A Dog’s Life

MANDA DATANG! Langkah kakinya sudah sangat kuhafal. “GUK! GUK!” aku menyalak dengan gembira. Ya, tidak sepenuhnya bisa dibilang gembira, karena bunyi gonggonganku tidak berbeda jauh satu dengan yang lainnya.

Ada dua pasang kaki, ketika kuintip dari sela-sela pagar. Lho, siapa itu? Manda dengan siapa? Kucoba mengendus, merasakan aroma yang dibawa ‘makhluk asing’ itu. Tidak pernah kucium, tidak familiar rasanya. Siapa dia? Mau apa dia dengan tuanku?

“GUK! GUK!” kali ini, kutujukan gonggonganku kepada si ‘makhluk asing’. Kali ini aku marah! Siapa dia dengan lancangnya bertamu ke sini, apalagi dengan Manda?! Tali kekangku menegang karena kutarik, gonggonganku semakin keras, bulu punggungku berdiri. Kutunjukkan gigi taringku ketika pagar perlahan terbuka.

Itu Manda, dengan seorang laki-laki. Badannya tinggi besar, jauh lebih besar dari Manda. Matanya memicing menatapku, seakan aku adalah musuhnya. Aku membalas dengan memicing lebih tajam, sambil memamerkan deretan gigiku padanya. “GRRRRRR….”aku menggeram sambil terus menatap si laki-laki misterius.

“Sssh, Brunooo.. Ssshh.. “ kata Manda tenang sambil mengusap kepalaku. Usapan yang telah kutunggu sejak pagi hari tadi, ketika ia mengusapku sebelum berangkat kerja. Entah kenapa, tangan Manda seperti candu untukku, candu yang mampu menenangkan aku, sekaligus membuat aku tak lelah menunggu uluran tangannya.

Ekorku bergoyang tanpa sadar, lidahku menjulur secara otomatis, menjilat tangannya. Uh, bau aneh. Bau lelaki itu kah? Aku seakan tersadar setelah selama beberapa detik terhipnotis dengan belaian lembut Manda.

Mereka berlalu melewatiku, tanpa membiarkan aku mengenal sosok misterius di belakang Manda. Ia berjalan dengan gerak tubuh menjauhiku, sembari menggandeng tangan Manda. Ah rupanya bau itu yang menempel di tangan Manda.

Itulah malam pertemuan pertamaku dengan Romi, si laki-laki misterius itu. Setelahnya, berkali-kali ia datang baik menjemput Manda, ataupun mengantarnya pulang hingga ke teras rumah. Tak sekalipun ia pernah mengusapku, malah hanya menatap dari kejauhan saat Manda dan aku bermain, seperti sore ini.

Setelah lelah bermain, sayup-sayup kudengar Manda bercerita pada Romi, tentangku. Iya, tentang aku. Tentang si Bruno yang dirawatnya sejak lahir, dijaganya ketika sakit, dan dibersihkannya dengan busa sampo yang berlimpah, dan aku malah berlari berkotor-kotoran persis setelah dimandikan.

Tentang aku, Bruno, yang telah berumur 9 tahun di dunia manusia. Dalam penanggalan anjing, 1 tahun manusia adalah 7 tahun anjing. Artinya, tahun ini aku telah berumur 63 tahun di dunia anjing. Tak heran berbagai penyakit juga telah merasukiku. Terakhir, penyakit – yang di dunia manusia disebut – katarak telah hampir membutakanku, sebelum akhirnya Manda berinisitif membawaku operasi mata. Tidak maksimal memang, hingga akhirnya Manda memutuskan untuk mengikatku dengan tali kekang agar aku tidak terperosok ketika berjalan-jalan di halaman rumah.

Romi tampak tidak senang dengan anjing. Atau dia hanya tidak senang denganku? Entahlah. Yang pasti ia tidak tertarik dengan cerita Manda. Wajahnya seperti hendak mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Ia hanya belum paham bahwa membicarakanku adalah topik favorit Manda dengan mantan-mantannya dulu.

———————————————

Aku termenung. Saat ini sudah jam 2 pagi sepertinya, tapi bulu kudukku masih berdiri. Bukan, bukan karena dinginnya malam sehabis hujan ini. Tapi karena apa yang kusaksikan malam tadi.

Manda pulang seperti biasa, dengan ditemani Romi. Suara mobil Romi telah kuhafal dengan baik, sehingga aku tak mengggong lagi kali ini. Suara mesin dimatikan, dan perlahan suara pintu mobil membuka mulai terdengar. Aku pun mulai berdiri, siap menyambut tangan Manda di kepalaku.

Tapi kali ini ada yang berbeda. Suara langkah sepatu Manda, kali ini diiringi suara….isak tangis? Ia menangis? Terakhir kali kulihat ia menangis adalah ketika aku akan dioperasi katarak tahun lalu. Pertanyaanku terjawab. Manda muncul di pagar dengan maskara yang telah luntur.  Romi menyusul di belakangnya dengan langkah tergesa.

Tak ada usapan, tak ada suara riang Manda malam itu. Yang ada hanya isak tangis dan suara bentakan tertahan dari mulut Romi. Di teras rumah, mereka bertengkar. Aku hanya menyaksikan, tanpa mengerti apa yang mereka pertengkarkan. Manda tak biasanya menangis tersedu-sedu seperti saat ini, tapi kupikir hanya masalah biasa. Aku pun mulai meringkuk di peraduanku, di pinggir taman.

“PLAK!” tiba-tiba bunyi tamparan terdengar di telingaku. Mataku refleks membuka, dan melihat Manda memegang pipinya. Kulihat pula Romi yang telah berdiri dan beranjak pergi. APA-APAAN INI?! DIA MENAMPAR MANDAKU!?

“GRRRRRRR!!! GUK GUK GUK!!!” Dengan segenap kekuatanku, aku menyalak menyuarakan kemarahanku. Tali kekangku menegang, namun tak kuhiraukan dan terus kupaksakan diriku mengejar laki-laki bajingan itu. Leherku tertarik tali kekang berkali-kali, hingga nafasku tersengal. Sakit sekali, tapi menyaksikan Manda menangis tersedu, terasa lebih menyakitkan.

Deruman mesin mobil Romi menggema, dan secepat kilat mobil itu telah hilang dari pandanganku. Aku masih dengan segenap kekuatanku menggonggongi Romi di sela nafasku yang semakin sesak. Tarikan tali seakan memaksaku diam, meski emosiku telah memuncak. Isak tangis Manda terdengar di sela-sela suara gonggonganku, dan tak ada yang bisa aku lakukan untuknya. Untuk Mandaku.

Malam itu aku menangis. Ya, anjing pun bisa menangis. Apalagi untuk tuannya, yang dikasihinya dengan sepenuh jiwa. Anjing hanya punya satu tuan sepanjang hidupnya. Kami makhluk yang setia pada tuan kami, meski kami terlihat baik pada banyak orang. Dan tuanku, sekaligus cinta pertamaku, adalah Manda.

Rasanya sebagian hidupku pergi melayang bersama dengan tangis Manda yang menguap. Hatiku hancur. Betapa sedih rasanya menyaksikan cintaku disakiti oleh orang lain, tanpa bisa berbuat apa-apa. Akupun tertidur dengan perasaan campur aduk. Dinginnya malam tak dapat kurasakan lagi. Aku rasa, aku mati rasa.

————————————————-

Beberapa malam setelah malam itu, Romi mulai datang ke rumah. Sepertinya masalah mereka telah selesai, meski untukku hal itu tak akan pernah selesai. Sejak malam itu, Romi adalah musuhku. Musuh terbesarku, bahkan di atas kucing tetangga yang suka sekali mondar-mandir di hadapanku.

Dan kali ini, musuhku kembali datang. Deruman mobil, decitan rem, dan suara pintu yang membuka dan menutup telah terdengar. Manda masuk diikuti Romi, yang dengan tampang anehnya, menatapku. Kutatap Manda. Kutunggu usapan tangannya. Tapi tak ada. Ia bahkan seperti tak melihatku. Pertengkaran lagi kah? Buluku mulai naik. Naluriku mengatakan ada yang tak beres di sini.

Benar saja. Ku lihat Romi meraih bahu Manda, yang ditepisnya dengan menggoyangkan bahunya. Romi tampak emosi, ditariknya tangan Manda, dan dibalikkannya tubuh Manda. Kini mereka berhadap-hadapan, dengan Manda menatap tajam mata Romi.

Dari temaram lampu taman, kulihat Romi menggerak-gerakkan tangannya di hadapan Manda, berusaha menjelaskan sesuatu. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seakan kehabisan ide berbicara dengan Manda. Manda pun tak diam. Dengan lebih sengit, ditunjuk-tunjuknya muka Romi. Sementara aku, memandang dengan awas dari kejauhan. Aku tak akan kecolongan lagi kali ini. Setiap gerakan Romi, akan terus kuawasi.

5 menit mereka berdebat, Romi memegang bahu Manda dan mulai menggoncang-goncangkannya. Manda pun berbalik dan menepis tangan Romi. Sekonyong-konyong Romi menarik tubuh Manda dan mulai memasang gesture tegang.

Akupun meradang. Merasakan adanya bahaya pada Manda, akupun menggonggong dengan keras. Romi tak menghiraukanku, begitu pula Manda. “GUK GUK! GRRRRRRRRRRRR!!!” aku menyalak seakan meminta perhatian mereka.

Tiba-tiba tangan Romi terangkat ke belakang, siap menampar. Dengan geram aku menarik tubuhku untuk bangun. Tak kurasakan lagi tegangnya tali kekang yang menahan leherku. Aku terus berusaha maju, menyalak dengan keras, berusaha menghentikan tangan Romi yang telah mulai mengayun.

“PLAK!!” satu bunyi tamparan terdengar. BAJINGAN! Dengan sekuat tenaga kutarik tubuhku. Seakan ada tenaga dalam dari tubuh renta ini, kupaksakan diriku menahan sakit di leher dan tenggorokanku. Kemarahan telah merasuki diriku. Mataku tak lagi mampu melihat dengan jelas, tapi sayup-sayup kulihat tangan Romi yang telah terangkat kembali.

Dengan ancang-ancang menerkam, kukerahkan seluruh sisa tenagaku untuk menyelamatkan tuanku dari tangan kasar manusia tak beradab ini. Nafasku telah tersengal, namun tak kuhiraukan asal aku bisa menghajar laki-laki ini. Menerkam tangannya yang telah menampar Manda 2 kali di hadapanku. TUANKU PANTAS MENDAPAT PERLAKUAN YANG LEBIH BAIK!

“BRAAAAAAAKK”, kutarik tubuhku sekuat-kuatnya, hingga besi penahan tali kekangku pun tercabut dari tempatnya. Mataku telah gelap, namun naluriku mengarahkan tubuhku ke arah Romi. Sekuat tenaga kupacu langkahku, dan kupamerkan deretan gigi yang telah siap menerjang Romi, berharap ia mundur dan tak menampar Manda lagi.

Jarakku dengan mereka tak lebih dari 5 meter. Dalam sedetik kurang, aku dengan tali kekang di leherku dan besi yang ikut terseret, telah berada di depan mereka berdua. Manda menatapku dengan kaget, seakan tak percaya bahwa anjing setua aku mampu kabur dari tarikan tali kekang ini. Wajah Romi tak kalah kaget, melihat aku yang telah dalam posisi siap menerkam.

Kutekuk kakiku, dan kuarahkan mataku ke arah kaki Romi. Seperti pesawat tempur yang telah mengunci targetnya, pergelangan kaki Romi adalah target empukku. Dalam sepersekian detik, dapat kuterkam kakinya hingga berdarah. Tak akan kulepaskan hingga ia minta maaf pada Mandaku. Biar kurasakan darahnya di mulutku, sebagai pembalasan dendamku atas perbuatannya pada Manda.

Aku pun melompat. Tak kuduga, Romi mengangkat kakinya jauh ke belakang. Aku yang sudah setengah jalan, tak dapat mundur ataupun mengelak. Kaki Romi seakan sudah siap menendangku. Oh God.

“BUKKKKKKKKKK!!”

Kurasakan perutku dihantam benda padat dengan kekuatan yang luar biasa. Telak, kaki Romi mendarat di perutku. Tubuhku melayang, kepalaku menengadah, memandang Manda yang juga memandangku dengan tidak percaya.

Seketika, ingatanku melayang ke tahun-tahun yang kulalui bersamanya. Terbayang indahnya senyumnya setelah melihatku bersih setelah mandi, yang lalu dilanjutkan dengan muka marahnya ketika aku dalam seketika menjadi kotor kembali.

Terbayang wajah polosnya ketika ia mengajakku ngobrol tentang masalahnya di sekolah, yang akupun tak mengerti sama sekali. Tapi yang aku tahu, ia berbagi dunianya denganku. Dan aku mendengarkan dengan seksama, sekedar menikmati nada suara Manda.

Terasa di kepalaku, usapan lembut Manda tiap pagi dan malam. Seakan tanpa pernah bosan, lembut tangannya merupakan perangsang semangatku, yang membuatku menunggunya pulang tanpa lelah, sekedar untuk merasakan tangan itu lagi.

Teriakan Manda menyadarkanku. Menyadarkanku bahwa tubuhku sedang melayang menuju tembok. Mataku menatap kakinya, kaki yang kutunggu melangkah dari balik pagar setiap harinya. Kaki yang bunyi langkahnya telah kuhafal dengan segenap memoriku.

Teriakan Manda menjadi penutup umurku. Penutup kesetiaanku. Sudah banyak cerita mengenai kesetiaan seekor anjing pada tuannya, bukan? Aku membuktikan kesetiaanku. Membuktikan bahwa hidupku untuknya. Membuktikan bahwa matiku adalah untuk membelanya.

Kini kuharap Manda mengingatku. Mengingat aku yang selalu ada untuknya. Mengingat aku sebagai bagian hidupnya. Mengingat aku sebagaimana aku mengingatnya. Cinta pertamaku.

Dogs are not our whole life, but they make our lives whole.  ~Roger Caras

 

2 thoughts on “A Dog’s Life

  1. Hai Armeyn, salam kenal :)
    Pernah punya anjing, anjing kampung, namanya Britney… Dulu, kalau lg dekat dengan seseorang, aku juga selalu menilai apakah orang itu bisa dekat dengan Britney.
    Sekarang Britney udah meninggal (iya meninggal, bukan mati), di rumah ada anjing pengganti… tapi ngga akan pernah bisa menggantikan Britney.
    Iya, anjing hanya punya satu tuan sepanjang hidupnya, dan hanya ada satu anjing sepanjang hidupku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s