Midnight In Paris

Sejujurnya, saya bukan tipe penonton DVD. Paling banter cuma beli di ambass, tapi ngga ditonton. Jadi ngga heran kalo dari setumpuk DVD di kamar, hanya 10%-nya yang udah pernah saya tonton.

DVD Midnight in Paris jadi pilihan saya malam itu, karena setelah mencoba beberapa DVD ternyata ngga ada yang beres. Ada film Korea tapi subtitle-nya ngga muncul, ada film konyol Hot Shot tapi saya udah bosen, dan beberapa film yang ternyata kualitasnya masih jelek.

Tapi saya rasa malam itu bukan saya yang memilih Midnight in Paris, tapi justru Midnight in Paris yang memilih saya. #tsaah

Film yang dibuka dengan alunan terompet Sidney Bechet “Si Tu Vois Ma Mere” dan pemandangan sudut-sudut kota Paris dari pagi yang cerah, siang hari, sore ketika hujan, dan malam yang dihiasi lampu temaram, sudah membuat saya nyaman sejak awalnya. Pembuka yang sangat manis.

Gil dan Inez, tunangannya, sedang berada di kota Paris. Gil yang merupakan penulis skrip film sukses di Amerika, kini sedang mencoba peruntungan dengan membuat sebuah novel. Novel tentang seorang pemilik toko nostalgia di kota Paris, persis seperti impian Gil yang sayangnya ditentang mati-matian oleh Inez.

Sejak awal, kita telah disuguhi betapa berbedanya pemikiran Gil dan Inez. Semua impian Gil, seperti dibenci oleh Inez. Dan Gil yang kekeuh dan sabar menerangkan mimpi demi mimpinya pun membuat Inez semakin tidak paham dengan tunangannya tersebut. Tinggal di Paris, berjalan di bawah hujan, menghabiskan waktu menikmati kota Paris yang romantis, semuanya seperti tidak menarik bagi Inez dibandingkan dengan Malibu.

Suatu malam, Gil memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian, hingga akhirnya tersesat dan terduduk di depan sebuah gereja. Tepat setelah lonceng berbunyi, datang sebuah mobil antik yang penumpangnya mengajak Gil untuk ikut masuk ke dalam mobil. Ragu-ragu, Gil masuk dan berkenalan dengan sang penumpang. Fitzgerald. Wow.

Di sinilah petualangan dimulai. Bagaimana Woody Allen, sang sutradara, menyuguhkan pertemuan antara masa kini dengan masa lalu, semuanya tersaji dengan sangat menarik – di samping imajinatif tentunya. Gil berkenalan dan bercengkrama dengan F Scott Fitzgerald dan kekasihnya, Nina. Gil bertemu Ernest Hemingway dan novelnya dikoreksi oleh Gertrude Stein. Di rumah sekaligus galeri Stein pula ia bertemu sang maestro Pablo Picasso dan selingkuhannya, Adriana.

Nama-nama besar yang pernah terdengar bukan? Kalo belum pernah denger, monggo digoogling. :) Di sini, kita seperti diajak berkelana dan belajar sejarah di golden era, yaitu Eropa tahun 1920-an. Di mana para penulis dan pelukis legendaris masih hidup, berkarya, dan hilir mudik mencari inspirasi.

Ketertarikan Gil pada Adriana, yang ternyata juga menyukai Gil, menjadi inti dari cerita ini. Gil yang telah bertunangan dengan Inez, merasa menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya dalam diri Adriana. Ia menemukan sosok yang mengerti tentang mimpi-mimpinya, tentang obsesinya pada kota Paris yang eksotis.

Lewat masa lalu yang baru muncul selepas tengah malam, Gil memiliki pandangan baru atas masa kini-nya di waktu siang. Adriana, telah menunjukkan padanya bahwa sosok yang dia butuhkan bukanlah Inez. Gil butuh orang yang mendukung mimpi-mimpinya.

Toh akhirnya Adriana bukan pula orangnya. Adriana yang terobsesi dengan fashion, menganggap fashion mencapai masa keemasannya pada tahun 1890-an, bukan pada 1920-an. Maka ketika ada tawaran menarik tentang hal itu, Adriana menampik ajakan Gil untuk tetap hidup bersamanya di tahun 1920-an.

Sebuah tamparan untuk Gil, karena Adriana seperti gambaran dirinya saat ini. Bagaimana seseorang dapat terobsesi pada masa lalu, pada Paris di tahun 1920-an, dan buta terhadap masa kininya.

Sebuah pesan baik yang digambarkan dengan sangat indah, setidaknya menurut saya. Film ini menunjukkan bahwa mimpi-mimpi kita sangat layak untuk diraih, dan dengan orang yang mau mendukung kita juga tentunya. Film ini juga bicara tentang masa lalu, di mana masa lalu memang seharusnya berada di masa lalu, in a good way. Masa lalu hendaklah menjadi pembelajaran, bukan obsesi seperti yang Adriana lakukan.

Menarik melihat Woody Allen berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, hanya melalui satu film. Dialog yang dalam dan cerdas, membuat saya banyak berpikir. Pemilihan gambar dan musik yang sangat mendukung suasana film ini, membuat saya ingin berkelana ke Paris. Maybe someday.

“Nostalgia is denial – denial of the painful present… the name for this denial is golden age thinking – the erroneous notion that a different time period is better than the one ones living in – its a flaw in the romantic imagination of those people who find it difficult to cope with the present.”

2 thoughts on “Midnight In Paris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s