Mengapung di RW Lounge

There’s always first time for everything. Begitu kata orang. Begitu juga dengan pengalaman “konser” intim yang diadain RedWhite Lounge (RW Lounge) di Kemang ini.

RW Lounge ini adalah sebuah lounge, atau kafe, atau tempat ngumpul kalangan pecinta jazz di Jakarta. Lokasinya di Kemang, tepatnya di Kemang Utara yang jalannya satu arah itu. Agak masuk ke dalem sih, tapi persis di sebrangnya Kemang Food Fest. Masuk ke dalem sekitar 20 meter, ada sebuah “rumah” dengan tulisan Red White Lounge.

Tempat ini udah sering banget saya niatin untuk dikunjungin, tapi baru kesampean hari Sabtu kemarin. Berkali-kali liat video musisi-musisi yang pernah manggung di sini, tapi belum kebayang sama sekali dengan layout-nya. Ada kekhawatiran juga sih, apakah makan/minumnya mahal, apakah banyak orang maboknya, dan apakah-apakah lainnya.

Tapi kali ini saya niat banget, karena FLOAT yang akan manggung!

Sebuah band berisi 3 orang, Meng (Hotma Roni), Bontel (ngga tau siapa nama aslinya) dan Remon. Jatuh cinta sejak pertama kali denger mereka jadi pengisi soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, hmm, sekitar tahun 2006 kayaknya.

Dan sejak itu, lagu-lagu mereka selalu dengan sejuknya menemani telinga saya.

BCUho3hCMAAJmPv

Bandung, 2006, adalah saat seorang temannya teman menawarkan tiket gratis premier film 3 Hari Untuk Selamanya. Parijs Van Java saat itu baru saja buka. Dan tanpa ragu saya mengiyakan.

Pengalaman bertemu Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti, serta duo produser Mira Lesmana dan Riri Riza, masih membekas di kepala saya. Film-nya pun masih samar-samar teringat. Betapa sebuah film perjalanan yang kaya akan dialog, tidak membuat saya bosan melainkan excited.

Tapi bukan itu intinya. Film ini, tanpa lagu yang dikarang dan diaransemen oleh Meng melalui Float, terasa timpang. Lagu-lagu itulah yang membuat saya masih terus mengingat suasananya. Mengingat momennya. Mengingat pengalamannya. Indah.

Sayang sekali, ketika Float manggung di PVJ usai pemutaran film, saya harus pulang. Temannya teman yang ngajakin kami ke sana ternyata sakit, dan berhubung cuma dia yang bisa nyetir, mau tak mau kami harus pulang.

Dan sejak itu, saya penasaran banget liat Float manggung. Banget.

Tahun lalu, harapan itu hampir kesampean. Ada acara di Salihara, saya lupa apa namanya. Si dia tidak bisa menemani, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat sendiri. Dengan membawa kamera SLR, menembus sore dengan niat menyaksikan Float.

Tapi apa daya, alam berkehendak lain. Awan menumpahkan airnya dengan gila-gilaan sore itu, tepat ketika saya sedang berada di motor.

Sore itu jadinya saya habiskan dengan berdiri di depan sebuah toko di daerah Otista, Cawang, sembari menunggu hujan usai bersama beberapa pengendara motor lainnya. 2 jam saya berdiri, hingga akhirnya hujan reda. Saya pun memutuskan untuk batal ke Salihara. Impian menonton Float, lagi-lagi gagal.

Sampai akhirnya twit Indra Lesmana tentang jadwal RWLounge membuat saya tertegun.

Ada Float di sana. Tanggal 9 Februari.

Sedikit riset tentang lokasi dan reservasi, akhirnya saya telpon langsung untuk memastikan. Intinya, tiket FDC 100ribu rupiah itu sudah termasuk first drink (bisa bir, jus atau sejenisnya), dan posisinya berdiri. Kalo mau dapet duduk, harus reservasi table dengan minimum spend 350ribu per meja. Mahal juga yah. Akhirnya, saya memutuskan untuk ambil tiket yang berdiri aja, dan katanya bisa langsung on the spot.

Jam 9 malam, tepat setelah hujan mengguyur bumi Kemang (tsahelah), kami sampai di depan RW Lounge.

Bayar tiket, basa-basi sebentar, lalu kami masuk ke dalam. Sebuah ruangan dengan panggung kecil di salah satu sudutnya, serta sofa dan meja2 tinggi mengelilingi panggung. Jaraknya dekeeet banget, malah hampir ngga ada jaraknya. Ada bar di sebelah kanan. Berjalan ke luar lounge, ada beberapa meja bundar dan sebuah meja bilyar.

Iya, meja bilyar.

Kayaknya tempat milik Indra Lesmana ini memang didesain sebagai tempat yang “asik” untuk orang-orang yang “sok asik”. HAHAHA :D Bukan apa2, tapi derajat kegaulan saya berasa mentok sampe dasar setelah ketemu orang-orang di RWLounge. GAHUL ABIS MEREKA! Saya mah cuma butiran debu.

Sejujurnya, saya merasa terasing di sana. Bukan apa2, tapi orang2 yang berdatangan satu per satu, ternyata saling kenal. Bercipika-cipiki setiap kali ketemu.

Haaaiii, apa kabaar kamuuu..”, kemudian cipika cipiki. Ada Mbak Mira Lesmana, tau2 ada orang entah siapa nyamperin dan jejingkrakan “yaaah ampuuun kamuuu…” kemudian cipika-cipiki. Ebuset.

Lalu muncul Nicholas Saputra, dan si dia bengong sampe ngences2 dengan muka mupeng. Terpaksa saya sikut biar dia jatuh lagi ke bumi dan nyadar bahwa ada siluman ular di sampingnya. :D

Ngga lama, muncul Eva Celia. Iya Eva Celia Lesmana. Iya yang cakep banget itu. Kemudian gantian, saya yang ngences dan dia yang nyikut saya untuk nyadarin saya bahwa yg di samping saya malahan lebih cakep daripada Eva Celia. #EAAAKK (Ini nulisnya sambil dipelototin dan dicubit).

Cuma kami berdua dan segelintir orang yang dengan manyun bener2 nungguin Float manggung, bukan buat ketemu temen.

Dan Float telat banget manggungnya. Daaaan, itu menyebalkan (sebenarnya). Tapi apa boleh buat.

Kecewa sih, karena dijanjiinnya jam 9, ternyata jam 10 malem baru mulai. Orang-orang yang tadinya di luar, mulai berangsur masuk ke dalam ruangan yang ada panggungnya. Seketika, ruangan penuh.

Kami berdiri beberapa meter dari panggung. Kebetulan, depan kami adalah meja yang belum ada penghuninya, jadi pandangan kami sama sekali tidak ada penghalang. Wow.

Dan penantian satu jam lebih, tidak sia-sia. Penantian selama beberapa tahun menunggu penampilan Float, terbayar sudah.

Saat itu pula, saya baru menyadari dalamnya lirik lagu2 Float. Saya bukan “orang lirik“, tapi saya “orang nada”. Artinya, saya lebih tertarik sama nada sebuah lagu dibanding liriknya. Selama ini, saya dengan bodohnya ngga menyadari bahwa lirik lagu mereka dalem-dalem. Banget. Uh. Oh.

Coba liat lagu Surrender, yang juga ikut dinyanyikan malam itu.

To the future we surrender.
Let’s just celebrate today, tomorrow’s too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn’t this what you’ve been dreaming of?

Atau lagu soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, yang juga jadi awal mula pertemuan saya dengan musik Float.

“Langit biru, setiap liku jalan itu. Akan s’lalu, melukiskan kisah itu
Rindu yang kian terbendung lama akan mencapai batasnya
Terbuai indah kenangan baru, sesal jadi penyatu
S’galanya t’lah berlalu.”

Juga Stupido Ritmo yang nadanya aneh2, ternyata punya lirik yang dalem juga.

“You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
Writing love words with our whispers in our hearts
You and I stealing kisses from each other when we fight
Making wishes on the same star every night

Why don’t we just dream away if that could make us stay?
Why can’t we just dream away?
We’re not real, anyway”

Dan tentunya lagu yang saya tunggu-tunggu, lagu syahdu nan menyayat hati (halah), Sementara :

“Sementara… lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku, hanya ada kau dan aku
Dan, sementara… akan kukarang cerita, tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua.

“Percayalah, hati, lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara”

*tolong jangan iris2 urat nadi abis baca postingan ini* :D

IMG_20130209_220601
Itu siluet yang di tengah Eva Celia lho. EVA CELIA! :O

Dan beruntungnya saya adalah karena mereka membawakan semua lagu mereka malam itu.

Formasi klasik ditambah satu gitar elektrik sebagai melodi dan seorang pemain perkusi, membuat penampilan mereka terasa lengkap. Keintiman, yang sangat jarang terjadi di konser musik yang pemusiknya berada di panggung setinggi 2 meter dan berjarak minimal 5 meter dari barisan penonton terdepan, benar-benar terasa di ruangan tersebut.

Meng, Bontel dan Remon dengan rendah hatinya menyapa penonton. Penonton dengan kompak menyanyikan lirik2 lagu mereka.

Ruangan itu terasa seperti sebuah ruang keluarga, di mana orang-orang di dalamnya terikat dalam sebuah ikatan. Sebuah keluarga.

Meng bernyanyi dengan hati, mungkin itu yang membuat malam itu berbeda. Atau hanya saya saja, yang begitu tergila-gila pada mereka? Atau karena ada dia yang menggandeng jemari saya sepanjang musisi favorit saya bernyanyi? :)

Yang pasti, malam itu saya “mengapung” bersama Float. :)

Ps: lagunya Float bisa didenger di sini : https://soundcloud.com/floatproject , GRATIS. :D

2 thoughts on “Mengapung di RW Lounge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s