recto-verso

Kamu tau apa itu rectoverso?

Dalam dunia percetakan, recto dan verso dikenal sebagai halaman “depan” dan “belakang” dalam sebuah buku. Recto adalah halaman yang di sebelah kanan, sedangkan verso adalah halaman di belakangnya. Dan begitu seterusnya.

300px-Recto_and_verso.svgRectoverso membuat pencetakan sebuah buku menjadi lebih mudah, karena petugas pencetak akan memastikan bahwa dalam setiap lembar yang dicetak, akan selalu ada halaman recto dan halaman verso. Selalu.

Saya belum membaca buku karya Dewi Lestari ini, namun saya pikir, Dee mengambil sisi filosofis dalam recto dan verso, sebagaimana ungkapan “dua sisi mata uang“. Bagaimana recto dan verso akan selalu berdampingan dan tidak dapat dipisahkan.

Bagaimana sebuah lembar cerita, pasti memiliki sisi recto dan sisi verso.

Dan melalui bukunya, Dee mau menunjukkan pada saya dan kamu, bahwa di semua cerita menyenangkan, ada kisah menyedihkan di belakangnya. Dan begitu pula sebaliknya. Recto. Verso.

Lihat bagaimana kebahagiaan Amanda (Acha Septriasa) yang merasa punya teman curhat abadi, yaitu Reggie (Indra Birowo). Padahal Reggie selama ini menyimpan perasaan cintanya pada Amanda, yang berkali-kali dikecewakan oleh pria pilihannya.

Juga bagaimana Leia yang jatuh cinta pada Hans, ternyata membuat Abang (Lukman Sardi) menjadi patah hati. Leia tidak menyadari, bahwa selama ini Abang telah jatuh cinta padanya, dengan cara-cara yang tidak biasa.

Dengan keterbatasan seorang pengidap autis, Abang mencintai Leia tanpa alasan, meski juga tanpa pilihan.

Begitu pula kisah Taja dan Saras, yang diawali dengan quickie di tangga darurat. Toh kebahagiaan pernikahan Saras dengan Irwan, yang telah menganggap Teja sebagai adiknya, malah membuat Saras merasa bersalah karena telah mencampakkan Taja.

Rectoverso-Poster-Film-332x205Film omnibus ini, ternyata tidak seperti film omnibus lain yang pernah saya tonton, yaitu Belkibolang (pernah saya review di sini).

Jalinan 5 cerita yang tidak saling berhubungan tersebut, ternyata dikompilasi dengan apik secara berganti-gantian, meski menyebabkan saya agak kerepotan menghafalkan banyaknya tokoh di awal film tersebut.

Film ini juga berbeda dengan film omnibus semacam Love, yaitu film yang dibintangi terakhir kali oleh (Alm) Sophan Sophiaan sebelum ia meninggal dalam kecelakaan moge. Film Love menyertakan persimpangan-persimpangan di mana cerita-cerita tersebut saling bertemu, meski tidak bertautan.

Selain 3 kisah dalam film Rectoverso ini, ada pula cerita tentang Firasat. Film yang berdialog paling banyak dan panjang-panjang, namun punya pesan yang dalam.

Salah satu quotes yang saya ingat dari film ini adalah ketika Senja (Asmirandah) bertanya pada Panca (Dwi Sasono), apa gunanya firasat. Apa gunanya tahu sesuatu, tapi tidak dapat melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Film ini bilang:

firasat itu alat untuk kita siap dengan kenyataan. Melalui firasat, kita belajar menerima diri dan berdamai dengan hidup ini.

Juga ada kisah tersuram dari film ini, yaitu Hanya Isyarat. Film patah hati dengan analogi “punggung ayam” ini entah kenapa suram tapi mencerahkan. 5 orang yang saling menceritakan pengalaman paling sedihnya, ternyata membuat saya menyadari bahwa yang tersedih dari kisah sedih adalahmengetahui apa yang tidak sanggup kita miliki.

Di samping penyusunan film yang saling silang dan kadang bikin saya bingung, film ini layak diapresiasi dengan luar biasa. 5 sutradara yang (sepertinya) belum terlalu berpengalaman, ternyata punya kemampuan yang sangat prima untuk “menyadur” cerita di novel ke dalam sebuah film.

Tidak seperti Perahu Kertas dan 5 Cm yang agak mengecewakan dalam eksekusinya, Rectoverso harus diakui punya hasil yang jauh, jauh, jauh lebih baik.

Tidak sok puitis dan penuh kalimat panjang yang normatif seperti 5 cm. Tidak pula beralur loncat-loncat seperti Perahu Kertas.

Dan soundtrack film ini menunjukkan dengan cermat bagaimana sebuah pemilihan lirik dan nada lagu, sangat membantu sebuah film dalam menyampaikan kesan dan pesannya.

Saya masih terus terngiang-ngiang adegan Abang mengamuk dengan backsound suara Glenn Fredly menyanyikan “Malaikat Juga Tahu”.

Atau adegan Senja menangis di bawah derasnya hujan, dan ibunya datang menghampiri, sembari lagu “Firasat” dinyanyikan oleh Dewi Lestari.

Racikannya, pas.

Pesannya, tersampaikan dengan sangat baik.

Dan kalo aku jadi recto, kamu mau kan jadi verso-ku? :)

Dan buat kamu yang nyari-nyari quotes dari film Rectoverso, di sini banyak banget deh : http://www.tumblr.com/tagged/rectoverso :D

8 thoughts on “recto-verso

  1. sebenernya 5 cerita tadi ga saling lepas banget sih meyn :) ada satu bagian dimana ibu senja minta dia nganterin kue ke ibu abang, salah satu temen backpacker (yg sahabatnya mati kayaknya) al itu anak kos di rumah kos abang, terus panca ngasih buku yg ditulis Al ke senja. Kalo yg Taja ama saras ga ngerti deh dimana hubungannya

  2. ada kok, tapi emang ga terlalu standout, jadi kelewatan kalo ga jeli…awalnya aku mikir buku yg dikasih panca itu ditulis saras (larasati), tp ada yg bilang ditulis al.

  3. ngga, soal arti, rectoverso itu terbitan thn 2008, disebut begitu krn idenya dengar novelnya dan baca musiknya, jd sepaket novel dan album Dee yg dijual bersama/pisah

  4. hooo.. baru tau saya.. :D
    kalo saya malah nangkepnya begitu ya, karena memang seperti arti recto dan verso itu sendiri, menggambarkan bahwa dalam sebuah kisah, pasti ada lebih dari 1 sisi.. hehehe..

    trimakasih btw. :)

  5. maaf mba, harusnya yang menyanyikan lagu firasat itu mba raisa :) monggo di cek langsung di youtube , dan overall buat blog nya.. kata-katanya mudah dicerna :) goodjob (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s