#NyobainPuasa

“The highest result of education is tolerance” – Helen Keller.

Berawal dari pertanyaan di kepala saya tentang makna “toleransi” dan “menghargai” dalam konteks “tidak makan dan minum di depan orang yang lagi puasa”, saya pun berinisiatif untuk mencoba untuk ikut puasa. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk ikut merasakan “penderitaan” teman-teman yang puasa, dan lebih berempati terhadap mereka.

Apa empati?

Dalam berbagai artikel dan buku yang saya baca, empati memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada simpati. Kalau simpati sekedar perasaan turut merasakan, maka empati adalah perasaan PERNAH merasakan. Kalau simpati sekedar membayangkan jika kita di posisi orang lain, maka empati adalah PERNAH di posisi orang lain tersebut. Kalau simpati adalah berpikir mengenai perasaan orang lain, maka empati adalah TERLIBAT dalam perasaan tersebut.

Sedari awal, saya tidak pernah sepakat bahwa salah satu cara menghormati orang yang sedang berpuasa adalah dengan tidak makan/minum di depan mereka. Apalagi sampe sweeping rumah makan yang buka di siang hari, mengobrak-abrik dagangan mereka, dan memaksa pihak-pihak yang tidak berpuasa untuk “menghargai” mereka yang berpuasa.

Apa makna “menghargai”, “menghormati” dan “toleransi” itu dapat dengan mudah didefinisikan oleh mereka yang mayoritas? Hanya karena mayoritas?

Buat saya, toleransi adalah sebuah kegiatan resiprokal. Artinya : saling. Ketika yang tidak berpuasa menghormati yang puasa, seharusnya (dan sewajarnya) yang berpuasa juga menghormati yang tidak puasa. Dan caranya ya bukan dengan melarang seseorang untuk makan dan minum di depan mereka.

Saya masih tak paham, mengapa orang yang minum dan makan di depan yang puasa, dianggap tidak menghargai yang puasa. Simply because i never do the fasting before. For the whole of my life. Itulah mengapa saya memutuskan untuk #NyobainPuasa. :)

Simpelnya, saya merasa bahwa toleransi, menghargai dan menghormati yang TULUS itu bisa muncul ketika kita sudah berada di tahap EMPATI. Artinya, kita sudah pernah merasakan, mengalami dan berada di pihak yang melakukan puasa. Supaya apa? Supaya argumen saya menjadi valid. Supaya tidak ada alasan “loe mah gampang ngomong begitu, kan loe ga pernah ngalamin puasa.

Maka saya pun mencoba berpuasa. Periodenya tidak sepanjang teman-teman muslim memang, karena saya “sahur” di jam 6 pagi, dan berbuka di jam 6 sore (mengikuti jadwal berbuka teman-teman muslim). Puasa makan dan minum.

  • #NyobainPuasa Day 1, semua aktivitas berlangsung seperti biasa. Ngga ada yang dikurangin. Klien sempet bingung karena dia tahu saya Kristen tapi menolak ditawari air putih seakan-akan saya puasa. Jam 4 sore, kepala mulai berat. Tapi saya memutuskan untuk meneruskan puasa, dan dengan sukses berbuka jam 6 sore.
  • #NyobainPuasa Day 2, aktivitas mulai berkurang. Namun seharian berada di depan laptop dan mulut tidak mengunyah apapun, rasanya memang berbeda. Lapar masih bisa ditahan, tapi haus rasanya ngga enak banget. But somehow, i passed that day. Berbuka selayaknya teman-teman yang lain, and I survived.
  • #NyobainPuasa Day 3, teman-teman lain yg tidak puasa mengajak ke luar kantor ketika jam istirahat. Panas bukan main. Dan mereka akhirnya makan di Blok M, dan saya menemani saja. Tak terlintas sedikitpun untuk membatalkan puasa, meskipun mereka makan dengan lahap di depan saya.
  • #NyobainPuasa Day 4, semua sudah terasa jauh lebih mudah. Tidak sempat sahur dengan makanan besar karena bangun kesiangan, toh saya bertahan hingga waktu berbuka hanya dengan berbekal jus di pagi hari.
  • #NyobainPuasa Day 5, sepertinya kebiasaan puasa telah “menginternalisasi” saya. Halah. Artinya, badan sudah terbiasa dengan pola makan dan minum saya, bahkan haus pun hanya terasa sedikit dan tidak mengganggu sama sekali.

5 hari menjalankan “ibadah” #NyobainPuasa, membuat saya cukup paham bagaimana rasanya puasa. Bagaimana hausnya, laparnya, dan perasaan-perasaan lain ketika melihat orang lain makan.

Dan hasil #NyobainPuasa justru makin menguatkan pendapat saya bahwa menghargai, menghormati dan toleransi itu tidak ada kaitannya dengan makan dan minum di depan yang sedang berpuasa.

Toh adanya orang yang makan dan minum di depan kita yang berpuasa, tidak serta merta membuat ibadah puasa menjadi berat. Tidak serta merta membuat saya ingin membatalkan puasa dengan ikut-ikutan minum. Tidak serta merta membuat saya “menggadaikan” apa yang teman-teman sebut sebagai ibadah.

Yup, apalagi itu ibadah.

Logikanya, teman-teman yang berpuasa pasti lebih “niat” ketimbang saya yang hanya “coba-coba”. Tidak ada imbalan apapun untuk saya, sementara untuk teman-teman yang ibadah puasa, ada janji pahala yang didengungkan. Dan motivasi karena pahala itu seharusnya lebih kuat ketimbang tergoda pada orang yang makan dan minum di depan kita. Bukan begitu?

Jadi buat saya, dengan pengalaman 5 hari puasa saya (yang meskipun hanya setingkat di atas puasa anak TK), toleransi itu bukan masalah siapa menghargai siapa. Tapi toleransi itu adalah tentang saling menghargai.

Seharusnya tidak ada yang berubah dengan lingkungan kita ketika bulan puasa tiba. Idealnya sih begitu. Yang puasa menghargai hak yang tidak puasa untuk makan/minum, sementara yang tidak puasa cukup berperilaku sebagaimana biasanya.

Anggaplah nafsu makan dan minum itu sebagai ujian. Jangan melulu minta dimanja, dengan menghindari semua ujian atau cobaan. Jika kamu tidak pernah ujian, bagaimana kamu akan “naik kelas”?

Seperti yang saya kutip dari Helen Keller di awal post ini, toleransi adalah hasil pendidikan yang paling tinggi. Sudah sampaikah kita di level itu? :)

3 thoughts on “#NyobainPuasa

  1. waaaa canggih banget deh lo meyn nyoa puasa juga. eh tapi iya sih yang bikin kuat puasa (kalo gw sih) niatnya. ngga makan dari pagi sampe sore, biasa aja. ada orang makan depan muka juga biasa aja. tapi kalo bukan puasa, skip satu kali makan, bawaannya pengen pingsan.hehehe. kata bapak gw (ya ampuunnn lagi-lagi bapak gw) puasa juga buat mengendalikan emosi, kita harus lebih sabar, ngga emosian (nah ini yang susah, kan laper bawaannya pengen makan orang ya), menjauhi perbuatan yang tidak-tidak, jgn sampe puasa dapet laper sama hausnya aja.

    by the by, i do appreciate what you’ve done meyn *bikin gelombang ala penonton stadion* toleransi itu emang penting banget. semoga semakin banyak orang yang menjunjung nilai toleransi tidak hanya dalam kehidupan beragama namun juga kehidupan sosial, politik dan budaya. sekian dan terima THR.

  2. menghargai dengan mencoba merasakan itu bagus. ga kayak orang yg cuma ngomong “ga enak makan disini banyak yg puasa” tp tetep makan disitu. zzz
    dan kebanyakan orang yg kurang menghargai puasa itu sendiri ya orang2 islam sendiri parah ya. klepas klepus ngerokok dpn org puasa, minum dingin seenaknya,,
    sedangkan orang non muslim aja menghargainya banget banget. hhhhh…………

  3. @carissayufita Iya, intinya belajar untuk toleransi dulu. Dan ngga cuma dengan ngemeng ke sana ke mari tentang toleransi, tanpa pernah melakukannya. #jleb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s