3rd Music Gallery : Time Machine

Postingan basi sih. Tapi rasa-rasanya perlu juga untuk dishare. :)

3rdMusicGallery_2Jadi setelah sukses mendatangi Music Gallery pertama dan kedua, tahun ini Music Gallery diadain lagi untuk ketiga kalinya. Dan saya datang (lagi) pastinya. Tahun ini, temanya adalah “Time Machine“, jadi pemuncak acaranya adalah sebuah Band indie lawas yang sudah eksis sejak tahun 1992 : RUMAH SAKIT. Gila. Masih idup aja band ini.

Sore itu, 23 Maret 2013, dibuka dengan hujan. Saya sampai harus meninggalkan motor saya di Setiabudi Building, saking derasnya hujan sore itu. Sampai dengan selamat di Annex Building, langsung disambut oleh adik-adik unyu anak FEUI. *tiba2 disikut sama yang di sebelah* :D

Suasana yang sejuk-sejuk gimana gitu, langsung berubah panas karena suasananya emang panas. Eh, maksudnya, karena ada Adrian Adioetomo di panggung luar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, panggung di acara ini memang terbagi dua. Panggung luar (di area parkir) untuk musisi-musisi “kelas bawah”, sementara panggung dalam yang guede naudjibilah dan full AC dan lighting menawan, untuk musisi-musisi “kelas atas”. Yeah.

Dan saya ngga ngerti kenapa Adrian Adioetomo dianggap musisi “kelas bawah”. I have no idea, at all. INI MUSISI KELAS DUNIA, WOY! 

Membuka penampilan dengan lagu yang saya juga ngga tahu, dan ditutup dengan lagu yang lagi-lagi saya Adrian Adioetomongga tahu. Tapi tetep aja, dia ini musisi kelas dunia! Penampilan memang sangat-sangat menipu, tapi gaya bermain gitarnya Adrian bener-bener istimewa. Nama alirannya : Delta Blues.

Baru-baru ini, Adrian meluncurkan album baru, namanya Karat dan Arang. Satu bundel, isinya 2 CD, dan really really worth to buy. Kalo kamu memang suka dengan musik blues – terutama blues jadul tahun-tahun sebelum kemerdekaan, album ini salah satu yang harus dimiliki.

Okeh, lanjut ke dalem.

Sudah ada The Experience Brothers! Another super-duo blues band! Konsepnya mirip sekali dengan The Black Keys, tapi yang ini lokal punya.

Kakak beradik asli Bekasi ini menghentak panggung dengan hingar bingar musiknya. Ada yang kurang dari penampilannya, karena mereka tidak seenerjik ketika tampil di Salihara beberapa minggu sebelumnya (kebetulan saya juga hadir di situ).

Tapi lumayanlah. Stompbox, Heart Painted Black, dan Summer Love dibawakan dengan apik. Meskipun, lagi-lagi, kurang menggigit. Vokalis/gitaris Ibrahim Saladdin dan drummer Daud Sarassin sepertinya masih lelah karena mereka baru saja ada gigs di Singapura sehari sebelumnya.

Sintingnya adalah ketika Iga Massardi tiba-tiba muncul ke panggung. Iya, Iga yang itu. Yang cool. Yang ganteng. Sialan. Gadis-gadis (dan yang sudah tidak gadis) teriak seakan mencapai klimaks, sembari memanggil nama Iga. Momen ini begitu menjatuhkan moral saya, dan moral pria-pria lain yang berada di ruangan itu. Damn you, Iga.

Too much awesomeness in one picture.
Too much awesomeness in one picture.

Iga dengan tampang coolnya langsung memandu TEB (kita sebut saja demikian) masuk ke lagu Ironman (Black Sabbath), yang langsung dimedley dengan Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana dan Seven Nation Army milik The White Stripes. Keren bangat. Awsem.

Eargasm.

Panitia sepertinya sudah paham benar dengan dampak buruk suara hingar bingar TEB dan Iga ke kuping penonton, maka penampil selanjutnya dipilih yang mendayu-dayu dan lembut : Payung Teduh.

Beberapa minggu sebelumnya, saya baru saja melihat Payung Teduh di Salihara. Iya, di event yang sama dengan The Experience Brothers, Is dan kawan-kawan juga menghibur saya (yang ketika itu hampir tertidur saking damainya) dan beberapa puluh penonton lainnya di Teater Salihara.

Dan kali ini, tiga personil Payung Teduh betul-betul menghipnotis Upper Room malam itu. Apalagi dengan beberapa featuring yang istimewa, salah satunya adalah dengan Icha (entah siapa), yang berkolaborasi dengan Is membawakan single baru Payung Teduh, “Mari Bercerita“.

Rasanya nyep banget.

DSC_0102Dan bukan cuma itu! (udah kayak di TV Media). Ternyata Payung Teduh juga membawa Ade Paloh ke panggung malam itu. Yes, pentolan Sore yang menghilang entah kemana, tiba-tiba muncul bersama Payung Teduh bawain “Menuju Senja”.

Istimewa buat saya, karena Sore sendiri sudah lama tidak terdengar melakukan pertunjukan musik, baik di Jakarta ataupun di kota lain.

Suara Ade Paloh (yang sebetulnya ngga terlalu merdu itu) terasa pas. Renyah. Tapi khas.

Lelah dengan riuh rendah di panggung dalam, kami beranjak turun untuk mengisi perut. Di panggung luar, sebuah band entah-apa-namanya-dan-darimana-asalnya sedang perform. Saya memilih menikmati takoyaki dan es teh yang overpriced di booth-booth yang telah disediakan oleh panitia.

Melihat-lihat pemandangan sebentar (ada Iga Massardi dan Warman lagi ngobrol. Damn it.), sambil beberapa dedek-dedek berbaju minim lalu lalang, kami memutuskan untuk melanjutkan ke dalam. Sesuai jadwal, ada The Adams sedang manggung sekarang.

The Adams sendiri baru beberapa hari sebelumnya menjadi band pembuka konser Bloc Party di Jakarta. Buat saya, justru Bloc Party lah yang menjadi band penutup konser The Adams.

Sinting as usual, begitulah The Adams. Ngga terasa sama sekali bahwa mereka baru saja didapuk menjadi band pembuka konser internasional, dan tidak ada kesan lelah. Benar-benar profesional.

Beberapa lagu hits mereka dibawakan dengan gegap gempita, seperti Halo Joni dan Hanya Kau. Ario, Beni, Tino dan kawan-kawan tahu benar bagaimana cara menaikkan tensi penonton yang sudah calm down setelah penampilan Payung Teduh tadi. Tak lama setelah kami kembali ke panggung dalam, The Adams menutup penampilannya dengan tembang lawas andalan mereka : Konservatif.

Next, dan yang paling bikin penasaran, adalah kembalinya Rumah Sakit ke panggung pertunjukan.

Ini Andri, sang vokalis.
Ini Andri, sang vokalis.

Band dari IKJ ini udah menghilang beberapa tahun lamanya, dan seharusnya sih mereka udah pada tua-tua sekarang. Ya minimal udah 40an lah. Dan itu terbukti dari menggembulnya Gorry sang drummer. :D

Andri, yang terlihat agak kikuk dan beler (mungkin setelah sekian lama tidak naik panggung), berhasil membawakan beberapa lagu lawas yang saya tidak tahu judulnya. Saya bilang berhasil, karena penampilannya sangat tidak meyakinkan bahkan untuk bisa menyanyikan lagu Burung Kakatua dari awal hingga selesai. :D

Yang pasti, dia selalu menyebut judul lagu di awal sebelum ia mulai bernyanyi. Beberapa sempat terdengar oleh saya, antara lain Anomali dan Kuning.

Luar biasa bagaimana sebuah band yang terbentuk lebih dari 20 tahun lalu masih eksis hingga saat ini. Musik mereka masih terus terngiang-ngiang, terlihat dari betapa antusiasnya penonton menyanyikan lagu Anomali bersama-sama.

They do really have true fans. For real.

Sayang sekali waktu pertunjukan yang agak molor membuat saya harus segera meninggalkan Annex Building. Sudah jam 11 malam, dan pemuncak utama yang saya tunggu-tunggu, Efek Rumah Kaca, belum juga akan tampil.

Mungkin lain kali, Cholil Mahmud dkk. :)

Saya pun pulang dengan tersenyum lebar dan kuping yang pengang. Pengalaman mendengarkan pertunjukan musik secara langsung itu, jauh lebih berharga ketimbang uang Rp50.000 yang digelontorkan untuk membeli tiket. You might own the CDs, but you’ll never own the experience, until you come to their gigs. 

And I’m so lucky to have both. :)

One thought on “3rd Music Gallery : Time Machine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s