ke kantornya; rantai yang putus di daerah Tebet jam setengah 11 malam; menerjang derasnya hujan badai sepulang dari kantor; juga jatuh terjengkang di dekat rumah karena saya terburu-buru melibas jalanan.

Pernah suatu waktu di tengah malam, rem si Begotip saya injak dalam-dalam demi menghindari sekelompok anak remaja yang berloncatan turun dari mobil pick-up di daerah Taman Mini. Dengan kecepatan 120 kilometer per jam dan ban yang botak (saat itu), yang ada di pikiran saya hanyalah pasrah. Ban belakang berdecit dan mulai keluar jalur. Kaki saya berusaha melepas rem belakang setengah dalam, dan tangan mulai menarik rem depan, perlahan tapi pasti. Mobil pick-up di depan sudah berhenti total, dan saya mendekat dengan sangat cepat.

Tapi Tuhan Mahabaik, dan ia membuat saya tenang. Mobil pick-up tersebut mulai berjalan maju perlahan karena anak remaja di bak mobilnya telah turun semuanya. Dengan melepas rem saya berusaha meliukkan motor melewati mobil tersebut. Tentunya hal ini bahaya dilakukan jika masih dalam posisi mengerem, karena dapat mengakibatkan selip dan motor (plus saya) akan terpelanting tidak karuan. And we did it. Kami melaju mulus menyisakan bekas rem sepanjang 5 meter.

50 meter setelah lokasi tersebut, saya menepi dan duduk di trotoar, dengan kaki gemetar.

Begotip ini termasuk motor baik. Selama 6 tahun saya sama dia, ngga pernah sekalipun dia mogok di jalan. Maksudnya, mogok karena mesin rusak atau sejenisnya ya. Mungkin juga karena saya selalu rutin servis dia, di AHASS pula. Oli ngga pernah kurang. Rantai orisinil. Onderdil orisinil. Yang ngendarain juga orisinil onderdilnya (eh).

Setahun terakhir, kondisinya udah semakin menurun. Namanya juga udah 5 tahun lebih. Sebaik apapun ngerawatnya, pasti ada penurunan kualitas. Dari yang awalnya tiap 3 bulan ke bengkel untuk servis, sekarang paling telat 2 bulan sudah harus masuk ruang perawatan. Itupun banyak requestnya, ganti ini dan itu, yang harganya bisa dibilang ngga murah.

Maka keputusan itu pun diambil. Sepertinya sudah saatnya Begotip dilungsurkan, ke orang lain yang (mudah2an) bisa jaga dia sebaik saya. Setelah lebih dari 3 bulan menawarkan ke sana ke mari, seorang kenalan satpam komplek saya pun memberanikan diri untuk menawar. Katanya, motor ini akan dibawa keponakannya ke Cilacap, untuk dipakai sekolah. Tapi pikiran buruk saya bilang, ini hanya bisnis semata menjelang hari raya Idul Fitri.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjelang lebaran, harga motor baru dan bekas akan naik, seiring dengan banyaknya permintaan. Terutama di Jawa, daerah pusat mudik nasional, di mana para pemudik ingin berlomba2 keliling silaturahmi di hari lebaran, dengan menggunakan kendaraan baru. Dan saya rasa, Begotip salah satunya.

Dalam waktu 3 hari, si keponakan kenalannya satpam komplek rumah saya (ribet bener) pun datang ke rumah. Sengaja saya persiapkan kepergiannya dengan baik. Dimandiin dulu, plus dipijet sana-sini (sama tukang cuci motor) di jalan Kalimalang. Berat rasanya, tapi harus. Dan saya seperti kehilangan teman seperjuangan saya.

Melihat dia dikendarai oleh orang lain, sedikit membuat saya patah hati. Ah, sudahlah.

Now i have to back to reality : transjakarta, mikrolet, kopaja, dan ojek. Ouch. :S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s