Senyum di Balik Masker

Semalam aku lelah sekali.

Semenjak pagi hingga siang, pekerjaan datang tak berhenti. Satu meeting penting harus dihadiri siang itu, meeting pemeriksaan khusus di mana para bos berbagai divisi di kantor ikut meramaikan.

Saya dalam tekanan.

Makan siang pun terlewatkan. Sekotak iga sapi dan ayam penyet Lekko teronggok di meja karena telah disiapkan oleh klien. Tapi perut rasanya kenyang. Maka menganggurlah si Lekko kesukaanku ini.

Sore berganti, tugasku dengan klien usai sudah, setidaknya untuk hari ini. Lekko tadi kubungkus rapi, akan kumakan nanti, pikirku. Di mall depan kantor, seorang bigboss telah menunggu. Ini tentang masa depanku.

Tak berhenti di bigboss, penugasan untuk esok hari juga telah menunggu di cubicleku. Kusiapkan sebentar, sambil mengatur nafas dan menghubungi dia untuk bertemu. Si pencerah hariku. Tak lama, aku beranjak dari ruanganku, dengan Lekko di dalam ranselku.

Tawa dan cerita semaunya sambil menikmati makanan di Salihara membuatku lupa pada Lekko-ku. Perut kenyang, senyum mengembang, kini saatnya pulang. Setelah dia kuantar, aku pun melaju menuju rumah.

Di jalan, sembari mengumpat pada pengendara sembrono, kembali aku teringat pada Lekko di ranselku. Kulirik jam, sudah jam sebelas malam. Orang rumah pasti sudah tidur. Aku pun sudah kenyang. Lekko-ku mubazir.

Sambil meneruskan perjalanan, kuniatkan hati untuk memberikan makanan ini kepada yang membutuhkan. Tapi siapa? Anak-anak di lampu merah Pancoran kah? Tukang parkir di Kalibata kah? Atau siapa?

Motorku terus melaju menembus jalanan UKI yang masih padat. Kuingat, di sepanjang jalan ini pasti banyak pemulung dan tunawisma yang tidur di pinggir jalan. Menjelang Patria Park, kulambatkan motorku. Ku ambil jalur kiri, sambil mataku awas melihat orang-orang di trotoar.

Dari kejauhan, sebuah gerobak terlihat. Seorang ibu tua duduk di trotoar. Ia terlihat melamun, sambil wajahnya silau diterpa lampu kendaraan yang lalu lalang. Kuhentikan motorku beberapa meter melewati gerobaknya. Klakson kunyalakan, sambil tanganku meraih ransel dan membuka risletingnya.

Ibu itu berdiri, tampak bingung namun terus berjalan menghampiriku. Tubuhnya kecil. Bajunya lusuh. Wajahnya kusam. Sepasang mata lelah terlihat di balik bayangan kerudungnya.

Sekitar semeter di belakang motorku, ia berhenti. Kukeluarkan kotak Lekko-ku dari ransel. Terbayang ayam penyet, iga sapi, tahu tempe dan nasi yang ada di dalamnya, yang sempat kuintip tadi siang.

Sambil membuka kaca helm, kuulurkan kotak itu ke hadapannya.

“Makan Bu, kebetulan saya ada makanan.” kataku padanya.

Matanya berbinar, senyum mulai mengembang di wajahnya.

“Beneran Pak? Ya Allah…” katanya sembari mengambil kotak Lekko dari tanganku.

Dipegangnya kotak itu dengan 2 tangan. Dicium. Lalu dicium lagi. Dan lagi.

Aku hampir yakin, ia tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Ia tidak tahu berapa harganya. Ia tidak tahu darimana aku mendapatkannya.

Ia tidak tahu aku siapa.

Yang ia tahu, ia akan makan malam ini.

Sambil diciumnya kotak Lekko itu, ia berbalik ke arah gerobaknya. Aku menatapnya dari motorku, dari balik kaca helm yang telah kupasang kembali.

“Terimakasih..” kulihat gerak bibirnya di balik suara-suara klakson mobil dan motor yang melaju kencang.

Di balik masker motor yang kupakai, aku tersenyum.

Kukembalikan pandangan ke arah depan. Perjalanan ke rumahku masih setengah jalan lagi. Sambil bersiap tancap gas, kulirik kaca spionku. Pemandangan si ibu memegang kotak dengan dua tangan sambil melihat ke arahku, membuatku trenyuh.

Ternyata 15 detik dari 24 jam-mu, bisa terpakai untuk meringankan hari orang lain. Bisa memberi semangat pada yang membutuhkan. Bisa menciptakan senyuman di wajah orang lain. Bisa membuatnya bersyukur pada Tuhannya, karena malam ini ia diingatkan bahwa ternyata Ia masih terus menjaganya.

Terasa basah di ujung mataku.

“Selamat makan, Bu..” gumamku di balik masker.

7 thoughts on “Senyum di Balik Masker

  1. men, bisa ga kalo ga buat gue pengen nangis. #kemudiannangis #dibahupevitapearce

  2. @Kekosarah :) ibu itu yang pertama kali bikin saya nangis koq. saya cuma meneruskan pesannya ajah.. ^_^

  3. menyentuh sekali,,sekotak nasi yang terabaikan bisa menjadi sangat berharga saat jetuh pada orang yang tepa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s